Serangan Terkoordinasi Guncang Bamako Dan Kati, Pusat Kekuasaan Mali Tertekan Militan JNIM

Author: Redaksi Android62

Bamako dan Kati menjadi titik paling disorot setelah rangkaian serangan terkoordinasi mengguncang Mali dan memukul langsung area yang selama ini dipandang sebagai pusat kendali keamanan negara itu. Aksi yang dikaitkan dengan afiliasi al Qaeda, JNIM, itu juga menyebar ke beberapa wilayah lain dan memicu kepanikan di lokasi-lokasi strategis.

Di tengah serangan tersebut, otoritas Mali menyebut situasi kini sudah berada di bawah kendali, meski penyisiran masih terus dilakukan di sejumlah titik. Pemerintah juga mengakui ada korban luka, sementara tekanan keamanan terhadap ibu kota dan kota penyangga itu kembali menunjukkan rapuhnya stabilitas di jantung kekuasaan militer Mali.

Serangan menyasar lokasi bernilai strategis

Pola serangan kali ini menonjol karena tidak hanya terjadi di satu tempat, tetapi menyentuh beberapa titik sekaligus yang memiliki nilai penting secara militer dan simbolik. Area dekat kantor pertahanan, kawasan bandara ibu kota, hingga pusat-pusat keamanan di Bamako dan Kati termasuk dalam sasaran.

Di Kati, yang berada dekat markas utama tentara, ledakan dan tembakan terdengar sejak pagi. Dua saksi bahkan menyebut rumah Menteri Pertahanan Mali Sadio Camara di Kati hancur akibat serangan itu.

Kondisi di sekitar akses bandara Bamako juga sempat kacau. Sejumlah saksi menggambarkan suasana seperti berada di zona tempur, dengan suara tembakan berat dan helikopter yang terdengar di udara.

Pemerintah klaim situasi terkendali

Juru bicara pemerintah Issa Ousmane Coulibaly mengatakan 16 orang terluka dalam insiden tersebut. Ia juga menegaskan bahwa situasi di area yang terdampak sudah “sepenuhnya terkendali”.

Meski demikian, pemerintah tetap memberlakukan jam malam malam hari selama tiga hari di Bamako. Langkah itu diambil ketika laporan dari lapangan masih menunjukkan adanya ketegangan dan suara tembakan di beberapa lokasi.

Di Kati, tembakan dilaporkan masih terdengar lebih dari empat jam setelah dua ledakan awal sebelum pukul 06.00 pagi di dekat pangkalan utama militer. Sementara di Sevare, seorang saksi mengatakan baku tembak dimulai sekitar pukul 05.00 pagi dan datang dari berbagai arah.

Klaim dari JNIM dan kelompok Tuareg

JNIM menyatakan bertanggung jawab atas serangan ke Kati, bandara Bamako, dan sejumlah lokasi lain seperti Mopti, Sevare, serta Gao. Kelompok itu juga mengklaim Kidal telah “direbut” dalam operasi yang disebut berlangsung bersama Front Pembebasan Azawad atau FLA.

Juru bicara FLA, Mohamed Elmaouloud Ramadane, sebelumnya menulis di media sosial bahwa pasukannya telah menguasai posisi di Gao dan salah satu dari dua kamp militer di Kidal. Namun, Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen klaim JNIM maupun FLA tersebut.

Menurut Ulf Laessing dari Konrad Adenauer Foundation, serangan ini terlihat seperti “serangan terkoordinasi terbesar selama bertahun-tahun.” Ia menilai Bamako dan Kati merupakan “jantung rezim,” sedangkan Kidal punya bobot simbolis dalam perebutan kendali wilayah.

Bandara ditutup dan peringatan keamanan disebar

Setelah serangan berlangsung, otoritas Bamako menutup bandara. Dampaknya, penerbangan dibatalkan atau dialihkan, sementara suasana di sekitar wilayah tersebut terus dipantau ketat.

Sejumlah kedutaan asing juga segera mengeluarkan peringatan keamanan. Kedutaan AS meminta warganya berlindung di tempat, sedangkan pemerintah Inggris menyarankan agar warganya tidak melakukan perjalanan ke Mali.

Di Gao, suasana pada malam hari dilaporkan masih tegang walau relatif lebih tenang. Seorang warga mengatakan sempat terdengar ledakan keras dan baku tembak antara tentara dan kelompok penyerang sekitar tengah hari.

Latar ancaman yang belum mereda

Serangan ke Bamako dan Kati kembali menegaskan bahwa Mali masih menghadapi ancaman serius dari kelompok bersenjata. Eskalasi ini terjadi di tengah konflik yang sudah berlangsung sejak 2012 dan belum benar-benar padam.

Pada September 2024, JNIM menyerang sekolah pelatihan gendarmerie dekat bandara Bamako dan menewaskan sekitar 70 orang. Setahun kemudian, kelompok itu juga mengumumkan blokade atas impor bahan bakar.

Mali sendiri masih dibayangi sejarah panjang pemberontakan yang dipimpin kelompok Tuareg di wilayah utara. Pemerintahan Assimi Goita, yang berkuasa setelah kudeta pada 2020 dan 2021, sebelumnya berjanji memulihkan keamanan, tetapi hingga kini janji itu belum sepenuhnya terwujud.

Dalam perkembangannya, pemerintah Goita sempat mengandalkan dukungan tentara bayaran Rusia setelah menjauh dari kerja sama dengan negara Barat, lalu belakangan mempererat hubungan dengan Washington. Di sisi lain, JNIM mengatakan tidak menargetkan mitra Rusia militer Mali dan menyiratkan keinginan membangun hubungan masa depan yang “seimbang dan efektif,” menurut terjemahan yang dikutip SITE Intelligence Group.

Kedutaan Rusia di Bamako mengecam serangan itu sebagai tindakan “pengecut,” sementara Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut ada indikasi awal bahwa pasukan keamanan Barat mungkin terlibat dalam pelatihan kelompok bersenjata. Di tengah saling tuding tersebut, serangan serentak di Bamako dan Kati memperlihatkan bahwa tekanan keamanan di Mali masih sangat tinggi, terutama di wilayah yang menjadi penopang utama kekuasaan militer.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru