Ruam Usai Susu Tak Boleh Dianggap Sepele, Alergi Susu Sapi Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Author: Redaksi Android62

Alergi protein susu sapi dapat mengganggu kecukupan nutrisi anak dan berdampak pada tumbuh kembang bila tidak dikenali sejak awal. Keluhan seperti ruam berulang, diare, muntah, perut kembung, dan anak yang menjadi lebih rewel setelah minum susu perlu dicermati serius.

Masalahnya, gejala tersebut kerap disangka gangguan pencernaan biasa. Akibatnya, sebagian orang tua mengganti susu tanpa arahan dokter, padahal penanganan yang keliru bisa membuat kondisi anak tidak kunjung membaik.

Gejala yang sering disalahartikan

Alergi protein susu sapi tidak selalu muncul dengan reaksi yang tampak berat. Pada banyak anak, tanda awalnya justru terlihat ringan dan berulang sehingga mudah diabaikan.

Ruam yang menetap, diare yang tidak kunjung membaik, muntah, perut kembung, serta perubahan perilaku setelah minum susu menjadi sejumlah tanda yang perlu diwaspadai. Jika pola keluhan itu muncul berulang, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Bukan keluhan yang jarang ditemukan

Studi yang dipublikasikan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition menyebut prevalensi alergi susu sapi di dunia berada pada kisaran 2 hingga 7,5 persen. Ikatan Dokter Anak Indonesia juga mencatat angka kejadian di Indonesia dapat mencapai 7,5 persen.

Data itu menunjukkan bahwa alergi susu sapi bukan kondisi yang langka. Karena itu, setiap reaksi setelah anak mengonsumsi susu atau produk turunannya sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah pencernaan biasa.

Diagnosis dini harus berada di bawah pengawasan dokter

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A, Subsp.A.I (K), menegaskan bahwa setiap anak memiliki kondisi yang berbeda sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan. Seluruh proses mulai dari diagnosis hingga pemilihan nutrisi harus berada di bawah pengawasan dokter anak.

ASI tetap menjadi nutrisi terbaik bagi anak, termasuk pada anak dengan alergi protein susu sapi. Namun, ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan sesuai anjuran medis.

Pilihan formula perlu disesuaikan dengan tingkat keluhan

Untuk anak dengan alergi ringan hingga sedang, formula terhidrolisa ekstensif atau extensively hydrolyzed formula (eHF) umumnya direkomendasikan. Pada kasus yang lebih berat atau saat gejala tidak membaik dengan eHF, formula berbasis asam amino atau amino acid formula (AAF) dapat diberikan.

Formula berbasis soya juga dapat menjadi alternatif pada kasus ringan hingga sedang, terutama bila ada kendala biaya atau ketersediaan eHF. Sebaliknya, susu terhidrolisat parsial atau partially hydrolyzed formula (PHF) bukan pilihan terapi untuk alergi protein susu sapi.

Mengapa label produk tidak cukup

Pemilihan formula tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan label kemasan. Dokter perlu memastikan pilihan yang tepat agar pertumbuhan anak tetap terjaga dan gejala alergi tidak berlanjut.

Sejumlah studi menunjukkan eHF berbasis whey memiliki tingkat toleransi yang tinggi dan rasa yang lebih mudah diterima anak, sehingga dapat membantu kepatuhan konsumsi. Sementara itu, AAF diketahui mampu membantu meredakan gejala alergi dengan cepat dengan risiko reaksi alergi yang sangat minimal.

Pada formula berbasis soya, pemenuhan nutrisi penting juga harus tetap diperhatikan. Nutrisi seperti omega-3 dan omega-6, AA, DHA, minyak ikan tuna, zat besi, serta vitamin C tetap dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang optimal.

Dampak jika terlambat ditangani

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengatakan alergi protein susu sapi tidak hanya memengaruhi kondisi fisik anak. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini juga dapat berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.

Ia menjelaskan bahwa tata laksana yang tidak tepat bisa mengganggu kecukupan asupan nutrisi yang dibutuhkan anak. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat meningkatkan risiko stunting, bahkan sejumlah studi menunjukkan risikonya dapat mencapai 24 persen pada anak dengan alergi protein susu sapi.

Dampaknya juga bisa meluas ke aspek psikologis, sosial, dan finansial. Bagi keluarga, pengelolaan sehari-hari pun dapat menjadi lebih menantang bila gejala tidak dikenali sejak awal.

Edukasi untuk mencegah diagnosis sendiri

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi menekankan bahwa orang tua perlu mengenali gejala sejak dini dan menghindari diagnosis sendiri. Konsultasi dengan dokter spesialis anak menjadi langkah penting untuk memastikan diagnosis yang tepat sekaligus menjaga kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.

Melalui inisiatif SADAR Alergi, edukasi berbasis sains terus didorong lewat kanal digital dan komunitas agar orang tua memperoleh informasi yang benar. Menjelang World Allergy Week 2026 dengan tema Allergy Care is Essential Care, program ini kembali diperkuat untuk meningkatkan edukasi tentang deteksi dini alergi susu sapi.

Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw, menyebut masih banyak orang tua yang belum menyadari gejala alergi susu sapi sehingga kerap melakukan diagnosis sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis. Karena itu, deteksi dini dan arahan dokter tetap menjadi kunci agar anak memperoleh penanganan yang sesuai.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru