Kewaspadaan terhadap hantavirus kini menguat karena virus ini memang berasal dari hewan pengerat dan dapat masuk ke tubuh manusia lewat paparan lingkungan yang terkontaminasi. Risiko utamanya bukan pada penularan antarmanusia seperti penyakit pernapasan pada umumnya, melainkan dari kontak dengan sumber yang membawa virus.
Di banyak wilayah, hantavirus sering tidak terlihat di permukaan karena hewan pembawanya bisa tampak sehat. Namun pada manusia, dampaknya dapat sangat berat dan bergantung pada jenis virus serta lokasi paparan.
Risiko yang datang dari tikus dan lingkungan sekitar
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan hantavirus sebagai virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat. Pada hewan, virus ini tidak selalu menimbulkan gejala, tetapi manusia bisa jatuh sakit serius setelah terpapar.
Penularan umumnya terjadi lewat urine, saliva, atau feses hewan terinfeksi. Virus juga dapat masuk melalui luka pada kulit atau melalui selaput lendir di mata, hidung, dan mulut.
Karena itu, area yang sering menjadi sarang tikus menjadi titik perhatian utama. Gudang, rumah kosong, dan tempat yang kotor dapat meningkatkan peluang terhirupnya partikel udara yang terkontaminasi.
Gejala yang tidak selalu sama di setiap tempat
Tingkat keparahan hantavirus tidak seragam di semua wilayah. Di Amerika, virus ini dapat menyebabkan hantavirus cardiopulmonary syndrome atau HCPS yang menyerang paru-paru dan jantung dengan perkembangan cepat.
Sementara itu, di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering memicu hemorrhagic fever with renal syndrome atau HFRS. Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah sehingga membutuhkan pemantauan medis yang ketat.
Perbedaan inilah yang membuat pembahasan tentang hantavirus tidak bisa disamaratakan. Jenis virus dan wilayah penularannya sangat menentukan gambaran penyakit yang muncul.
Mengapa kasus MV Hondius menarik perhatian dunia
Nama hantavirus kembali ramai setelah tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius dilaporkan meninggal saat kapal berlayar di Samudera Atlantik. Peristiwa pada kapal wisata yang semestinya aman itu langsung memicu perhatian kesehatan internasional.
WHO kemudian turun tangan untuk melakukan investigasi atas dugaan kaitan kasus tersebut dengan hantavirus. Situasi itu membuat publik semakin waspada terhadap potensi penyebaran yang lebih luas.
Kekhawatiran tersebut juga muncul karena hantavirus selama ini bukan virus yang sering dibicarakan publik. Begitu ada kasus yang dikaitkan dengan kematian, perhatian pun bergerak cepat ke arah risiko kesehatan global.
Tidak semua jenisnya berbahaya bagi manusia
Hantavirus berada dalam keluarga Hantaviridae pada ordo Bunyavirales. Setiap jenis biasanya memiliki hewan pengerat tertentu sebagai reservoir alami, tempat virus hidup tanpa menimbulkan gejala.
WHO mencatat hanya sebagian kecil jenis hantavirus yang diketahui menyebabkan penyakit pada manusia. Artinya, keberadaan virus ini di alam tidak otomatis berujung pada kasus pada manusia.
Meski begitu, paparan yang tepat tetap bisa menimbulkan penyakit serius. Itulah sebabnya hantavirus tetap dipandang sebagai ancaman yang patut diwaspadai meski tidak umum.
Beban kasus memang jarang, tetapi dampaknya berat
Secara global, hantavirus tergolong jarang, namun beban penyakitnya tetap besar. WHO memperkirakan ada 10.000 hingga lebih dari 100.000 infeksi setiap tahun di seluruh dunia.
Di Asia Timur seperti China dan Korea Selatan, HFRS masih menyebabkan ribuan kasus setiap tahun meski trennya cenderung menurun. Di Eropa, beberapa ribu kasus juga dilaporkan setiap tahun, terutama di wilayah utara dan tengah.
Di Amerika, HCPS memang lebih jarang dengan ratusan kasus per tahun. Namun tingkat kematiannya sekitar 20% hingga 40%, sehingga penyakit ini tetap dinilai serius.
Kondisi di Indonesia ikut dipantau
Kementerian Kesehatan menegaskan strain hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus di MV Hondius. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut strain di Indonesia didominasi Seoul virus, bukan Andes virus yang dapat menular antarmanusia.
Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni, juga menegaskan belum ditemukan kasus HPS di Indonesia. Menurutnya, kasus yang terdeteksi adalah tipe HFRS dan terus dipantau melalui sistem surveilans nasional.
Indonesia juga sempat menerima notifikasi resmi dari International Health Regulation National Focal Point Inggris terkait seorang warga negara asing berusia sekitar 60 tahun yang tinggal di Jakarta Pusat. Orang itu memiliki riwayat kontak erat dengan pasien klaster MV Hondius, sehingga investigasi epidemiologi dilakukan untuk mencegah risiko penyebaran lebih lanjut.
Langkah pencegahan tetap sederhana namun penting
Kemenkes menyebut hantavirus banyak ditemukan pada hewan pengerat seperti tikus, tupai, hamster, dan marmut. Di Indonesia, beberapa tikus yang sudah terkonfirmasi sebagai pembawa antara lain Rattus norvegicus, Rattus tanezumi, Rattus tiomanicus, Rattus exulans, Rattus argentiventer, Mus musculus, Bandicota indica, dan Maxomys surifer.
Gigitan tikus juga bisa menjadi jalur penularan, meski kasus seperti ini jarang terjadi. Sampai saat ini, belum ada laporan penularan hantavirus antarmanusia di Indonesia.
Karena itu, kewaspadaan tetap bertumpu pada kebersihan lingkungan dan upaya menghindari kontak dengan area yang berpotensi menjadi sarang tikus. Langkah ini menjadi cara paling masuk akal untuk menekan risiko sejak awal.
Source: www.beritasatu.com






