Rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin setelah turun 44 poin atau 0,24 persen ke level 18.109 per dolar AS. Tekanan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar mencermati kemungkinan gangguan pada jalur perdagangan energi dunia. Pada saat yang sama, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat tetap menjadi faktor lain yang menambah kehati-hatian investor.
Selat Hormuz Kembali Jadi Sumber Kekhawatiran
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ia menyebut kedua pihak kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone.
Menurut Ibrahim, “Teheran menargetkan fasilitas AS di negara-negara di seluruh Teluk pada hari Minggu dan mengatakan bahwa mereka telah kembali menutup Selat Hormuz.” Pernyataan itu memicu kekhawatiran baru karena selat tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.
Penutupan Selat Hormuz dinilai berpotensi mengganggu arus distribusi energi dunia. Jika gangguan itu berlanjut, harga energi global bisa tertekan naik dan memicu dorongan inflasi yang lebih besar.
Pasar Juga Menunggu Arah The Fed
Tekanan terhadap rupiah juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia. Pada Senin, JISDOR berada di level 18.131 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya di 18.069 per dolar AS.
Di sisi lain, pasar masih menimbang kemungkinan kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed tetap bertahan ketat. Prospek suku bunga tinggi di AS biasanya memperkuat dolar AS dan menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ibrahim menjelaskan bahwa risalah pertemuan Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu menunjukkan sebagian pembuat kebijakan menilai ada alasan untuk menaikkan suku bunga. Ia juga menyebut para pejabat umumnya lebih khawatir terhadap tekanan inflasi, meski kekhawatiran atas pasar tenaga kerja mulai mereda.
Kombinasi antara risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter AS membuat pelaku pasar tetap berhati-hati. Dalam beberapa waktu ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta sinyal berikutnya dari The Fed.
| Indikator | Posisi Terakhir | Perubahan |
|---|---|---|
| Rupiah | 18.109 per dolar AS | Turun 44 poin atau 0,24 persen |
| JISDOR Bank Indonesia | 18.131 per dolar AS | Turun dari 18.069 per dolar AS sebelumnya |
Dengan kondisi tersebut, rupiah masih berada dalam tekanan dari faktor eksternal yang saling menguatkan. Pasar kini menunggu apakah ketegangan di Selat Hormuz mereda atau justru semakin memperberat sentimen terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.
