Masyarakat bisa mengenali uang rupiah asli dengan cara sederhana yang disebut metode 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang. Langkah ini penting karena uang palsu sering lolos saat transaksi berlangsung cepat dan tanpa pemeriksaan yang cukup.
Bank Indonesia mengimbau masyarakat membiasakan pengecekan langsung setiap kali menerima uang tunai. Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali juga menegaskan bahwa masyarakat punya peran besar dalam mencegah peredaran uang rupiah palsu.
Cara paling mudah mengecek uang rupiah
Metode 3D menjadi cara praktis untuk membedakan uang asli dan uang palsu tanpa alat khusus. Pemeriksaan ini bisa dilakukan saat transaksi berlangsung, termasuk ketika menerima uang di tempat ramai atau dalam keadaan terburu-buru.
Langkah pertama adalah dilihat. Perhatikan warna, gambar, dan detail cetakan pada lembar uang, karena rupiah asli umumnya tampak lebih jelas dan tegas. Setelah itu, uang perlu diraba untuk merasakan bagian angka nominal dan gambar utama yang pada uang asli terasa kasar dan timbul.
Tahap berikutnya adalah diterawang. Arahkan uang ke cahaya untuk melihat elemen tersembunyi yang seharusnya muncul pada uang asli, seperti gambar pahlawan nasional atau logo tertentu.
Tanda-tanda uang asli yang mudah dikenali
Uang rupiah asli memiliki sejumlah ciri keamanan yang dapat diamati dengan teliti. Benang pengaman pada uang asli tampak utuh dan akan menyala saat disinari ultraviolet.
Logo Bank Indonesia juga terlihat jelas dan utuh ketika uang diterawang ke arah cahaya. Pada beberapa bagian, uang asli menampilkan fitur perubahan warna atau color shifting saat dilihat dari sudut yang berbeda.
Tekstur juga menjadi pembeda penting. Bagian tertentu pada uang asli terasa kasar dan timbul, sementara di sisi kanan dan kiri terdapat kode tunanetra berupa tekstur khusus.
Ciri uang palsu yang perlu diwaspadai
Uang palsu biasanya memperlihatkan tanda yang berbeda dari rupiah asli. Warnanya cenderung kusam dan pucat, lalu permukaannya terasa halus seperti kertas biasa.
Benang pengaman pada uang palsu umumnya tidak timbul dan tidak berubah warna. Saat diterawang, uang palsu juga tidak menampilkan gambar atau logo yang seharusnya terlihat pada uang asli.
Tinta pada uang palsu lebih mudah luntur ketika terkena air. Di bawah sinar ultraviolet, uang palsu pun tidak berpendar seperti uang asli yang memiliki fitur keamanan khusus.
Pencegahan dimulai dari kebiasaan kecil
Pemeriksaan uang sebaiknya dilakukan langsung saat transaksi agar risiko menerima uang palsu bisa ditekan. Kebiasaan ini membantu masyarakat lebih waspada, terutama saat berhadapan dengan transaksi tunai yang serba cepat.
Bank Indonesia bersama Polri dan Badan Koordinasi Pemberantasan Rupiah Palsu belum lama ini memusnahkan 466.535 lembar uang rupiah palsu. Langkah itu dilakukan untuk menjaga kepercayaan publik terhadap rupiah sekaligus menekan peredaran uang palsu di Indonesia.
Dengan membiasakan diri melihat, meraba, dan menerawang uang yang diterima, masyarakat bisa lebih cepat mengenali perbedaan antara rupiah asli dan palsu. Semakin sering cara ini dilakukan, semakin mudah pula ciri keaslian uang rupiah dipahami dalam transaksi sehari-hari.
Source: www.medcom.id






