Di tengah melebarnya ketegangan di Timur Tengah, sebuah kapal di lepas pantai Uni Emirat Arab dekat Selat Hormuz dilaporkan diambil alih oleh orang tak dikenal dan dibawa mengarah ke Iran. United Kingdom Maritime Trade Operations menyebut kapal itu sebelumnya berlabuh sekitar 38 mil laut timur laut Fujairah sebelum kemudian bergerak ke perairan teritorial Iran.
Insiden ini langsung menambah tekanan di salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Saat perhatian tertuju ke Hormuz, konflik juga merambat ke meja diplomasi, ke parlemen Amerika Serikat, hingga ke Lebanon yang kembali diguncang serangan mematikan.
Hormuz jadi titik sensitif baru
Laporan badan maritim Inggris itu menyebut kapal tersebut diambil oleh personel tanpa otorisasi. Informasi itu membuat risiko keamanan pelayaran kembali menjadi sorotan, terutama karena lokasi kejadian berada di jalur yang sangat vital bagi arus laut internasional.
Peristiwa semacam ini tidak berdiri sendiri dalam situasi saat ini. Ketika perang di kawasan terus meluas, setiap gangguan di sekitar Hormuz segera dipandang sebagai sinyal bahwa eskalasi bisa bergerak ke ranah yang lebih luas.
Trump dan Xi ikut membahas perang
Di waktu yang berdekatan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membahas perang di Timur Tengah saat bertemu di Beijing, menurut pemerintah China. Pembicaraan itu tidak hanya menyentuh konflik di kawasan, tetapi juga perang di Ukraina dan isu di Semenanjung Korea.
Pemerintah AS juga mendorong Beijing untuk memainkan peran lebih aktif terhadap Iran agar menjauh dari langkah-langkahnya di Teluk Persia. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan Washington ingin China “memainkan peran yang lebih aktif” dalam isu tersebut.
Pembahasan antara dua pemimpin besar itu menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah sudah naik ke level diplomasi yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, persaingan pengaruh antarkekuatan besar ikut berjalan seiring dengan ketegangan regional.
Lebanon dan Iran menambah daftar panas
Di Lebanon, situasi juga makin buruk setelah Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 22 orang tewas pada Rabu ketika Israel meningkatkan serangan di negara itu, termasuk delapan anak. National News Agency milik negara menyebut serangan udara Israel menghantam sekitar 40 lokasi di Lebanon selatan dan timur.
Sejumlah serangan mematikan juga menghantam selatan Beirut. Rentetan serangan itu membuat Lebanon kembali menjadi salah satu titik paling rapuh di tengah konflik yang terus melebar.
Iran pun membuka babak ketegangan lain dengan Kuwait. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran berhak membalas setelah menuduh Kuwait menyerang sebuah kapal Iran dan menangkap empat warganya di Teluk.
Araghchi menuntut pembebasan segera atas empat warga Iran tersebut. Dalam unggahan di X, ia menyebut tindakan itu tidak sah dan terjadi dekat sebuah pulau yang digunakan Amerika Serikat untuk menyerang Iran.
Senat AS dan bantahan UEA
Di Washington, Senat Amerika Serikat pada Rabu dengan selisih tipis menolak resolusi yang akan membatasi kekuasaan Presiden Donald Trump untuk berperang melawan Iran. Hasil pemungutan suara itu 50-49 dan menjadi yang pertama terkait konflik tersebut setelah tenggat 60 hari bagi Gedung Putih untuk meminta otorisasi formal berakhir.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa perdebatan soal kewenangan militer masih terbuka, meski perang yang meluas mendorong sorotan ke keputusan presiden. Di sisi lain, dukungan politik terhadap kewenangan eksekutif tetap terlihat cukup kuat.
Ketegangan juga merembet ke Uni Emirat Arab setelah kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ia mengadakan pertemuan “rahasia” dengan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan selama perang dengan Iran. Kantor itu menyebut kunjungan tersebut sebagai “terobosan bersejarah” dalam hubungan Israel dan Uni Emirat Arab.
Namun Kementerian Luar Negeri UEA membantah laporan yang beredar soal kunjungan Netanyahu ke negara itu. UEA juga membantah tuduhan bahwa mereka menerima delegasi militer Israel apa pun di dalam negeri.
