Tahun Ajaran Baru Dorong Penjualan Ritel Jatim, BI Masih Cermat Soal Risikonya

Bank Indonesia memproyeksikan penjualan ritel di Jawa Timur membaik pada Juli 2026, dengan dorongan utama datang dari masuknya periode tahun ajaran baru. Sentimen itu dinilai dapat mengangkat permintaan masyarakat setelah kinerja pada Mei masih berjalan tipis.

Meski begitu, BI menilai ruang perbaikan tersebut tetap perlu dicermati karena tekanan eksternal masih membayangi. Eskalasi konflik di Timur Tengah disebut sebagai salah satu risiko yang bisa menahan laju konsumsi di daerah.

Perbaikan tipis pada Mei

Pada Mei 2026, penjualan eceran di Jawa Timur hanya naik 0,02% secara bulanan dibanding April 2026. Indeks Penjualan Riil atau IPR Jatim tercatat 473,4, sedikit lebih tinggi dari posisi April yang berada di level 473,3.

Secara tahunan, kinerja tersebut masih tertekan 3,1% atau year-on-year. Namun, kondisi itu membaik dibanding April 2026 yang terkoreksi 3,7% secara tahunan.

Direktur Eksekutif Kantor Perwakilan BI Provinsi Jatim Ibrahim menjelaskan, perbaikan kecil itu ditopang oleh permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional. Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak ikut menjaga kinerja penjualan ritel di wilayah tersebut.

Kelompok yang masih menahan laju

Penguatan pada Mei terutama datang dari kelompok suku cadang dan aksesori serta kelompok barang budaya dan rekreasi. Dua kelompok itu masih tumbuh positif dan menjadi penopang utama perbaikan indeks penjualan riil.

Di sisi lain, beberapa kelompok masih berada di zona kontraksi. Kelompok makanan dan minuman turun 0,4%, perlengkapan rumah tangga lainnya terkoreksi 2,9%, dan peralatan informasi dan komunikasi tertekan 5,5%.

Penurunan juga terjadi pada kelompok bahan bakar kendaraan bermotor yang terkoreksi 2,0% secara bulanan. Tekanan itu lebih dalam dibanding April 2026 yang hanya terkoreksi 0,2%.

Ibrahim menilai kondisi Mei 2026 jauh lebih baik dibanding April lalu, ketika penjualan ritel tercatat terkoreksi hingga 9,3% secara bulanan. Ia juga menyebut perbaikan di Jawa Timur sejalan dengan kondisi penjualan eceran secara nasional.

BI memprakirakan penjualan eceran nasional masih terjaga pada Mei 2026 dengan IPR nasional sebesar 225,00. Angka itu sedikit lebih rendah dibanding realisasi April 2026 yang tercatat 226,9.

Ekspektasi Juli dan Oktober menguat

Untuk Juli 2026, Indeks Ekspektasi Penjualan naik menjadi 174,1 dari sebelumnya 164,2. Kenaikan ekspektasi itu terutama terkait dengan masuknya periode tahun ajaran baru.

Sementara itu, IEP Oktober 2026 diprakirakan naik menjadi 135,8 dari 134,6. Proyeksi tersebut sejalan dengan penyelenggaraan Pekan Raya Jatim di Surabaya.

BI menilai kinerja penjualan eceran Jawa Timur masih berpotensi tumbuh selama permintaan domestik tetap terjaga. Namun, kenaikan harga komoditas energi akibat dinamika konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan menahan pertumbuhan penjualan.

Dengan kondisi itu, Juli menjadi bulan penting bagi arah penjualan ritel di Jawa Timur. Pemulihan yang diharapkan BI akan sangat bergantung pada kuatnya konsumsi rumah tangga dan sejauh mana tekanan eksternal ikut mereda.

Source: surabaya.bisnis.com

Berita Terkait