Selat Hormuz Masih Rawan, Inggris Siagakan Kapal Pembersih Ranjau Menunggu Damai Final

Author: Redaksi Android62

Sedikitnya 6.000 kapal disebut telah terhambat melintas di Selat Hormuz sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas. Angka itu memperlihatkan betapa cepat satu jalur sempit di Timur Tengah bisa mengguncang pelayaran internasional dan arus energi global.

Di tengah situasi itu, Angkatan Laut Inggris menyiapkan operasi pembersihan ranjau sebagai langkah siaga, bukan aksi ofensif. London menunggu kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran benar-benar final sebelum menggerakkan kapal-kapalnya ke zona rawan.

RFA Lyme Bay saat ini berada dalam status siaga di Gibraltar bersama ratusan pelaut Inggris. Kapal tersebut baru akan dikerahkan penuh setelah ada kepastian bahwa kesepakatan perdamaian sudah dinyatakan final.

Dari Gibraltar, RFA Lyme Bay direncanakan bergabung dengan kapal perusak Inggris HMS Dragon. Keduanya juga akan berlayar bersama sejumlah kapal sekutu yang disiapkan memberi dukungan udara sebelum bergerak menuju Teluk Persia lewat Terusan Suez.

Susunan itu menunjukkan Inggris menempatkan diri dalam peran pendukung agar pembersihan ranjau bisa dilakukan bila kondisi keamanan membaik. Fokusnya adalah membuka kembali ruang bagi pelayaran yang aman di jalur yang selama ini rawan gangguan.

Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian karena gangguan di wilayah ini langsung terasa pada kapal niaga dan distribusi minyak. Saat jalur itu terganggu, dampaknya tidak berhenti di kawasan, tetapi juga menjalar ke kepentingan ekonomi yang lebih luas.

Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Al Carns, menyoroti besarnya gangguan itu dengan menyebut ribuan kapal telah terdampak. Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan betapa seriusnya risiko yang muncul ketika ketegangan di kawasan meningkat.

Kekhawatiran soal jalur pelayaran juga makin tajam setelah Presiden AS Donald Trump menekan negara-negara sekutu Eropa agar memberi dukungan yang lebih besar terhadap upaya perang AS di Iran. Ia menyinggung blokade Selat Hormuz sebagai salah satu penyebab terganggunya pelayaran internasional dan naiknya harga energi.

Pada Maret lalu, Trump juga memperingatkan sekutu NATO agar mulai mengamankan pasokan minyak dan jalur pelayaran mereka sendiri tanpa bergantung pada Washington. Peringatan itu menambah tekanan politik di saat negara-negara Barat berusaha membaca arah krisis dengan hati-hati.

Pada Sabtu (23/5/2026), Trump menyatakan kesepakatan damai dengan Iran sebagian besar sudah dinegosiasikan setelah pembicaraan dengan Israel dan sejumlah sekutu di Timur Tengah. Menurut pernyataannya, proses tersebut kini tinggal menunggu tahap finalisasi.

Bagi Inggris, menunggu sambil tetap siap bergerak menjadi pilihan yang paling aman saat ini. Selama Selat Hormuz belum benar-benar aman, ancaman terhadap kapal niaga dan pasokan energi masih akan membayangi kawasan dan negara-negara yang bergantung pada lintasan itu.

Source: www.beritasatu.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru