Rupiah Tembus Rp17.529 Per Dolar AS, Tekanan Minyak Dan Geopolitik Belum Mereda

Author: Redaksi Android62

Pelemahan rupiah pada perdagangan Selasa sore semakin menegaskan bahwa tekanan di pasar belum mereda. Mata uang Indonesia ditutup di level Rp17.529 per dolar AS di pasar spot, yang sekaligus menjadi rekor terburuk baru dan membuatnya kembali berada di atas area psikologis Rp17.500 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 115 poin atau 0,66 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.414. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor Bank Indonesia juga menempatkan rupiah di level Rp17.514 per dolar AS.

Di balik pelemahan itu, sentimen global masih menjadi faktor yang paling berat. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kenaikan harga minyak mentah dunia ikut menekan mata uang domestik.

Ia juga menyebut ketegangan geopolitik, terutama antara AS dan Iran, kembali membebani pasar. Harapan terhadap perdamaian yang makin redup membuat pelaku pasar cenderung menjauhi aset berisiko, dan kondisi seperti ini biasanya cepat terasa pada mata uang negara berkembang.

Tekanan tidak hanya datang dari luar negeri. Di pasar domestik, sentimen risk-off di ekuitas ikut menambah kehati-hatian investor dalam mengambil posisi.

Antisipasi pengumuman MSCI juga membuat pelaku pasar lebih memilih menunggu. Pada saat yang sama, data penjualan ritel Indonesia yang lebih rendah dari ekspektasi ikut memperburuk suasana perdagangan.

Lukman menilai pasar sekarang masih berada dalam fase menanti. Dua katalis yang dicermati adalah rilis data inflasi AS dan pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Donald Trump.

Sikap wait and see itu membuat ruang penguatan rupiah belum tampak jelas dalam waktu dekat. Menurut Lukman, belum ada pemicu positif yang cukup kuat untuk membalikkan tekanan yang sedang berlangsung.

Meski begitu, penguatan tetap bisa muncul bila Bank Indonesia melakukan intervensi agresif di pasar. Untuk sementara, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.450 hingga Rp17.600.

Kondisi rupiah juga sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya. Won Korea Selatan tercatat menjadi yang paling lemah dengan depresiasi 1,11 persen.

Setelah itu ada peso Filipina yang turun 0,56 persen, rupee India melemah 0,43 persen, dan baht Thailand terkoreksi 0,39 persen. Pergerakan serempak ini menunjukkan tekanan di kawasan berlangsung luas, bukan hanya dialami rupiah.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru