Changan sedang menyiapkan langkah yang cukup agresif untuk Indonesia dengan membawa dua arah pengembangan sekaligus, yakni mobil listrik murni dan teknologi REEV. Di tengah pasar yang padat dan sangat peka harga, strategi itu menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya dipandang sebagai tempat menjual mobil, tetapi juga sebagai pasar yang bisa ikut membentuk produk baru.
Salah satu rencana yang paling menarik perhatian adalah pengembangan SUV 7-seater khusus untuk konsumen Indonesia. Changan menilai kebutuhan pasar domestik berbeda dari banyak negara Asia lain yang masih cukup dengan konfigurasi lima penumpang, sehingga prinsipal didorong menyiapkan versi tujuh penumpang dari model Q07.
Jika rencana itu berjalan sesuai arah yang disiapkan, Indonesia berpeluang menjadi negara pertama yang menerima Changan dengan konfigurasi tersebut. Model itu diperkirakan paling cepat hadir tahun depan, meski masih memerlukan perubahan spesifikasi dan penyesuaian ulang agar sesuai dengan kebutuhan lokal.
Dorong ekspansi lewat diler dan pameran EV
Untuk memperkuat langkah masuk pasar, Changan juga membangun jaringan secara lebih aktif. Perusahaan mulai menambah diler sekaligus menggelar pameran kendaraan listrik di sejumlah kota besar agar konsumen lebih cepat mengenal lini produknya.
CEO Changan Indonesia Setiawan Surya mengatakan pameran khusus kendaraan listrik dipakai untuk mempercepat penetrasi pasar. Format ini sengaja dibuat hanya menampilkan kendaraan EV, tanpa model bensin atau diesel, supaya perhatian pengunjung benar-benar tertuju pada produk listrik.
Langkah tersebut juga dipakai untuk membaca respons pasar di luar Jakarta. Setelah ibu kota, roadshow EV disiapkan berlanjut ke Yogyakarta, Surabaya, hingga Bandung, sementara Bali juga disebut menunjukkan penerimaan yang baik terhadap kendaraan listrik Changan.
Di daerah seperti Bali, mayoritas pembeli disebut menggunakan mobil untuk kebutuhan pribadi. Kondisi itu berbeda dari pasar yang banyak digerakkan kebutuhan rental atau fleet, sehingga sinyal minat konsumen ritel terhadap EV dinilai mulai tumbuh.
Lumin menjadi penopang awal penjualan
Di antara model yang sudah diperkenalkan, Lumin menjadi penyumbang utama pemesanan. Mobil listrik mungil itu disebut menyumbang sekitar 60 persen order selama pameran berlangsung.
Profil pembelinya juga menarik karena mayoritas datang dari pengguna mobil bensin atau ICE yang mulai beralih ke kendaraan listrik. Perubahan ini memperlihatkan bahwa pasar EV di Indonesia tidak lagi hanya digerakkan oleh kelompok awal yang lebih dulu tertarik pada teknologi baru.
Changan melihat pergeseran itu sebagai tanda bahwa konsumen umum mulai masuk ke segmen kendaraan listrik. Dengan kata lain, minat tidak lagi berhenti pada penggemar teknologi, tetapi mulai menjangkau pembeli yang sebelumnya nyaman memakai mobil konvensional.
REEV disiapkan untuk menjawab kekhawatiran jarak tempuh
Selain EV murni, Changan juga menyiapkan REEV atau Range Extended Electric Vehicle sebagai jalur lain. Pada teknologi ini, motor listrik tetap menjadi penggerak roda, sementara mesin bensin berfungsi sebagai generator untuk mengisi daya baterai.
Pendekatan itu dianggap cocok untuk Indonesia, terutama di wilayah yang infrastruktur pengisian dayanya belum banyak tersedia. Konsumen tetap bisa merasakan karakter berkendara mobil listrik, tetapi tanpa sepenuhnya bergantung pada pengisian baterai.
Setiawan menyebut tujuan REEV adalah menjaga efisiensi bahan bakar. Karena itu, teknologi ini diposisikan sebagai solusi transisi bagi konsumen yang tertarik pada elektrifikasi, tetapi belum sepenuhnya nyaman dengan EV berbasis baterai murni.
Harga masih menjadi medan paling sulit
Di tengah ekspansi produk dan jaringan, Changan mengakui pasar EV Indonesia sangat sensitif terhadap harga. Selisih Rp 30 juta sampai Rp 50 juta saja disebut bisa membuat konsumen berpindah ke merek lain.
Kondisi tersebut membuat pembahasan harga dengan prinsipal masih terus dilakukan. Hal yang sama juga berlaku untuk model baru seperti Deepal S05 yang sedang disiapkan.
Persaingan di pasar ini juga makin ketat karena banyak merek China menawarkan teknologi dan fitur yang relatif mirip. Dalam situasi seperti itu, diferensiasi produk belum tentu cukup jika harga tidak dibuat kompetitif.
Changan juga melihat konsumen Indonesia kini jauh lebih kritis sebelum membeli mobil. Mereka membaca ulasan, membandingkan spesifikasi, dan mencari informasi sendiri lewat internet sebelum menentukan pilihan.
Di sisi lain, perusahaan menilai faktor kepercayaan tetap punya peran besar. Saat konsumen mengetahui Changan berada di bawah jaringan besar Indomobil dan didukung kekuatan global, keyakinan untuk membeli disebut mulai tumbuh.
Hingga akhir tahun, Changan menargetkan sekitar 20 diler di Indonesia. Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta disiapkan sebagai basis awal untuk memperluas jangkauan layanan dan menopang purnajual.
Source: otomotif.kompas.com