RD Kongo akhirnya memastikan tempat di Piala Dunia 2026 setelah melalui jalan yang panjang dan penuh tekanan. Kepastian ini langsung mengembalikan nama Leopards ke panggung terbesar sepak bola internasional, sesuatu yang tidak mereka rasakan sejak tampil di Piala Dunia 1974 di Jerman Barat.
Kelolosan itu terasa istimewa karena hadir setelah rangkaian perjuangan yang tidak mudah. Di saat bersamaan, RD Kongo juga akan berada di antara delapan wakil Afrika lain yang sudah mengamankan tiket, yakni Mesir, Maroko, Aljazair, Senegal, Ghana, Tunisia, dan Pantai Gading.
Dari penantian panjang ke panggung dunia
Bagi publik RD Kongo, tiket ke putaran final ini bukan sekadar hasil dari satu turnamen kualifikasi. Status tersebut sekaligus menutup penantian yang berlangsung sangat lama sejak penampilan terakhir mereka di ajang serupa pada 1974.
Momen itu juga menghidupkan kembali ingatan terhadap salah satu bab penting dalam sejarah sepak bola negara tersebut. Saat tampil di Piala Dunia 1974, RD Kongo bukan hanya menjalani debut, tetapi juga mencatat capaian terbaik mereka sejauh ini di turnamen tersebut.
Jejak yang pernah tercatat di 1974
Perjalanan menuju putaran final pada edisi itu ditempa lewat kualifikasi Afrika yang kuat. RD Kongo mampu menyingkirkan tim-tim yang saat itu lebih difavoritkan, seperti Maroko dan Zambia, sebelum akhirnya memastikan tiket ke Jerman Barat.
Capaian tersebut membuat mereka menjadi negara Afrika ketiga yang tampil pada Piala Dunia 1974, setelah Mesir dan Maroko. Pada level benua, pencapaian itu memberi tempat tersendiri bagi RD Kongo sebagai tim yang pernah menembus lapisan tertinggi sepak bola dunia.
Namun, fase grup pada turnamen utama kala itu tidak berjalan ringan. RD Kongo tergabung bersama Yugoslavia, Skotlandia, dan Brasil yang saat itu berstatus juara bertahan, sehingga tantangan yang mereka hadapi sangat besar sejak awal.
Hasil di lapangan pun tidak memihak mereka. RD Kongo kalah 2-0 dari Skotlandia, kemudian tumbang 9-0 dari Yugoslavia, dan kembali menyerah 3-0 dari Brasil.
Perubahan arah di bawah Sebastian Desabre
Kebangkitan RD Kongo tidak datang dalam sekejap. Setelah gagal lolos pada dua edisi kualifikasi sebelumnya, yakni 2018 dan 2022, arah baru mulai terlihat sejak Sebastian Desabre menangani tim pada 2022.
Di bawah Desabre, permainan RD Kongo dinilai lebih stabil dan lebih terstruktur. Salah satu indikasi paling jelas dari perbaikan itu adalah keberhasilan mereka lolos ke AFCON 2023, yang ikut meningkatkan kepercayaan publik terhadap proyek tim nasional ini.
Dampaknya terasa ketika mereka melanjutkan langkah di jalur kualifikasi Piala Dunia 2026. RD Kongo tampil lebih disiplin dan memperlihatkan mental yang lebih kuat dalam menghadapi laga-laga penting.
Lolos lewat jalur yang tidak mudah
Meski akhirnya sukses, tiket ke putaran final tidak diraih tanpa drama. RD Kongo sempat berada sangat dekat dengan kelolosan langsung dari Grup B kualifikasi Afrika saat melawan Senegal.
Dalam laga itu, mereka sempat unggul 2-0, tetapi kemudian kalah 3-2. Hasil tersebut memaksa mereka melanjutkan perjuangan ke babak play-off Afrika, bukan masuk ke putaran final secara langsung.
Di semifinal play-off, RD Kongo harus menghadapi Kamerun. Pertandingan berakhir 1-1 dalam waktu normal, lalu RD Kongo menang 4-3 lewat adu penalti untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Langkah penentuan datang saat mereka berhadapan dengan Jamaika pada play-off antar benua. RD Kongo menang 1-0 lewat gol Axel Tuanzebe dan memastikan tiket ke Piala Dunia 2026.
Tantangan baru menanti di Grup K
Kelolosan itu belum membuat jalan RD Kongo menjadi lebih ringan. Mereka sudah menunggu tantangan berat setelah tergabung di Grup K bersama Portugal, Kolombia, dan Uzbekistan.
Komposisi grup tersebut menuntut konsistensi tinggi sejak awal, karena tiap lawan membawa karakter permainan dan pengalaman yang berbeda. Sebagai wakil Afrika yang kembali ke panggung dunia, setiap laga RD Kongo akan menjadi perhatian besar sekaligus ukuran dari sejauh mana kebangkitan mereka benar-benar berjalan.
Source: bola.bisnis.com