Tiongkok mendesak Amerika Serikat dan Iran segera meredakan ketegangan di Selat Hormuz setelah aksi saling serang kedua negara kembali memanas. Beijing menilai keamanan jalur pelayaran itu harus segera dipulihkan karena dampaknya tidak hanya dirasakan kawasan, tetapi juga kepentingan global.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi navigasi internasional. Dalam konferensi pers di Beijing, Senin (13/7), ia menyebut pemulihan pelayaran yang aman dan bebas akan menguntungkan semua pihak.
Jalur strategis yang disorot dunia
Lin mengatakan penyelesaian yang tepat diperlukan untuk menjawab persoalan pelayaran di kawasan tersebut. Menurut dia, kekhawatiran komunitas internasional atas Selat Hormuz perlu direspons secara serius agar stabilitas perdagangan laut tidak terus terganggu.
Tekanan diplomatik dari Tiongkok muncul ketika ketegangan di kawasan itu terus meningkat akibat rangkaian serangan antara Washington dan Teheran. Selat Hormuz pun kembali berada di pusat perhatian karena posisinya yang strategis bagi lalu lintas kapal internasional.
Eskalasi serangan AS dan Iran
Komando Pusat AS atau CENTCOM melancarkan serangan besar ke puluhan target di wilayah Iran. Washington menyebut operasi itu sebagai upaya untuk memangkas kemampuan militer Iran yang kerap mengganggu lalu lintas kapal komersial.
Dalam operasi tersebut, Pentagon mengerahkan pesawat tempur, kapal perang, dan pesawat nirawak atau drone. AS juga untuk pertama kalinya menerjunkan drone laut serang sekali pakai atau one-way attack sea drones.
Di sisi lain, Korps Pengawal Revolusi Islam atau IRGC mengonfirmasi serangan rudal ke fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Oman. Iran juga menegaskan tidak akan membuka akses Selat Hormuz sebelum AS angkat kaki dari kawasan itu.
| Pihak | Langkah | Dampak yang Disebutkan |
|---|---|---|
| AS melalui CENTCOM | Serangan masif ke puluhan target di wilayah Iran | Memicu eskalasi baru di kawasan |
| Iran melalui IRGC | Serangan rudal ke fasilitas militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, dan Oman | Memperkeras ketegangan dan mengancam akses Selat Hormuz |
Harapan damai yang kembali kandas
Kondisi ini mengoyak harapan perdamaian yang sebelumnya sempat muncul di Timur Tengah. Pada 18 Juni lalu, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman perdamaian yang dimediasi Pakistan.
Kesepakatan itu memuat penghentian segera pertempuran di semua front, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, serta pembukaan kembali akses Selat Hormuz secara penuh. Namun, kesepakatan tersebut kandas setelah kedua pihak kembali terlibat baku tembak pada 7 Juli lalu, dipicu sengketa lalu lintas kapal niaga di selat strategis itu.
Dengan situasi yang belum mereda, Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan yang memengaruhi arus perdagangan laut internasional. Desakan Tiongkok menunjukkan bahwa stabilitas di jalur sempit itu kini dipandang sebagai kebutuhan mendesak bagi banyak pihak.
