Samsung menjadi satu-satunya merek besar yang berhasil tumbuh di pasar smartphone Asia Tenggara yang justru sedang melemah. Pada kuartal I, pengiriman ponsel di kawasan ini turun 9 persen secara tahunan menjadi 21,6 juta unit dari sebelumnya 23,7 juta unit.
Di tengah pasar yang menyusut, Samsung justru melesat ke posisi teratas. Vendor asal Korea Selatan itu mencatat shipment 4,6 juta unit, naik dari 4,4 juta unit pada periode yang sama sebelumnya, dengan pangsa pasar naik dari 19 persen menjadi 21 persen.
Omdia menilai penguatan Samsung ditopang oleh Galaxy S26 Series di kelas flagship dan penjualan Galaxy A Series yang tetap kuat di segmen menengah. Kombinasi keduanya membuat Samsung tetap mampu mengamankan momentum saat banyak pesaing lain justru bergerak turun.
Pesaing utama kompak melemah
Pergerakan berlawanan terlihat jelas pada merek-merek besar lain di kawasan ini. Oppo berada di posisi kedua dengan shipment 4,2 juta unit, tetapi angka itu turun tajam dari 5,1 juta unit pada kuartal I-2025.
Xiaomi menempati posisi ketiga dengan 3,7 juta unit. Dibandingkan 4,2 juta unit setahun sebelumnya, pengirimannya terkoreksi 12 persen dan pangsa pasarnya ikut turun dari 18 persen menjadi 17 persen.
Transsion, grup yang menaungi Infinix, Tecno, dan Itel, mencatat 3,4 juta unit. Volume itu lebih rendah dari 3,7 juta unit pada periode yang sama sebelumnya, meski pangsa pasarnya tetap berada di 16 persen.
Vivo melengkapi lima besar dengan 2,1 juta unit. Angka itu turun dari 2,8 juta unit pada kuartal I-2025 dan membuat pangsa pasarnya melemah dari 12 persen menjadi 9 persen.
Pasar menyusut, tetapi tidak semua pemain terdampak sama
Data Omdia menunjukkan penurunan pasar tidak otomatis memukul semua vendor dengan kekuatan yang sama. Saat total industri turun, Samsung justru berhasil memperbesar pangsa pasar, yang menandakan persaingan semakin ditentukan oleh kekuatan portofolio produk.
Di luar lima besar, kategori merek lain justru naik dari 3,5 juta unit menjadi 3,7 juta unit. Pangsa kelompok ini juga membesar dari 15 persen menjadi 17 persen, sehingga menunjukkan ruang pasar masih bisa dimanfaatkan oleh pemain di luar daftar utama.
Omdia juga menegaskan bahwa angka yang digunakan adalah sell-in shipment. Artinya, data itu menghitung perangkat yang dikirim vendor ke distributor, toko, atau kanal penjualan, bukan unit yang sudah dibeli konsumen akhir.
Karena itu, pergerakan shipment juga mencerminkan cara vendor mengatur pasokan. Saat pasar lebih berhati-hati, pengiriman yang lebih terukur bisa menjadi langkah untuk menahan stok dan menjaga efisiensi.
Harga rata-rata naik tajam
Di saat volume turun, harga jual rata-rata smartphone di Asia Tenggara justru naik. Omdia mencatat average selling price atau ASP kawasan ini mencapai 349 dollar AS per unit, naik 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang masih di bawah 300 dollar AS.
Kenaikan ini memperlihatkan bahwa pasar tidak hanya menghadapi pelemahan permintaan. Ada pula tekanan biaya yang mendorong vendor menyesuaikan strategi bisnis, termasuk dalam penentuan harga dan komposisi produk.
Menurut Omdia, lonjakan harga dipicu oleh naiknya biaya komponen memori seperti DRAM dan NAND. Kenaikan ongkos komponen itu kemudian menekan biaya produksi smartphone secara keseluruhan.
Dampaknya paling terasa di segmen entry-level dan menengah. Di kelas ini, komponen memori punya porsi biaya yang besar, sehingga perubahan harga komponen lebih cepat memengaruhi harga jual perangkat.
Dalam kondisi seperti ini, vendor tidak lagi semata-mata mengejar volume. Mereka mulai memilih langkah yang lebih defensif, seperti menaikkan harga jual, memangkas spesifikasi tertentu, atau mengatur suplai produk lebih ketat untuk menjaga margin keuntungan.
Research Manager Omdia, Le Xuan Chiew, mengatakan vendor smartphone kini lebih fokus menjaga profitabilitas dan menaikkan ASP ketimbang sekadar mengejar pertumbuhan volume. Arah itu menunjukkan bagaimana pasar bergerak ketika biaya produksi naik dan daya beli belum sepenuhnya pulih.
Tekanan diperkirakan belum cepat reda
Omdia memproyeksikan volatilitas harga dan suplai smartphone masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Vendor masih harus menghadapi keterbatasan pasokan komponen sambil menghitung dampak kenaikan harga terhadap minat beli konsumen.
Segmen ponsel murah diperkirakan menjadi yang paling rentan karena sangat sensitif terhadap perubahan harga. Situasi ini membuat pasar Asia Tenggara tetap berada dalam fase yang menantang, terutama bagi merek yang bergantung pada volume besar di kelas bawah.
Hasil kuartal I-2026 menunjukkan industri memang melemah, tetapi respons tiap merek tidak seragam. Di tengah penyusutan pasar, Samsung menjadi pemain yang paling berhasil memanfaatkan ruang yang tersisa.
