Ancaman senjata nuklir di orbit kini tidak lagi hanya dibicarakan sebagai kemungkinan teoretis. Sebuah metode verifikasi baru diusulkan untuk mendeteksinya dari luar angkasa dengan satelit kecil berukuran seperti kotak sepatu besar.
Usulan ini datang dari fisikawan nuklir MIT, Areg Danagoulian, dan dipublikasikan di jurnal Nature pada Rabu (8/7/2026). Tujuannya adalah menutup celah lama dalam Perjanjian Luar Angkasa yang melarang penempatan senjata nuklir di orbit, tetapi belum memiliki mekanisme pengawasan yang kuat.
Celah Pengawasan yang Lama Dikhawatirkan
Sejak 1967, Outer Space Treaty melarang penempatan senjata nuklir di orbit Bumi. Perjanjian itu telah diratifikasi 118 negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia.
Masalahnya, belum ada sistem yang benar-benar mampu memastikan apakah sebuah satelit membawa senjata nuklir atau tidak. Kekosongan verifikasi inilah yang dinilai membuka ruang pelanggaran sulit dibuktikan, sebagaimana disorot oleh www.beritasatu.com.
Kekhawatiran itu ikut menguat setelah AS menuding Rusia mengembangkan senjata nuklir berbasis antariksa. Salah satu yang menjadi sorotan adalah satelit Kosmos 2553, yang diluncurkan Rusia pada Februari 2022 ke orbit sekitar 2.000 kilometer.
Ledakan di Orbit Bisa Melumpuhkan Banyak Satelit
Menurut Danagoulian, ledakan nuklir di orbit tidak hanya merusak satu target. Radiasi berenergi tinggi bisa menghantam ribuan satelit sekaligus, termasuk satelit komunikasi, konstelasi internet, satelit pengamatan Bumi, dan misi luar angkasa lain.
Ia menjelaskan bahwa ledakan semacam itu dapat membuat orbit Bumi rendah dan orbit Bumi yang sangat rendah tidak dapat dihuni dalam waktu lama. “Kami pada dasarnya tidak hanya akan kehilangan satelit dalam orbit tersebut, kita akan kehilangan orbit tersebut selama beberapa tahun,” ujarnya.
Pelajaran dari Uji Coba Starfish Prime
Risiko tersebut bukan hal baru dalam sejarah antariksa. Pada 1962, Amerika Serikat menguji bom hidrogen berkekuatan 1,4 megaton dalam operasi Starfish Prime di ketinggian sekitar 400 kilometer di atas Samudra Pasifik.
Ledakan itu menghancurkan sekitar sepertiga satelit yang saat itu mengorbit Bumi. Dengan jumlah satelit yang kini jauh lebih banyak, dampak dari ledakan serupa diperkirakan akan jauh lebih luas.
| Peristiwa | Keterangan | Dampak |
|---|---|---|
| Starfish Prime | Uji bom hidrogen 1,4 megaton pada 1962 | Merusak sekitar sepertiga satelit yang mengorbit Bumi saat itu |
| Potensi ledakan di orbit | Senjata nuklir diledakkan di orbit Bumi | Berisiko menghantam ribuan satelit dan membuat orbit tertentu tidak layak dipakai selama bertahun-tahun |
Cara Satelit Kecil Itu Mendeteksi Ancaman
Danagoulian mengusulkan konstelasi satelit kecil 9U CubeSat untuk menjalankan fungsi inspeksi. Alih-alih mencari bom secara langsung, satelit itu akan menangkap jejak radiasi khas dari interaksi uranium di dalam senjata nuklir dengan proton berenergi tinggi di Sabuk Van Allen.
Fenomena tersebut disebut spalasi neutron yang diinduksi proton, yaitu saat tumbukan proton melepaskan neutron dari inti atom uranium. Menurut Danagoulian, senjata termonuklir mengandung uranium dalam jumlah besar sehingga menghasilkan tanda radiasi yang khas.
Sensor Neutron dan Detektor Berlian
Satelit inspeksi itu akan membawa dua jenis sensor yang bekerja bersama. Scintillator neutron menjadi sensor utama untuk mendeteksi neutron dan proton dari berbagai arah, sedangkan detektor berlian berfungsi menyaring gangguan karena hanya merespons neutron.
| Komponen | Fungsi | Keterangan |
|---|---|---|
| Scintillator neutron | Mendeteksi neutron dan proton dari berbagai arah | Menjadi sensor utama |
| Detektor berlian | Menyaring gangguan dari proton dan elektron | Hanya merespons neutron |
Jika detektor berlian eksternal memicu sinyal, partikel itu dapat diabaikan karena kemungkinan besar adalah proton. Begitu neutron teridentifikasi, sistem dapat memproyeksikan arah asalnya dan memperkirakan dari mana sinyal itu datang.
Harus Sangat Dekat agar Data Cukup
Dalam simulasi Danagoulian, satelit inspeksi perlu berada sekitar 4 kilometer dari satelit yang dicurigai. Jika posisi itu dipertahankan selama sekitar satu minggu, sensor disebut cukup untuk mengumpulkan data guna memastikan ada atau tidaknya senjata termonuklir.
Bila beberapa satelit inspeksi digunakan bersamaan, proses identifikasi bisa dipercepat menjadi hanya beberapa jam dalam satu lintasan. Namun, pakar astrodinamika Georgia Tech Thomas González Roberts menilai manuver sedekat itu membawa risiko tabrakan jika tidak ada koordinasi yang baik antarpengelola satelit.
Sabuk Van Allen Sekaligus Jadi Sumber Sinyal
Lokasi yang dianggap berbahaya bagi satelit justru menjadi bagian penting dari metode ini. Danagoulian menyebut Sabuk Van Allen sebagai tempat yang buruk untuk menempatkan satelit, tetapi justru cocok untuk mendeteksi senjata nuklir.
Ia menjelaskan bahwa radiasi di kawasan itu terperangkap oleh medan magnet Bumi, sehingga ledakan nuklir berpotensi menghancurkan satelit di orbit yang lebih rendah. Pada saat yang sama, proton berenergi tinggi di sana menyediakan sinyal yang bisa ditangkap untuk mendeteksi keberadaan senjata nuklir.
Masih Butuh Verifikasi dan Pengamanan
Roberts menilai pendekatan ini menarik, tetapi penerapannya tetap menuntut manuver sangat dekat ke target. Karena itu, ia menyebut teknologi seperti ini lebih cocok dipakai sebagai bagian dari mekanisme verifikasi resmi dalam perjanjian internasional.
Jika senjata nuklir berhasil terdeteksi, pilihan untuk menjinakkannya masih sangat terbatas. Danagoulian mengatakan salah satu langkah yang mungkin dilakukan adalah mengganggu komunikasi satelit dari Bumi agar perangkat itu tidak bisa diaktifkan dari jarak jauh.
Sampai sekarang, belum ada teknologi yang mampu menjinakkan senjata nuklir di luar angkasa secara aman. Selain metode berbasis neutron ini, para peneliti sebelumnya juga pernah mengusulkan satelit pendeteksi sinar-X, tetapi pendekatan itu dinilai lebih rumit dan lebih mahal.
Ilmuwan politik Secure World Foundation, Victoria Samson, menilai mekanisme verifikasi semacam ini sangat penting untuk memastikan kepatuhan pada perjanjian internasional. “Sangat penting untuk memiliki mekanisme verifikasi. Hal ini bukan hanya masalah, ‘Kami meminta Anda untuk tidak melakukan ini,’ itu seperti, ‘Kami dapat mengetahui apakah Anda memiliki sesuatu di atas sana,’.” ujarnya.
Jika berhasil dikembangkan, sistem ini berpotensi mengubah larangan di atas kertas menjadi aturan yang benar-benar bisa diperiksa dari orbit. Bagi negara-negara penandatangan Perjanjian Luar Angkasa, inilah salah satu upaya paling konkret untuk memastikan ruang angkasa tetap bebas dari senjata nuklir.
Source: www.beritasatu.com






