Starship V3 akhirnya menjalani penerbangan perdananya, tetapi sorotan terbesar justru datang dari kegagalan booster Super Heavy untuk kembali dengan mulus. Setelah lepas landas dari Starbase, Texas, roket setinggi 407 kaki itu menunjukkan kemajuan penting, namun uji coba tersebut tetap berakhir dengan catatan teknis yang campur aduk.
Di sisi atas, wahana utama berhasil melaju ke luar angkasa setelah terpisah dari booster. Namun di sisi bawah, tahap pendorong gagal menyelesaikan pembakaran lanjutan yang dibutuhkan untuk pulang ke lokasi peluncuran, lalu jatuh berputar ke laut dan kemungkinan besar meledak saat menghantam air.
Uji nyata pertama untuk Starship V3
Penerbangan ini menjadi momen penting karena merupakan uji nyata pertama untuk perangkat keras Starship V3 yang telah dikembangkan selama berbulan-bulan. SpaceX juga sedang menguji landasan peluncuran baru di Starbase yang dibangun selama bertahun-tahun, sehingga hasil penerbangan ini punya arti teknis sekaligus strategis.
Versi baru Starship ini memakai mesin Raptor generasi ketiga milik SpaceX. Mesin tersebut memiliki daya dorong lebih besar dan desain yang jauh lebih sederhana, sementara booster barunya dirancang untuk lepas landas lebih cepat dan lebih mudah ditangkap kembali oleh menara peluncuran.
Booster gagal pulang ke lokasi peluncuran
Setelah beberapa menit terbang, tahap atas Starship terpisah dari Super Heavy booster dan melaju ke luar angkasa. Booster kemudian berbalik menuju Bumi untuk melakukan simulasi pendaratan di Teluk Meksiko, tetapi masalah muncul saat mesinnya tidak menyala kembali dengan benar.
Kegagalan itu membuat booster tidak bisa melanjutkan pembakaran yang dibutuhkan agar kembali ke titik awal. Akibatnya, booster berputar tak terkendali sebelum jatuh ke laut, sehingga peluang pendaratan yang terkontrol pun hilang.
Wahana utama tetap menjalankan sebagian target
Meski salah satu mesin Raptor hilang saat menanjak, Starship tetap melanjutkan penerbangannya. Wahana utama itu berhasil melepas semua 20 simulator satelit Starlink serta dua satelit Starlink modifikasi yang dipakai untuk merekam sisi luar Starship.
Sekitar satu jam setelah lepas landas, Starship menjalani simulasi pendaratan di Samudra Hindia. Sesuai skenario uji coba, wahana itu kemudian miring dan meledak, menandai akhir penerbangan yang memang dirancang untuk menguji batas kemampuan sistem.
Peluncuran sempat tertunda dan datang setelah jeda panjang
Penerbangan ini juga menandai kelanjutan dari jeda panjang sejak penerbangan Starship sebelumnya pada Oktober 2025. SpaceX sempat menyiapkan peluncuran V3 lebih awal, tetapi salah satu booster upgrade awal mengalami ledakan saat pengujian pada November.
Upaya peluncuran pada Kamis juga sempat tertunda. Menurut Musk, sebuah pin hidrolik pada lengan menara peluncuran menolak mundur sehingga jadwal harus diundur.
Arti besar bagi ambisi SpaceX
SpaceX telah menghabiskan bertahun-tahun dan dana besar untuk mengembangkan Starship. Perusahaan melihat roket ini sebagai kunci untuk mewujudkan visi menjadikan kehidupan multi-planet, dengan rencana jangka panjang yang mencakup misi NASA ke Bulan dan pada akhirnya ke Mars.
Untuk saat ini, fokus terdekatnya tetap pada pengiriman satelit Starlink yang lebih canggih ke orbit Bumi. Itu penting karena Starlink menjadi satu-satunya bagian bisnis SpaceX yang menghasilkan keuntungan, sehingga keberhasilan Starship berkaitan langsung dengan masa depan bisnis satelit perusahaan.
Peluncuran ini juga berlangsung di tengah titik balik historis bagi SpaceX. Pengajuan IPO perusahaan dipublikasikan minggu ini, dan SpaceX diperkirakan akan melantai di Nasdaq pada pertengahan Juni dengan potensi pengumpulan dana sekitar 75 miliar dolar AS. Dana itu dilaporkan akan dipakai untuk mendorong pengembangan lanjutan, ambisi besar di bidang AI, dan pembayaran sebagian utang yang terkait dengan xAI serta perusahaan media sosial milik Musk, X.
