Inggris memperkuat pengamanan Selat Hormuz dengan mengirim kapal perang, kapal penyapu ranjau tanpa awak, dan jet tempur. Langkah ini menunjukkan bahwa London menempatkan jalur sempit itu sebagai wilayah yang sangat sensitif bagi arus energi dunia.
Fokus utama pengerahan tersebut adalah menjaga kebebasan navigasi di kawasan yang rawan gangguan. Di saat ketegangan di sekitar Iran belum mereda, Inggris memilih menambah kehadiran militer untuk melindungi pelayaran di salah satu titik paling penting dalam perdagangan global.
Kementerian Pertahanan Inggris menyebut misi ini sebagai bagian dari pertahanan masa depan. Perlindungan diarahkan pada ancaman dari udara dan laut, termasuk risiko drone dan ranjau.
Dalam pernyataan resminya, kementerian itu memasukkan peralatan pemburu ranjau otonom, sistem anti-drone canggih, jet Typhoon, dan kapal HMS Dragon. Seluruh unsur tersebut disiapkan untuk memperkuat pengamanan jalur pelayaran di wilayah berisiko tinggi.
HMS Dragon dilaporkan sudah berangkat ke Timur Tengah pada pekan lalu. Kapal perusak itu juga telah dilengkapi sistem anti-drone mutakhir untuk mendukung pertahanan kawasan tersebut.
Langkah London tidak berdiri sendiri. Sebelum pengumuman pengerahan itu, Inggris dan Prancis memimpin pertemuan para menteri pertahanan dari sedikitnya 40 negara.
Forum tersebut membahas upaya membuka kembali jalur air strategis itu dan memastikan kapal-kapal tetap bisa melintas. Kehadiran banyak negara menunjukkan besarnya perhatian internasional terhadap Selat Hormuz.
Selat ini menjadi lintasan utama pasokan minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia. Karena itu, setiap gangguan di wilayah tersebut bisa langsung menyentuh rantai distribusi energi yang dipakai banyak negara.
Pemerintah Inggris juga mengumumkan alokasi 115 juta pound sterling, atau sekitar Rp2,7 triliun, untuk pengadaan peralatan pesawat nirawak. Dana itu menjadi bagian dari upaya memperkuat operasi keamanan di kawasan yang memerlukan pengawasan ketat.
Pendanaan tersebut mencakup pengerahan kapal nirawak Kraken di bawah sistem modular Beehive. Inggris juga sedang memodernisasi kapal RFA Lyme Bay agar dapat berfungsi sebagai platform peluncuran drone.
Ketegangan di sekitar Iran telah memicu blokade efektif terhadap Selat Hormuz. Dampaknya langsung terasa pada distribusi minyak dan gas alam cair yang melewati jalur tersebut.
Gangguan di Hormuz juga memengaruhi ekspor dan tingkat produksi minyak. Efek lanjutannya bisa merambat ke banyak negara lewat kenaikan harga bahan bakar dan produk industri.
Karena itu, pengerahan kapal perang dan jet tempur dari Inggris dibaca lebih dari sekadar pengamanan rute laut. Langkah tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa dunia masih sangat waspada terhadap potensi krisis baru di salah satu jalur perdagangan energi paling sensitif di dunia.
