Rupiah masih menyimpan ruang penguatan yang cukup besar, tetapi arah itu sangat bergantung pada apakah kebijakan fiskal dan moneter dapat bergerak seirama. Di tengah tekanan eksternal yang belum mereda, pasar disebut akan lebih cepat percaya jika pemerintah dan Bank Indonesia menyampaikan sinyal yang konsisten, jelas, dan mudah dibaca.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai rupiah saat ini justru masih lebih lemah daripada kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Ia melihat fondasi domestik tetap relatif solid karena inflasi terjaga, perbankan sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih bertahan.
Rupiah menanggung beban tekanan yang menumpuk
Pelemahan rupiah terjadi ketika banyak tekanan ekonomi akhirnya bermuara ke nilai tukar. Situasi ini terlihat saat harga energi naik akibat konflik Timur Tengah, sementara berbagai biaya domestik tidak sepenuhnya diteruskan agar daya beli masyarakat tetap terlindungi.
Dalam kondisi seperti itu, rupiah menjadi penahan guncangan utama. Fakhrul menjelaskan bahwa ketika inflasi dan harga energi tidak dialirkan penuh ke sektor lain, beban justru terkonsentrasi pada kurs dan membuat nilai tukar lebih rentan terhadap sentimen pasar.
Biasanya, kenaikan harga energi global akan menyebar ke banyak sisi sekaligus. Dampaknya dapat terasa pada inflasi, fiskal, harga domestik, hingga nilai tukar, tetapi kali ini sebagian penyesuaian ditahan sehingga tekanan tertahan di rupiah.
Bank Indonesia dinilai mulai memberi sinyal lebih tegas
Dari sisi moneter, Bank Indonesia dinilai sudah mulai bergerak lebih agresif. Kenaikan BI rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan dan memulihkan kepercayaan pasar.
Fakhrul juga melihat BI kembali memakai pendekatan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve seperti pada 2018. Pendekatan itu dinilai penting agar pasar melihat otoritas moneter serius menjaga stabilitas rupiah sekaligus inflasi jangka menengah.
Meski begitu, stabilisasi kurs tidak bisa diserahkan hanya kepada bank sentral. Jika moneter mengetat tetapi kebijakan fiskal dan komunikasi pemerintah tidak bergerak selaras, tekanan terhadap rupiah masih sulit berkurang.
Pasar butuh arah kebijakan yang mudah dibaca
Menurut Fakhrul, pasar lebih percaya pada kebijakan yang konsisten, kredibel, dan mudah dipahami. Karena itu, roadmap kebijakan dinilai penting supaya investor bisa membaca arah ekonomi dengan lebih pasti.
Ia menyoroti risiko ketika komunikasi kebijakan muncul mendadak saat sentimen pasar sedang negatif. Dalam situasi seperti itu, ketidakpastian justru bisa bertambah, apalagi ketika dunia masih menghadapi inflasi struktural, fragmentasi geopolitik, mahalnya energi, dan rantai pasok global yang rumit.
Karena kondisi global berubah, kebijakan fiskal Indonesia juga perlu menyesuaikan diri. Pasar disebut akan lebih tenang bila pemerintah dan BI menunjukkan arah yang sama dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Peluang penguatan masih terbuka
Di tengah tekanan eksternal, ruang rebound rupiah dinilai belum tertutup. Dengan kombinasi kebijakan yang lebih seimbang, Fakhrul melihat peluang penguatan mata uang domestik masih cukup besar.
Ia memperkirakan rupiah dapat menguat signifikan ke kisaran Rp 16.800-Rp 17.000 per dolar AS apabila policy mix membaik dan burden sharing antara fiskal serta moneter terlihat lebih seimbang. Harapan itu bertumpu pada koordinasi kebijakan yang tidak saling bertabrakan.
Mengutip Bloomberg pada Kamis (28/5/2026) pukul 13.56 WIB, rupiah spot berada di level Rp 17.847 per dolar AS saat pasar domestik libur cuti bersama Iduladha. Level tersebut menjadi pengingat bahwa pelaku pasar masih menunggu bukti koordinasi kebijakan ekonomi di dalam negeri.
Source: www.beritasatu.com