Serangan Israel Di Lebanon Memicu Ancaman Iran, Negosiasi Dengan AS Di Ujung Tanduk

Author: Redaksi Android62

Pemerintah Iran memberi sinyal paling kerasnya sejauh ini terhadap jalur diplomasi dengan Amerika Serikat. Teheran menegaskan negosiasi dapat dihentikan bila Israel terus melanjutkan serangan di Lebanon, terutama di wilayah selatan dan pinggiran Beirut.

Peringatan itu membuat Lebanon berubah menjadi titik tekan baru dalam kalkulasi politik Iran. Bagi Teheran, situasi di negara itu tidak lagi sekadar konflik regional, tetapi sudah berkaitan langsung dengan kepercayaan yang dibutuhkan untuk menjaga pembicaraan dengan Washington tetap berjalan.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyampaikan bahwa Teheran sudah berupaya keras selama dua hari terakhir untuk menahan eskalasi. Namun ia menekankan bahwa sikap itu tidak akan bertahan jika serangan Israel tetap berlanjut.

“Selama dua hari terakhir, kami telah bekerja keras untuk menghentikan serangan Israel. Namun, jika kejahatan-kejahatan ini terus berlanjut, kami tidak hanya akan menangguhkan perundingan, tetapi juga akan bertindak terhadap rezim Zionis,” kata Ghalibaf melalui Telegram, seperti dikutip Selasa, 2 Juni 2026.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Lebanon kini masuk ke inti pertimbangan Iran dalam menghadapi Amerika Serikat. Teheran tidak lagi memisahkan perkembangan di lapangan dari proses diplomasi yang masih berjalan dan belum mencapai titik temu.

Dukungan untuk gencatan senjata

Dalam pembicaraan dengan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri, Ghalibaf juga menegaskan dukungan Iran terhadap gencatan senjata di seluruh wilayah Lebanon. Sikap ini menunjukkan bahwa Iran masih membuka ruang untuk meredakan ketegangan, tetapi tetap menempatkan penghentian serangan Israel sebagai syarat utama.

Kementerian Luar Negeri Iran bahkan menilai pelanggaran gencatan senjata di Lebanon juga berarti pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Pandangan itu membuat konflik di Lebanon terhubung langsung dengan jalur negosiasi Iran-AS yang masih rapuh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut situasi di Lebanon tidak bisa dipisahkan dari upaya menuju kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang. Ia menilai meningkatnya serangan Israel justru memperburuk keadaan dan menambah tekanan pada proses diplomasi.

Serangan di lapangan belum mereda

Di sisi lain, tekanan militer di Lebanon masih berlangsung. Pada Senin, Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan terhadap target-target Hizbullah di pinggiran Beirut, sementara Israel juga terus menyerang sejumlah wilayah lain di Lebanon.

Israel dilaporkan masih menggempur puluhan permukiman di Lebanon selatan setiap hari. Negara itu juga mempertahankan kendali tembakan atas beberapa kawasan perbatasan meski sebelumnya ada kesepakatan gencatan senjata.

Hizbullah pun tetap melakukan operasi militer terhadap pasukan Israel. Kelompok itu sebelumnya mulai melancarkan serangan roket dan drone ke Israel pada 2 Maret di tengah perang antara Amerika Serikat-Israel, dan Iran.

Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke target Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, dan Lebanon timur. Israel juga memulai operasi darat di wilayah selatan dan menyatakan kampanye militer baru terhadap kelompok Syiah tersebut.

Gencatan senjata yang rapuh

Setelah perundingan di Washington pada 16 April, kedua pihak sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, serangan Israel yang masih berlanjut membuat perjanjian itu dinilai rapuh dan belum benar-benar mampu menurunkan eskalasi di lapangan.

Presiden AS Donald Trump sempat mengumumkan bahwa Hizbullah dan Israel akan menyetujui gencatan senjata setelah pembicaraan dengan Netanyahu dan perwakilan Hizbullah. Meski begitu, kondisi di Lebanon tetap memburuk karena serangan masih terjadi di berbagai titik.

Iran juga mengingatkan bahwa gencatan senjata sementara antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April. Setelah itu, perundingan digelar di Islamabad, Pakistan, tetapi belum menghasilkan kesepakatan karena masih ada perbedaan besar, termasuk soal tuntutan Washington dan kebijakan blokade laut terhadap kapal serta pelabuhan Iran.

Baghaei menegaskan bahwa kawasan masih menghadapi tindakan perang yang dilakukan rezim Zionis. Ia juga menyebut dukungan Amerika Serikat selama puluhan tahun ikut membuat konflik di kawasan tidak pernah benar-benar berhenti, sehingga keputusan Teheran dalam pembicaraan dengan AS kini sangat bergantung pada perkembangan di Lebanon.

Source: www.viva.co.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru