Di pusat kota Vancouver, Science World kini tampil sebagai salah satu citra paling mencolok selama Piala Dunia. Kubah ikonik bangunan itu dibungkus menjadi replika bola sepak raksasa setinggi 17 lantai, dan hasilnya langsung mendominasi gambar siaran televisi serta unggahan media sosial.
Perubahan visual itu bukan sekadar hiasan turnamen. Sejumlah pihak di kota tersebut melihatnya sebagai cara paling efektif untuk memanfaatkan kehadiran Piala Dunia di Vancouver dan mengubah Science World menjadi latar yang mudah dikenali publik.
Proyek yang berangkat dari ide sederhana
Gagasan membungkus kubah Science World sempat terdengar seperti lelucon, tetapi justru dinilai masuk akal karena bentuk bangunannya memang sudah menyerupai bola besar di atap. Diskusi mengenai ide itu melibatkan Science World, stadion, dan pejabat kota sebelum akhirnya diwujudkan.
Adidas, pembuat bola resmi Piala Dunia, menyetujui penggunaan replika tersebut. Pendanaan proyek juga dibantu oleh sejumlah bisnis lokal, organisasi, dan lembaga pemerintah, sehingga rencana yang awalnya terdengar iseng berubah menjadi proyek nyata.
Rekayasa detail di balik tampilan raksasa
Tantangan terbesar justru muncul saat tim harus mengerjakan bagian teknis. Satu-satunya gambar bangunan yang tersedia hanyalah cetak biru tangan asli karya arsitek lokal Bruno Freschi, sehingga pengukuran ulang perlu dilakukan dari awal.
Untuk memetakan struktur secara rinci, sebuah drone diterbangkan untuk memindai setiap panel kubah geodesik dengan laser. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa setiap panel ternyata memiliki ukuran yang sedikit berbeda, sehingga panel lentur harus dibuat khusus satu per satu.
Setelah itu, setiap panel diberi nomor sesuai posisinya dan dipasang dengan pengikat khusus agar tetap bisa bergerak sedikit saat angin bertiup. Tim juga menata orientasi visualnya agar cocok untuk siaran televisi dan foto yang dibagikan publik.
Menurut Rob Hollingsworth, senior director for commercial sales and partnerships di Science World, logo pada bola dan arah trofi dibuat menghadap tenggara. Dengan susunan itu, satu sudut gambar dapat menangkap Science World, stadion, pusat kota, air, dan pegunungan sekaligus.
Bangunan tua yang tetap aktif sebagai museum
Science World sendiri bukan hanya panggung visual selama turnamen. Bangunan berkubah perak itu sudah menjadi bagian dari langit-langit kota Vancouver sejak dibangun untuk World’s Fair 1986.
Tempat itu juga pernah digunakan sebagai Sochi House saat Winter Games 2010 dan selama ini berfungsi sebagai rumah bagi Science World, museum sains yang memiliki teater IMAX. Di tengah perubahan tampilannya, kegiatan museum tetap berjalan seperti biasa.
Lembaga ini juga menjadi tuan rumah pameran khusus Soccer and Technology dari FIFA Museum, yang untuk pertama kalinya dipamerkan di luar Zurich. Science World menambahkan unsur Kanada ke pameran itu, termasuk jersey Christine Sinclair yang dikenakan pada laga perebutan emas Olimpiade Tokyo.
Di ruang pameran yang sama, pengunjung juga bisa melihat bola pertandingan dari Piala Dunia putra 2022 di Qatar. Bola itu terkait momen saat Alphonso Davies mencetak gol pertama Kanada sepanjang sejarah turnamen tersebut.
Dari perhatian pengunjung sampai ledakan di media sosial
Selama turnamen berlangsung, jumlah pengunjung museum ikut meningkat. Namun perhatian yang paling besar justru datang dari dunia maya, tempat foto kubah Science World dalam balutan bola sepak raksasa terus beredar setiap hari.
Hollingsworth mengatakan pihaknya berharap gambar itu ditangkap penyiar sebagai citra ikonik Vancouver dan menyebar ke seluruh dunia. Yang tidak sepenuhnya diperkirakan adalah lonjakan media sosial organik yang muncul dari publik tanpa henti.
Kini, Science World bukan hanya museum sains, melainkan juga simbol visual Vancouver selama Piala Dunia. Bagi banyak penonton turnamen, kubah raksasa di atas bangunan itu telah menjadi salah satu gambar paling mudah dikenali dari kota tuan rumah.
