Solitary sandpiper atau Tringa solitaria punya kebiasaan yang jarang ditemui pada burung pantai lain. Spesies ini bertelur di sarang pohon bekas milik burung lain, lalu bermigrasi sendirian tanpa membentuk kelompok besar.
Perilaku itu membuatnya menonjol di antara kerabatnya yang lebih sering diasosiasikan dengan garis pesisir. Dalam banyak situasi, burung ini justru lebih dekat dengan wilayah air tawar di pedalaman ketimbang pantai terbuka.
Sarangnya justru ada di atas pohon
Salah satu ciri paling unik dari solitary sandpiper adalah cara berkembang biaknya. Alih-alih membuat sarang di tanah seperti banyak burung pantai, ia memanfaatkan sarang lama di atas pohon konifer boreal.
Sarang bekas itu pernah dipakai oleh robin, rusty blackbird, canada jay, dan cedar waxwing. Kebiasaan ini sempat membuat para ilmuwan lama kesulitan menemukan lokasi sarang asli spesies tersebut.
Menurut All About Birds, struktur sarang burung ini baru berhasil ditemukan pengamat pada 1903, padahal spesiesnya sudah dideskripsikan secara ilmiah pada 1813. Fakta itu memperlihatkan betapa tersembunyinya pola hidup burung ini di alam liar.
Lebih sering hidup di air tawar pedalaman
Burung ini hampir sepenuhnya bergantung pada ekosistem air tawar di pedalaman. Habitat favoritnya mencakup rawa gambut, kolam muskeg dangkal, dan bekas bendungan berang-berang di kawasan hutan konifer boreal.
Sekitar 85 hingga 90 persen populasi globalnya memilih hutan boreal Kanada sebagai wilayah hidup utama. Saat bermigrasi, solitary sandpiper juga cukup fleksibel karena dapat singgah di parit drainase, ladang tergenang, sampai genangan air hujan di area perkotaan.
Tampilannya mudah dikenali di lapangan
Ukuran tubuh solitary sandpiper tergolong sedang, sekitar 19 hingga 23 sentimeter. Kakinya berwarna hijau zaitun hingga kuning kehijauan, dengan paruh lurus yang tipis dan gelap.
Ciri yang paling mudah dilihat adalah lingkaran putih tebal di sekitar mata. Bagian punggungnya berwarna cokelat zaitun gelap berbintik putih, sementara perutnya tampak putih bersih.
Saat terbang, bagian bawah sayapnya terlihat kehitaman dan ekor luarnya bergaris hitam-putih. Ujung sayapnya yang panjang juga melampaui ekor ketika hinggap, sehingga membantu membedakannya dari sandpiper lain.
Migrasi sendirian dan cenderung agresif
Sifat menyendiri itu juga tampak saat migrasi musiman. Audubon menyebut solitary sandpiper sebagai burung migran jarak jauh yang bergerak sendirian dan aktif pada malam hari menuju wilayah musim dingin.
Tujuan utamanya adalah rawa-rawa serta tepian sungai di Cekungan Amazon, Amerika Selatan. Di perjalanan, burung ini dikenal agresif dan tidak toleran terhadap kehadiran sesamanya di area makan.
Ia tidak bergerak dalam kelompok besar dan lebih memilih mempertahankan teritori secara mandiri. Jika ada burung lain mendekat, ia akan mengusirnya dari lokasi persinggahan.
Berburu dengan gerakan cepat di air dangkal
Di lokasi mencari makan, solitary sandpiper mengandalkan penglihatan untuk menemukan mangsa. Makanan utamanya meliputi serangga air beserta larvanya, capung, kumbang, krustasea, dan kadang katak kecil.
Burung ini berjalan perlahan di atas lumpur atau dedaunan basah, lalu mematuk mangsa dengan cepat menggunakan paruhnya yang ramping. Ia juga kerap menghentikan langkah untuk menggetarkan salah satu kaki di air agar hewan kecil di dasar muncul karena panik.
Begitu mangsa bergerak, ia segera menyambar dengan akurat di permukaan air. Pola berburu itu menunjukkan bagaimana solitary sandpiper bertahan hidup dengan ketelitian, kesabaran, dan respons yang cepat di habitat yang berubah-ubah.
Source: www.idntimes.com






