Steam Controller buatan Valve kini mendapat fungsi yang sangat tak biasa. Perangkat yang selama ini dikenal sebagai gamepad eksperimental itu bisa dibuat meluncur sendiri di atas meja, tanpa roda tambahan dan tanpa modifikasi perangkat keras yang rumit.
Eksperimen ini menunjukkan bahwa motor haptik internal pada Steam Controller masih menyimpan potensi yang jauh melampaui fungsi umumnya. Dalam proyek tersebut, getaran yang biasanya dipakai sebagai umpan balik permainan dipaksa bekerja sebagai tenaga penggerak.
Digerakkan dari motor haptik internal
Alih-alih menggunakan motor eksternal atau komponen khusus, Steam Controller mengandalkan motor haptik bawaan untuk menciptakan gerakan fisik. Getaran dibuat terus-menerus hingga cukup kuat untuk membuat perangkat bergeser di permukaan datar.
Gerakannya bukan seperti mobil remote control biasa yang memakai roda dan penggerak khusus. Di sini, controller hanya “merayap” karena kombinasi getaran, friksi, dan energi kinetik yang dihasilkan oleh sistem internalnya sendiri.
Hasilnya memang tidak cepat, tetapi justru itu yang membuatnya menarik. Sebuah perangkat game yang seharusnya diam di tangan pengguna justru bisa bergerak sendiri seperti robot mini di atas meja.
Very Lazy Pixels, kreator di balik proyek ini, menyebut bahwa suara yang muncul dari eksperimen tersebut cukup keras. Dengungnya disebut terdengar seperti robot yang terus berdengung saat perangkat bergerak.
Cara menjalankannya tidak perlu bongkar perangkat
Salah satu hal paling menonjol dari proyek ini adalah kesederhanaannya. Pengguna tidak perlu membuka casing controller atau memasang komponen tambahan untuk membuatnya bergerak.
Cukup mengunjungi situs web khusus buatan Very Lazy Pixels lalu menghubungkan Steam Controller ke sistem tersebut. Setelah itu, situs web akan mengirim sinyal khusus ke sistem haptik perangkat.
Dari sana, pengguna bisa memberi kendali arah melalui keyboard. Respons perangkat disebut berlangsung langsung, sehingga Steam Controller dapat diarahkan untuk maju, berbelok ke kiri, atau berbelok ke kanan.
Pendekatan ini membuat controller lama itu berubah menjadi mainan interaktif yang bergerak nyata. Bagi penggemar perangkat unik, cara kerjanya memberi daya tarik tersendiri karena memanfaatkan kemampuan bawaan yang biasanya hanya dipakai saat bermain game.
Eksperimen yang menegaskan desain Steam Controller
Proyek ini juga memperlihatkan mengapa Steam Controller masih dianggap berbeda dari gamepad pada umumnya. Desain internalnya sejak awal memang dikenal eksperimental, terutama pada bagian haptik yang lebih canggih dibanding controller biasa.
Walau bukan pilihan utama banyak pemain saat ini, perangkat itu masih kerap memancing ide kreatif dari para penggemarnya. Dalam proyek Very Lazy Pixels, fitur yang awalnya dibuat untuk sensasi permainan justru berubah menjadi sumber gerak fisik.
Hal itu memberi Steam Controller semacam kehidupan kedua di luar fungsi aslinya. Perangkat yang biasanya hanya dipakai untuk menjelajahi dunia virtual kini bisa meluncur sungguhan di permukaan datar.
Eksperimen semacam ini juga menegaskan nilai perangkat lama yang masih memiliki kemampuan teknis. Saat fitur bawaan dimanfaatkan dengan cara baru, hardware yang sempat dianggap usang bisa kembali menarik perhatian sebagai medium kreativitas.
Bagi pemilik Steam Controller, proyek ini membuka kemungkinan penggunaan yang tidak terpikir sebelumnya. Sebuah gamepad yang dulunya dibuat untuk mengendalikan permainan digital kini dapat “dikemudikan” sebagai kendaraan mini di atas meja hanya dengan kekuatan getaran dari motor haptiknya sendiri.
