Struk Pertalite Tunjukkan Harga Keekonomian Rp16.088, Subsidi Negara Masih Menutup Selisihnya

Author: Redaksi Android62

Angka yang tercetak di struk pembelian Pertalite kembali menarik perhatian karena menunjukkan harga keekonomian bahan bakar itu sudah mencapai Rp16.088 per liter. Meski begitu, konsumen tetap membayar Rp10.000 per liter karena selisihnya masih ditanggung pemerintah melalui subsidi.

Di tengah sorotan publik, harga jual resmi Pertalite belum berubah hingga Kamis (7/5/2026). Kondisi ini membuat jarak antara harga di SPBU dan nilai aslinya terlihat sangat jelas lewat bukti transaksi yang diterima pembeli.

Sorotan semakin besar setelah beredar video di Instagram @cobisnis yang menampilkan struk pembelian Pertalite di SPBU Tol Jakarta-Merak. Dalam struk itu, subsidi pemerintah tertulis sebesar Rp6.088 per liter, sehingga publik bisa melihat langsung besarnya beban yang masih dipikul negara.

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan struk pembelian memang bisa dipakai untuk menunjukkan selisih harga tersebut. Ia menilai cara itu juga menjadi bentuk transparansi atas dukungan subsidi yang masih menjaga harga Pertalite tetap terjangkau.

“Coba beli Pertalite di SPBU, di struk pembelian sudah dituliskan berapa harga Pertalite,” ucap Roberth MV Dumatubun kepada KONTAN. Dari sana, selisih antara harga yang dibayar konsumen dan harga keekonomian bisa terlihat tanpa perlu penjelasan tambahan.

Roberth menjelaskan bahwa selisih antara harga pasar atau harga keekonomian dengan harga jual di SPBU masih ditanggung sementara oleh pemerintah. Kebijakan ini dipertahankan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah fluktuasi harga energi global.

Ia juga menyebut tujuan lain dari kebijakan itu adalah menjaga daya beli masyarakat. Menurut dia, pemerintah ingin memastikan roda ekonomi tetap bergerak di berbagai lapisan masyarakat.

“Hal ini untuk tetap menjaga daya beli dan tetap berputarnya roda ekonomi masyarakat,” ujarnya. Dengan begitu, harga Pertalite tidak langsung mengikuti nilai keekonomiannya yang tercetak di struk pembelian.

Di sisi lain, Pertamax juga ikut menjadi pembanding karena harganya berada di level Rp12.300 per liter. Angka itu bahkan tampak lebih rendah dibanding harga asli Pertalite yang tercantum di struk pembelian.

Roberth menegaskan harga Pertamax tersebut bukan harga keekonomian yang mengikuti pasar riil. Menurut dia, harga itu merupakan hasil koordinasi antara pemerintah dan Pertamina, dan sejak 1 April tidak ada penyesuaian harga.

“Melainkan adalah harga terakhir yang berdasarkan kebijakan dan kordinasi pemerintah dengan Pertamina. Maka per 1 April, harga Pertamax tersebut tidak dilakukan penyesuaian harga dan masih tetap menggunakan harga Rp12.300 per liter,” ujar Roberth kepada Kompas.com.

Pertamina tidak merinci harga asli Pertamax secara spesifik. Namun, Roberth memberi gambaran bahwa produk non-subsidi lain seperti Pertamax Green dan Pertamax Turbo memiliki selisih harga yang relatif tipis karena perbedaan nilai oktan masing-masing produk.

“Yang pasti (harga Pertamax) di atas itu. Logikanya begini, Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, itu kan RON 92, 95, 98, yaa tipis-tipis lah beda harganya,” katanya. Kepastian harga Pertalite yang masih Rp10.000 per liter pada akhirnya menegaskan bahwa BBM bersubsidi itu tetap dijaga agar terjangkau, meski angka sebenarnya yang muncul di struk sudah jauh lebih tinggi.

Berita Terbaru