Suhu Kelas Naik, Konsentrasi Siswa dan Kehadiran di Sekolah Ikut Tertekan

Author: Redaksi Android62

Sekolah yang terasa gerah bukan lagi sekadar urusan kenyamanan belajar. Suhu tinggi di ruang kelas kini ikut dikaitkan dengan turunnya konsentrasi siswa, naiknya angka ketidakhadiran, dan melemahnya capaian akademis.

Sejumlah temuan yang dikutip dari Phys.org menunjukkan bahwa panas di kelas dapat mengganggu daya ingat, perilaku, dan keberhasilan belajar. Dampaknya juga merembet ke kesehatan fisik dan mental, terutama ketika ventilasi buruk, ruang terlalu padat, dan akses air minum terbatas.

Risiko itu terlihat jelas dalam penelitian yang melibatkan South African Medical Research Council dan University of Johannesburg. Suhu ruangan di atas 25 derajat Celsius berkorelasi dengan meningkatnya ketidakhadiran siswa, sementara hampir seluruh anak yang diteliti di Johannesburg melaporkan penurunan konsentrasi akibat panas.

Anak-anak juga menghadapi beban yang lebih berat saat suhu naik. Mereka lebih rentan mengalami dehidrasi dan lebih sulit mengatur suhu tubuh dibanding orang dewasa, sehingga tubuh bekerja lebih keras untuk menahan panas dan fokus belajar pun mudah menurun.

Bukan hanya siswa yang terdampak, karena kondisi panas di kelas juga memicu keluhan fisik lain. Sakit kepala, pusing, kelelahan, dan stres akibat panas dapat mengganggu aktivitas belajar harian serta membuat proses di kelas berjalan tidak optimal.

Situasi ini bisa semakin memburuk ketika malam hari tetap panas. Tidur siswa menjadi terganggu, lalu performa keesokan harinya ikut turun, sementara guru juga menghadapi keluhan serupa yang menyulitkan proses mengajar.

Masalah suhu tinggi di sekolah juga sangat dipengaruhi oleh kondisi bangunan. Banyak ruang kelas berubah menjadi perangkap panas karena atap logam bergelombang, isolasi yang buruk, dan aliran udara yang terbatas.

Dampaknya tidak sama di semua wilayah. Hasil penelitian menunjukkan sekolah perkotaan mencatat suhu rata-rata harian maksimum 32 derajat Celsius, sedangkan sekolah pedesaan mencapai 42 derajat Celsius.

Kesenjangan itu membuat pengalaman belajar di desa jauh lebih berat. Di sekolah perkotaan, kipas angin masih dinilai membantu menjaga suhu nyaman pada kisaran 25 derajat Celsius hingga 28 derajat Celsius, tetapi alat yang sama tidak efektif di ruang kelas pedesaan.

Kondisi di wilayah pedesaan makin sulit ketika bangunan sekolah rusak atau tidak memiliki langit-langit. Di beberapa tempat, akses air minum juga masih terbatas, sehingga kemampuan siswa untuk bertahan dari panas menjadi makin rendah.

Karena itu, para peneliti menilai sistem pendidikan perlu beradaptasi dengan suhu yang terus meningkat. Langkah yang disarankan mencakup perbaikan ventilasi, penanaman pohon peneduh, penggunaan bahan atap sejuk, dan penyediaan air bersih.

Sekolah juga dinilai perlu lebih fleksibel dalam mengatur kegiatan luar ruangan. Selain itu, sistem peringatan dini cuaca panas dan pelatihan bagi staf sekolah untuk mengenali gejala penyakit akibat panas dianggap penting agar risiko pada siswa dan guru bisa ditekan.

Para peneliti juga menekankan perlunya melibatkan anak-anak dan kaum muda dalam perencanaan adaptasi iklim. Kelompok ini adalah pihak yang paling cepat merasakan dampak langsung ketika ruang kelas berubah menjadi semakin panas.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru