Pembiayaan rumah di Indonesia masih bergerak besar, dan BTN menjadi salah satu motor utamanya. Hingga Rabu (15/4/2026), bank pelat merah itu telah menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah senilai Rp530 triliun untuk 6 juta unit hunian.
Skala tersebut diperkirakan mendukung kepemilikan rumah bagi sekitar 24 juta jiwa. Perhitungan itu memakai asumsi empat orang menghuni satu unit rumah, sebagaimana dijelaskan Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu.
KPR Masih Jadi Penopang Utama
Di tengah tingginya kebutuhan tempat tinggal, penyaluran KPR tetap menjadi inti bisnis BTN. Kinerja itu juga terlihat dari data internal perusahaan pada Januari hingga Maret 2026, saat total kredit perumahan mencapai Rp329,93 triliun.
Angka tersebut tumbuh 5,9 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dalam portofolio itu, KPR menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp306,1 triliun.
Porsi KPR terhadap total kredit perumahan pada kuartal pertama 2026 tercatat mencapai 76,4 persen. Pertumbuhannya pun berada di level 6,8 persen secara tahunan, menunjukkan permintaan pembiayaan rumah masih kuat.
Dominasi KPR Subsidi Masih Terlihat
BTN mencatat segmen KPR subsidi tetap lebih besar dibandingkan non-subsidi. Nilai KPR subsidi berada di level Rp193,55 triliun, sedangkan KPR non-subsidi tercatat Rp112,56 triliun.
Jika dilihat dari laju pertumbuhan tahunan, KPR subsidi naik 7,7 persen dan KPR non-subsidi bertambah 5,4 persen. Komposisi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan pembiayaan rumah terjangkau masih mendominasi pasar.
Berikut rincian portofolio BTN pada periode tersebut:
- Total kredit perumahan: Rp329,93 triliun, tumbuh 5,9 persen.
- KPR total: Rp306,1 triliun, tumbuh 6,8 persen.
- KPR subsidi: Rp193,55 triliun, tumbuh 7,7 persen.
- KPR non-subsidi: Rp112,56 triliun, tumbuh 5,4 persen.
Tambahan Kuota dari Pemerintah
Pada periode berjalan, BTN juga memperoleh tambahan alokasi kuota pembiayaan menjadi 220.000 unit rumah dari pemerintah. Tambahan ini memberi ruang lebih luas bagi penyaluran kredit, terutama untuk masyarakat yang masih membutuhkan skema pembiayaan yang terjangkau.
Langkah tersebut menegaskan bahwa sektor perumahan masih menjadi bagian penting dalam kebijakan pembiayaan nasional. Di saat yang sama, kapasitas penyaluran kredit yang lebih besar dapat memperluas akses kepemilikan rumah bagi lebih banyak keluarga.
Dampak Ekonomi yang Meluas
BTN menilai pembiayaan rumah tidak hanya berdampak pada kepemilikan hunian, tetapi juga menggerakkan banyak sektor lain. Sekitar 90 persen bahan baku perumahan disebut berasal dari dalam negeri, sehingga aktivitas KPR ikut menghidupkan rantai pasok lokal.
Nixon juga menyampaikan bahwa sektor perumahan nasional berpotensi membuka peluang kerja bagi 12,5 juta orang di seluruh rantai industri terkait. Ia menambahkan bahwa setiap tambahan capital injection sebesar Rp1 triliun di industri ini dapat melibatkan 8.000 pekerja.
Efeknya menjalar ke industri bahan bangunan, konstruksi, logistik, hingga penerimaan negara dari pajak transaksi properti. Dengan capaian Rp530 triliun untuk 6 juta rumah, BTN menunjukkan bahwa pembiayaan perumahan masih memegang peranan besar dalam memenuhi kebutuhan hunian sekaligus menjaga pergerakan ekonomi di sektor riil.
