Pelatihan HERT dan psikososial yang digelar IMM DIY bersama Jawa Tengah menyiapkan kader untuk bergerak langsung saat dibutuhkan di lapangan. Program ini memusatkan pembekalan pada bidang kesehatan, dukungan psikososial, dan kebencanaan dengan peserta yang sudah melalui seleksi ketat.
Kegiatan tersebut berlangsung di Universitas Muhammadiyah Magelang pada Jumat-Ahad (22-24/5). Panitia membaginya ke dalam dua kelas, yakni health dan psikososial, agar pembelajaran lebih terarah dan efektif.
Jumlah peserta juga dibatasi untuk menjaga kualitas proses belajar. Tercatat ada 25 peserta pada pelatihan health dan 30 peserta pada pelatihan psikososial.
Ketua Panitia Fua’ad Minan Zuhri menyebut kegiatan ini sebagai kolaborasi DPD IMM DIY dan Jawa Tengah. Ia menjelaskan bahwa pelatihan itu memberi keterampilan IMM dalam isu psikososial melalui fasilitator profesional.
Komposisi fasilitator menjadi salah satu kekuatan pelatihan ini. Mereka berasal dari unsur dokter, psikolog, dan pegiat kebencanaan sehingga peserta mendapat bekal yang menyentuh aspek medis, mental, dan respons darurat secara sekaligus.
Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang, Lilik Andriyani, memandang pelatihan ini sebagai langkah yang visioner. Menurutnya, DIY dan Jawa Tengah sama-sama berada di wilayah dengan risiko kebencanaan yang tinggi, sehingga kebutuhan kader yang siap turun ke lapangan menjadi sangat relevan.
Lilik menilai pelatihan tersebut dirancang untuk melahirkan kader IMM yang tangguh dan berdampak. Ia menekankan bahwa penguasaan keahlian di bidang health dan psikososial penting agar kader tidak berhenti pada aktivitas organisasi semata.
Dari sisi pembinaan kader, kegiatan ini juga dibaca sebagai wadah bagi mereka yang memiliki dorongan kuat di bidang sosial, kesehatan, dan kebencanaan. Fua’ad menegaskan bahwa seleksi peserta dilakukan agar pelatihan benar-benar efektif dan tepat sasaran.
Wahyudi turut mengapresiasi agenda itu dan menyebutnya sebagai kegiatan yang sangat mahal. Ia menegaskan IMM adalah anak kandung Muhammadiyah sekaligus anak ideologis dari Muhammadiyah.
Wahyudi juga mengaitkan pembekalan kader dengan keseimbangan zikir dan pikir. Dalam pandangannya, kader IMM perlu menjaga kesehatan fisik, mental, dan emosional sejak sekarang sebagai bekal menjadi pemimpin di masa depan.
Ia menilai pemimpin yang kuat harus punya fisik prima, mental tangguh, dan emosi yang sehat. Menurutnya, ketiganya penting agar kader tidak menjadi pribadi yang lemah ketika menghadapi tekanan.
Wahyudi menggambarkan mental yang kuat sebagai kemampuan untuk tetap tenang saat dihina dan meresponsnya dengan perilaku yang menunjukkan kemampuan diri. Karena itu, pelatihan HERT dipandang lebih dari sekadar agenda kaderisasi rutin, melainkan bagian dari penyiapan sumber daya sosial yang siap merespons kebutuhan kesehatan, psikososial, dan keadaan darurat di wilayah dengan risiko bencana tinggi.
Source: www.suaramuhammadiyah.id






