Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Tetap Tenang di Tengah Risiko Iran-AS

Author: Redaksi Android62

Pasar minyak global masih menahan diri meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Harga minyak memang melemah tipis pada perdagangan Jumat, 10 Juli 2026, tetapi pelemahan itu tidak memicu kepanikan karena pelaku pasar belum melihat gangguan pasokan yang benar-benar meluas.

Di saat yang sama, jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap menjadi pusat perhatian. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia setiap hari melintas di kawasan itu sebelum konflik yang pecah pada 28 Februari, sehingga setiap eskalasi langsung dibaca sebagai risiko besar bagi energi global.

Harga Harian Turun, Namun Pekan Ini Masih Menguat

Berdasarkan data Refinitiv, Brent kontrak pengiriman September turun 0,38% menjadi US$76,01 per barel. West Texas Intermediate atau WTI melemah 0,93% ke US$71,41 per barel.

Koreksi itu memperpanjang pelemahan dua hari terakhir, dengan Brent terkoreksi sekitar 2,6% dan WTI turun sekitar 2,9% dalam periode tersebut. Namun, secara pekanan Brent masih naik sekitar 5,4% dan WTI menguat sekitar 4%.

Jenis Minyak Pergerakan Jumat Harga Penutupan Kinerja Pekanan
Brent Turun 0,38% US$76,01 per barel Naik sekitar 5,4%
WTI Turun 0,93% US$71,41 per barel Naik sekitar 4%

Pergerakan itu menunjukkan premi risiko belum hilang sepenuhnya dari pasar. Pelaku pasar masih mencermati apakah gangguan di Timur Tengah hanya bersifat sementara atau akan berlanjut lebih luas.

Diplomasi Mulai Menahan Lonjakan

Lonjakan harga yang sempat didorong konflik bersenjata mulai mereda setelah muncul sinyal pembicaraan diplomatik. Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan mediator dari Qatar berada di Teheran untuk bertemu sejumlah pejabat Iran.

Pertemuan itu disebut bertujuan membuka kembali jalur perundingan antara Iran dan Amerika Serikat setelah bentrokan pada awal pekan. Mediator Qatar menyampaikan optimisme bahwa kedua negara dapat kembali duduk di meja perundingan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan kesediaannya melanjutkan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Ia menegaskan gencatan senjata yang sebelumnya berlaku sejak April telah berakhir setelah konflik pecah lagi pada pekan ini.

Trump turut mengatakan telah memerintahkan Pentagon melancarkan serangan terhadap Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya apabila dirinya dibunuh akibat dugaan rencana yang melibatkan Republik Islam Iran. Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada indikasi ancaman terbaru terhadap dirinya.

Risiko Masih Dianggap Terbatas

Analis Commerzbank, Barbara Lambrecht, menilai respons pasar minyak terhadap perkembangan terbaru di Timur Tengah masih relatif tenang. Menurut dia, premi risiko yang tercermin pada harga minyak saat ini jauh lebih rendah dibandingkan periode Maret hingga Mei lalu.

“Hal ini menunjukkan sebagian besar pelaku pasar menganggap peristiwa terbaru hanya sebagai gangguan sementara,” ujar Lambrecht, dikutip dari Reuters. Pandangan serupa juga disampaikan analis PVM Energy, Tamas Varga, yang menilai investor tidak bereaksi panik atas penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Varga menilai pelemahan harga minyak setelah sempat melonjak pada Selasa dan Rabu juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap prospek permintaan minyak global yang masih lemah. Dengan begitu, pasar tidak hanya membaca risiko pasokan, tetapi juga sisi permintaan yang belum pulih kuat.

Selat Hormuz dan Laporan Terbaru IEA

Ketegangan terbaru dipicu serangan militer Iran terhadap sejumlah infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia pada Kamis. Serangan itu merupakan balasan atas operasi udara Washington yang menyasar wilayah pesisir selatan dan timur Iran.

Bentrokan dalam dua hari terakhir dilaporkan menewaskan sedikitnya 14 orang di wilayah Iran. Media Iran juga melaporkan sejumlah ledakan terjadi di kawasan selatan negara itu, termasuk di Bushehr yang menjadi lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.

Di tengah situasi itu, Lloyd’s List Intelligence pada Kamis melaporkan kapal-kapal yang masih melintasi Selat Hormuz memilih jalur dekat pantai Iran sesuai izin dari Teheran. Jalur tersebut digunakan alih-alih rute pelayaran Oman yang selama ini didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) juga mengingatkan bahwa konflik antara Washington dan Teheran dapat mengganggu keseimbangan pasar energi global. Dalam laporan terbarunya, IEA memperkirakan konsumsi minyak global akan turun sekitar 1 juta barel per hari sepanjang 2026.

Lembaga itu juga memangkas proyeksi produksi minyak Rusia setelah serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi negara tersebut memengaruhi kemampuan produksi Moskow. Walau sebagian aktivitas di Selat Hormuz mulai berjalan lagi, produksi minyak dunia masih berada jauh di bawah level sebelum konflik pecah.

Kombinasi antara diplomasi yang mulai bergerak, risiko jalur pelayaran yang belum sepenuhnya pulih, dan permintaan global yang masih lemah membuat harga minyak belum bergerak liar. Pasar masih menunggu apakah tensi AS-Iran benar-benar mereda atau justru kembali memanas.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru