Ruang Budaya Tak Perlu Jauh Dari Publik, Kuliner Jadi Pintu Masuk yang Efektif

Author: Redaksi Android62

Budaya dinilai tidak harus disimpan jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI Ahmad Mahendra menegaskan bahwa art space justru akan lebih relevan jika menyatu dengan ruang publik dan modernitas.

Pandangan itu tampak dalam kehadiran ruang kreatif yang memadukan budaya, kuliner, dan aktivitas harian masyarakat. Salah satu contoh yang disorot adalah The Banjoemas Resto & Cafe di kawasan Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, yang menggabungkan sajian khas Banyumas dengan suasana ruang budaya.

Kuliner dipilih sebagai pintu masuk

Dalam acara grand opening The Banjoemas Resto & Cafe di TIM, Ahmad Mahendra menyebut inisiatif semacam ini sebagai langkah yang “jenius” karena membawa budaya lebih dekat ke publik. Pendekatan itu dinilai lebih efektif dibandingkan menempatkan budaya hanya di ruang formal yang kaku.

Melalui cara tersebut, masyarakat bisa mengenal identitas daerah lewat pengalaman yang akrab dan ringan. Dari makanan, apresiasi terhadap budaya dapat tumbuh tanpa terasa berjarak dari kehidupan kota.

Banyumas dikenalkan lewat rasa dan karya

Kemenbud mendorong pengenalan budaya melalui pendekatan yang lebih lunak atau soft approach. Kuliner menjadi jalur yang dipandang paling mudah karena orang dapat langsung merasakan identitas daerah melalui makanan.

Banyumas memiliki kekayaan cita rasa yang kuat, mulai dari sroto, mendoan, hingga cimplung. Dari sana, pengenalan budaya bisa berkembang ke bentuk kesenian lain yang juga lahir dari wilayah tersebut.

Ahmad Mahendra menjelaskan bahwa pengenalan itu tidak berhenti di meja makan. Dari kuliner, publik dapat diarahkan untuk mengenal seni pertunjukan seperti tari ronggeng dan lengger, sekaligus karya budaya lain seperti film Gowok.

Ruang pertunjukan perlu lebih dekat

Ia juga mendorong agar pertunjukan budaya hadir lebih sering di ruang publik. Menurutnya, lengger misalnya, bisa tampil di ruang-ruang terbuka dan tidak hanya di tempat yang selama ini sudah dikenal sebagai pusat aktivitas seni.

Gagasan itu sejalan dengan pandangan bahwa art space di Jakarta tidak perlu terpusat pada satu lokasi tertentu. Ruang budaya dapat tumbuh di berbagai titik yang lebih dekat dengan masyarakat agar akses dan jangkauannya lebih luas.

Identitas Banyumas dibawa ke tingkat nasional

The Banjoemas Resto & Cafe dibentuk oleh para alumni Universitas Jenderal Soedirman dan berada di bawah koperasi bernama Koperasi Bebrayan Akshaya Soedirman. Ketua Umum Keluarga Alumni Unsoed Abdul Kholik mengatakan pihaknya ingin membawa identitas Banyumas ke tingkat nasional.

Ia menilai budaya lokal perlu dihargai dari banyak sisi, bukan hanya dari kuliner, tetapi juga dari estetika dan etos yang terkandung di dalamnya. Cara pandang itu penting agar budaya daerah tidak berhenti sebagai produk rasa, melainkan juga dipahami sebagai bagian dari karakter masyarakat.

Abdul Kholik menambahkan bahwa perkumpulan alumni itu telah tersebar di berbagai daerah. Meski tidak semua anggotanya berasal dari Banyumas, mereka tetap memiliki keterikatan dan memori terhadap daerah tersebut, terutama lewat kuliner seperti mendoan.

Harapan serupa muncul agar semakin banyak orang mengenal budaya daerah melalui makanan dan ruang kreatif. Mendoan khas Banyumas sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan, sementara tempe masih terus diupayakan untuk memperoleh pengakuan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Dengan begitu, ruang budaya, kuliner, dan aktivitas publik bisa berjalan bersama sebagai pintu masuk untuk mengenalkan identitas daerah. Model seperti The Banjoemas Resto & Cafe menunjukkan bahwa art space dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat tanpa kehilangan nilai kebudayaannya.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru