Stok Beras Rekor 5,3 Juta Ton, Bapanas Peringatkan Pedagang Jangan Main Harga

Author: Redaksi Android62

Stok beras nasional saat ini berada dalam kondisi sangat longgar, bahkan menembus 5,3 juta ton pada Juni 2026. Pemerintah menegaskan angka itu menjadi alasan kuat bagi pedagang untuk tidak menaikkan harga secara tidak wajar atau menciptakan kesan kelangkaan di pasar.

Badan Pangan Nasional atau Bapanas menyampaikan peringatan itu karena masih ada potensi permainan harga di lapangan. Di tengah pasokan yang melimpah, konsumen diminta tidak dipanaskan oleh isu kelangkaan yang tidak sejalan dengan kondisi stok nasional.

Gudang penuh, kapasitas tambahan disewa

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut stok beras yang tersimpan di gudang mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Ia mengatakan kapasitas gudang pemerintah tidak lagi mencukupi dan perlu tambahan ruang simpan.

“Stok sekarang 5,3 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka,” ujar Amran.

Menurut dia, kondisi itu menunjukkan pasokan domestik berada dalam posisi aman. Karena itu, tidak ada alasan bagi pelaku usaha untuk mempermainkan distribusi maupun harga beras di pasar.

Pengawasan diperketat sampai daerah

Pemerintah bersama Satgas Pangan Polri terus memantau distribusi beras di seluruh Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada pihak yang menahan pasokan atau memanfaatkan situasi guna mendorong kenaikan harga tanpa dasar yang jelas.

Amran menegaskan bahwa seluruh gudang pemerintah saat ini penuh dengan beras. Ia juga meminta jajaran kepolisian, termasuk Satgas Pangan dan Dirkrimsus di berbagai daerah, bertindak terhadap pedagang yang terbukti bermain harga.

Tindakan tegas itu dipilih agar stabilitas pangan tetap terjaga dan konsumen tidak dirugikan. Pemerintah ingin memastikan melimpahnya stok beras benar-benar tercermin di pasar.

Produksi dalam negeri dorong surplus

Amran menilai besarnya stok saat ini tidak lepas dari peningkatan produksi pangan nasional. Ia menyebut capaian tersebut menjadi bagian dari langkah Indonesia menuju swasembada beras pada 2025 sehingga kebutuhan domestik tidak lagi bergantung pada impor.

Penguatan produksi itu juga mendapat pengakuan dalam laporan Rice Outlook May 2026 dari Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA. Dalam laporan tersebut, Indonesia disebut termasuk negara dengan kenaikan produksi besar bersama Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam.

Dari kelompok itu, Indonesia tercatat memiliki volume produksi paling tinggi, yakni lebih dari 30 juta ton per tahun. Data tersebut memperkuat klaim pemerintah bahwa pasokan beras saat ini berada dalam kondisi surplus.

Ritel modern belum berarti langka

Di sisi lain, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan keterbatasan beras premium di sebagian ritel modern tidak bisa langsung diartikan sebagai kelangkaan. Menurut dia, stok di lapangan masih ada, hanya tidak banyak di sejumlah titik penjualan.

“Bukan langka. Saya kira kan kami juga kunjungan ke lapangan, melihat di ritel modern itu masih ada, memang tidak banyak tapi ada. Ini kesempatan Bulog masuk,” kata Ketut.

Ia menyebut Bulog memiliki sejumlah merek seperti Befood, Punokawan, dan Setra Ramos yang bisa mengisi kekosongan suplai di pasar. Dengan begitu, kebutuhan konsumen tetap bisa terpenuhi tanpa memicu persepsi adanya krisis pasokan.

Bapanas juga menerima laporan bahwa stok beras komersial Bulog masih berada di angka 11,4 ribu ton. Sementara itu, realisasi pengadaan setara beras untuk kebutuhan komersial telah mencapai 45,5 ribu ton dari total pengadaan nasional sebesar 3,1 juta ton.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru