Pilihan publik antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo tidak hanya dipengaruhi gol, gelar, atau kebangsaan pemain. Survei di 26 negara menemukan preferensi itu juga berkaitan dengan ideologi politik, usia, harga diri, serta kebiasaan mengonsumsi berita melalui media sosial.
Hubungan politik tersebut terlihat paling kuat pada kelompok responden muda. Responden yang mengidentifikasi diri lebih liberal cenderung memberi penilaian lebih baik kepada Messi, sedangkan responden yang lebih konservatif lebih condong kepada Ronaldo.
Survei lintas enam benua
Penelitian yang dipimpin Nanyang Technological University (NTU) Singapura ini melibatkan 10.000 responden dari 26 negara di enam benua. Cakupannya meliputi negara-negara di Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Australia.
Perbedaan pilihan tidak menghasilkan peta yang seragam di semua negara. Ronaldo memperoleh penilaian lebih tinggi di 11 negara, sementara Messi unggul di delapan negara dan tujuh negara lain tidak memperlihatkan preferensi statistik yang jelas.
| Hasil preferensi | Jumlah negara | Gambaran wilayah |
|---|---|---|
| Ronaldo lebih tinggi | 11 | Termasuk Singapura serta sejumlah negara Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Tenggara |
| Messi lebih tinggi | 8 | Termasuk Argentina, beberapa negara Eropa Barat, Amerika Serikat, Kanada, dan Korea Selatan |
| Tanpa preferensi jelas | 7 | Selisih penilaian tidak menunjukkan keunggulan statistik yang jelas |
Messi mencatat nilai rata-rata lebih tinggi di Argentina, beberapa negara Eropa Barat, Amerika Serikat, Kanada, serta Korea Selatan. Preferensi relatif paling kuat terhadap Messi justru tercatat di Korea Selatan, melampaui Argentina.
Kondisi di Korea Selatan terutama didorong oleh penilaian yang rendah terhadap Ronaldo, bukan semata-mata karena skor Messi yang sangat tinggi. Negara itu menjadi satu-satunya lokasi survei yang memberi Ronaldo nilai rata-rata di bawah empat dalam skala tujuh poin.
Jejak pertandingan Seoul 2019
Peneliti menilai rendahnya penilaian Ronaldo di Korea Selatan mungkin berkaitan dengan ketidakpuasan publik setelah pertandingan ekshibisi di Seoul pada 2019. Ronaldo tidak tampil dalam laga tersebut meski menjadi daya tarik utama acara.
Profesor Madya Saifuddin Ahmed dari Sekolah Komunikasi dan Informasi Wee Kim Wee NTU menilai kedua pemain memiliki citra publik yang sangat berbeda. Messi lazim diasosiasikan dengan sosok tenang dan berorientasi pada tim, sedangkan Ronaldo dikenal terbuka menunjukkan ambisi serta merayakan pencapaian individu.
“Orang mungkin lebih tertarik pada pemain yang citra publiknya selaras dengan nilai-nilai mereka yang lebih luas,” kata Saifuddin Ahmed. Menurutnya, pilihan terhadap pesepak bola dapat mencerminkan pertimbangan yang melampaui sepak bola.
Pengaruh video pendek dan harga diri
Survei juga menemukan responden yang lebih sering memperoleh berita dari TikTok dan Instagram cenderung menyukai Ronaldo. Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah kuatnya kehadiran Ronaldo pada media sosial yang mengandalkan materi visual.
Harga diri responden turut menunjukkan pola serupa. Responden dengan harga diri lebih tinggi cenderung memberi penilaian lebih baik kepada Ronaldo, sejalan dengan kajian tentang penegasan diri dan ketertarikan pada figur aspiratif.
Saifuddin mengatakan seseorang dapat ingin tampil rendah hati tanpa harus paling mengidentifikasi diri dengan tokoh publik yang rendah hati. Sebagian orang, menurutnya, dapat tertarik pada sosok yang menggambarkan keunggulan, kepercayaan diri, dan capaian besar.
Studi ini tidak menemukan hubungan antara peringkat FIFA suatu negara dan preferensi pemain secara keseluruhan. Hasil tingkat negara juga tidak dapat dijelaskan hanya melalui loyalitas responden kepada pemain dari negara mereka sendiri.
Tim NTU berencana meneliti lebih jauh alasan kaitan ideologi politik dan preferensi pemain berubah menurut usia. Temuan mengenai video pendek juga membuka pertanyaan tentang dampak paparan media sosial terhadap kedekatan publik dengan figur terkenal dan nilai politik mereka.
