Selat Hormuz Kembali Terbuka, Wall Street dan Harga Minyak Kompak Berbalik Arah

Author: Redaksi Android62

Wall Street bergerak naik kuat setelah kabar bahwa Selat Hormuz kembali dibuka penuh dan kekhawatiran soal gangguan pasokan energi mereda. Perubahan sentimen itu cepat terasa di pasar karena jalur pelayaran tersebut punya peran besar dalam arus perdagangan energi global.

Kabar meredanya risiko di Timur Tengah membuat investor berani kembali masuk ke aset berisiko. Pasar membaca situasi ini sebagai tanda bahwa tekanan geopolitik mulai menurun, setidaknya selama gencatan senjata antara Israel dan Lebanon masih berlangsung.

Indeks utama kompak menguat

Penguatan tidak hanya terjadi pada satu indikator, melainkan meluas ke hampir seluruh indeks utama di Wall Street. S&P 500 naik 1,2% ke 7.126,06 dan menutup perdagangan di level rekor tertinggi baru.

Nasdaq Composite juga ikut menguat 1,52% ke 24.468,48. Kenaikan itu sekaligus memperpanjang reli menjadi 13 hari beruntun, yang menjadi catatan terpanjang sejak 1992.

Dow Jones Industrial Average tidak tertinggal jauh. Indeks itu melesat 868,71 poin atau 1,79% ke 49.447,43, sementara Russell 2000 yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil turut mencetak rekor baru setelah naik lebih dari 2%.

Gerak serentak ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya merespons satu kabar positif. Investor juga menilai bahwa ruang untuk tekanan risiko di sejumlah sektor mulai menyempit.

Selat Hormuz menjadi pemicu utama

Salah satu pemicu terkuat datang dari pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. Ia memastikan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz tetap dibuka selama masa gencatan senjata, dengan pengaturan rute berada di bawah otoritas maritim Iran.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari yang mulai berlaku pada Kamis waktu setempat. Kabar itu langsung mengubah cara pelaku pasar membaca situasi, karena sebelumnya mereka bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi yang bisa mengganggu aliran energi dunia.

Trump juga menyampaikan apresiasi atas keputusan Iran membuka kembali Selat Hormuz dan menyebut ada komitmen untuk tidak menutup jalur itu lagi. Namun, Amerika Serikat masih mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran sampai ada kesepakatan damai.

Harga minyak ikut jatuh

Melemahnya kekhawatiran gangguan pasokan langsung tercermin di pasar minyak. West Texas Intermediate atau WTI anjlok hampir 12% menjadi US$ 83,85 per barel, sedangkan Brent turun sekitar 9% ke US$ 90,38 per barel.

Penurunan harga minyak memberi ruang tambahan bagi saham untuk bergerak lebih tinggi. Di tengah ketegangan Timur Tengah, minyak biasanya menjadi barometer utama risiko, sehingga koreksi tajam kerap dibaca sebagai sinyal bahwa pasar melihat ancaman pasokan mulai mengecil.

Saham transportasi dan konsumsi ikut terangkat

Membaiknya sentimen membuat saham-saham yang sebelumnya sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik ikut bergerak naik. Sektor transportasi dan pariwisata menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari pembukaan jalur pelayaran tersebut.

Saham Boeing naik sekitar 2%, sementara Royal Caribbean melesat hingga 7%. Saham teknologi dan konsumsi juga ikut menguat, termasuk Amazon dan Airbnb, seiring investor kembali mencari aset berisiko setelah kekhawatiran mereda.

Chief Market Strategist Ameriprise Financial Anthony Saglimbene menilai pasar mulai meninggalkan skenario terburuk dari konflik di Timur Tengah. “Pasar melihat peluang penyelesaian konflik antara AS dan Iran serta Selat Hormuz tetap terbuka,” ujarnya.

Ancaman belum sepenuhnya hilang

Meski suasana pasar membaik, risiko gangguan baru belum hilang sepenuhnya. Laporan media Iran menyebut kapal dari negara yang dianggap bermusuhan masih berpotensi tidak diizinkan melintas.

Kemungkinan penutupan kembali Selat Hormuz juga belum tertutup bila ketegangan naik lagi. Karena itu, investor masih memantau perkembangan diplomatik dan keamanan dengan cermat, mengingat jalur ini sangat penting bagi perdagangan energi dunia.

Optimisme atas meredanya konflik juga tercermin dalam kinerja Wall Street sepanjang pekan. Dow Jones naik 3,2%, S&P 500 menguat 4,5%, dan Nasdaq melonjak 6,8%, sementara pelaku pasar kini menunggu apakah dorongan positif ini bisa bertahan tanpa tekanan baru dari geopolitik maupun dari fundamental perusahaan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru