Rupiah kembali berada di bawah tekanan dan ditutup di level Rp 17.414 per dolar AS. Pelemahan ini muncul saat pasar menimbang memudarnya peluang damai antara Amerika Serikat dan Iran, sementara arah kebijakan global masih sarat ketidakpastian.
Di penutupan perdagangan, rupiah terkoreksi 32 poin atau 0,18% berdasarkan data Bloomberg. Sentimen risk-off ikut menguat karena pelaku pasar juga menunggu sederet data ekonomi penting dari AS yang berpotensi menggerakkan dolar lebih jauh.
Ketegangan Timur Tengah jadi perhatian utama
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai kebuntuan negosiasi AS-Iran masih menjadi faktor besar yang menekan rupiah. Ia merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut tanggapan Iran atas proposal perdamaian dari Washington “sama sekali tidak dapat diterima”.
Situasi itu membuat suasana pasar memburuk. Investor cenderung menahan diri ketika tensi geopolitik meningkat karena risiko terhadap kawasan dan aset berisiko ikut naik.
Isi proposal dan respons Iran makin memperlebar jarak
Dalam proposal awal, AS meminta Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, menghapus persediaan uranium, dan membongkar fasilitas nuklir utama. Sebagai gantinya, Washington menawarkan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.
Namun, Iran melalui mediator Pakistan disebut menolak sejumlah poin penting dalam tawaran tersebut. Tehran meminta pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan atas hak Iran untuk melanjutkan sebagian aktivitas nuklir.
Perbedaan sikap kedua pihak membuat peluang tercapainya kesepakatan damai semakin tipis. Kondisi ini menambah kekhawatiran pasar karena ketegangan di Timur Tengah dapat merembet ke stabilitas kawasan dan memengaruhi arah sentimen global.
Pasar menunggu data inflasi dan sinyal Federal Reserve
Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga fokus pada rilis data inflasi AS bulan April. Data yang menjadi perhatian meliputi indeks harga konsumen atau CPI dan indeks harga produsen atau PPI.
Pasar juga memantau data penjualan ritel serta pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve. Rangkaian informasi itu berpotensi mengubah ekspektasi terhadap arah suku bunga AS dan kekuatan dolar.
Dolar yang lebih kuat biasanya memberi tekanan tambahan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah. Karena itu, arah pergerakan rupiah berikutnya masih sangat bergantung pada respons pasar terhadap data ekonomi AS.
Dukungan domestik belum cukup menahan tekanan
Dari dalam negeri, survei Konsumen Bank Indonesia pada April 2026 menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih berada di zona optimistis. Indeks Keyakinan Konsumen tercatat 123,0, naik tipis dari 122,9 pada Maret 2026.
Bank Indonesia menjelaskan penguatan itu terutama ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini yang naik menjadi 116,5 dari 115,4. Indeks Ekspektasi Konsumen juga tetap berada di level optimistis 129,6, meski turun dari 130,4 pada Maret 2026.
Data tersebut menunjukkan konsumsi masih memiliki penopang dari sisi psikologi konsumen. Namun, dorongan dari faktor domestik belum cukup kuat untuk meredam tekanan eksternal yang sedang dominan di pasar valas.
Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif. Ia memproyeksikan rupiah masih berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp 17.410-Rp 17.460, seiring pasar terus mencermati arah negosiasi internasional dan data ekonomi AS.
Source: www.beritasatu.com