Takeda Siapkan Pabrik Plasma Lebih Besar, Ketergantungan Impor Obat Ditekan

Author: Redaksi Android62

Indonesia akan memiliki pabrik pengolahan plasma darah kedua setelah Takeda menyatakan komitmen investasi. Kapasitas fasilitas yang akan dibangun perusahaan Jepang itu disebut lebih masif dibandingkan pabrik plasma pertama.

Investasi tersebut menjadi langkah penting untuk menekan ketergantungan Indonesia pada obat esensial impor. Selama ini, sejumlah produk turunan plasma masih mengandalkan pasokan dari luar negeri.

Kebutuhan terhadap Albumin, IVIG, Faktor-8, dan Faktor-9 dapat menjadi mahal serta sulit dipenuhi saat rantai pasok kesehatan global terganggu. Kondisi itu pernah terlihat ketika pandemi COVID-19 memicu kelangkaan berbagai kebutuhan medis.

Pemerintah menempatkan pembangunan industri pengolahan plasma dalam Pilar ke-3 Transformasi Kesehatan, yaitu Ketahanan Kesehatan. Targetnya adalah mengolah bahan baku darah yang tersedia di dalam negeri menjadi produk medis bernilai tambah.

Dua Fasilitas Plasma untuk Pasokan Dalam Negeri

Fasilitas pertama dibangun oleh SK Plasma dari Korea Selatan melalui kemitraan dengan Indonesia Investment Authority atau INA. Sementara itu, Takeda akan menjadi investor untuk fasilitas kedua.

Fasilitas Investor atau Mitra Status dan Kapasitas
Pabrik plasma pertama SK Plasma dan INA Rampung pada 2026, kapasitas 600.000 liter per tahun
Pabrik plasma kedua Takeda Komitmen investasi, kapasitas lebih masif

Nilai investasi fasilitas SK Plasma mencapai USD 300 juta. Pabrik itu menjadi fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia dengan kapasitas produksi 600.000 liter per tahun.

Operasi penuh pabrik pertama ditargetkan mulai pada 2027. Sebelum beroperasi penuh, fasilitas tersebut perlu memperoleh izin edar dan izin operasional dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM.

Plasma Darah Diolah Menjadi Obat Penting

Produk Turunan Plasma atau PDP dihasilkan melalui proses pemisahan dan fraksionasi plasma dari darah manusia. Produk ini digunakan untuk menunjang daya tahan tubuh serta membantu proses pembekuan darah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai Indonesia memiliki modal bahan baku yang besar untuk membangun industri tersebut. Menurutnya, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar menyediakan potensi plasma darah untuk diolah secara mandiri.

“Sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya memiliki sumber daya bahan baku darah yang sangat melimpah untuk diolah secara mandiri menjadi PDP. Ini yang sedang kita hilirisasi,” tegas Budi.

Masuknya SK Plasma dan Takeda terjadi setelah Kementerian Kesehatan merelaksasi regulasi pembangunan pabrik plasma sejak 2023. Kebijakan itu membuka peluang investasi biofarmasi untuk memperkuat Pabrik Plasma Indonesia.

Industri Vaksin Juga Diperkuat

Penguatan ketahanan kesehatan tidak hanya diarahkan pada pengolahan plasma darah. Kementerian Kesehatan juga mendorong operasional dua pabrik vaksin berskala besar, yakni PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia.

PT Biotis turut mengembangkan Vaksin Merah Putih yang disebut sebagai hasil penelitian anak bangsa. Pemerintah menempatkan pembangunan fasilitas vaksin dan plasma dalam agenda yang sama untuk menjaga keamanan pasokan kesehatan nasional.

Budi menyatakan keberadaan fasilitas produksi oleh Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda diharapkan membuat obat serta vaksin lebih aman, terjangkau, dan diproduksi di dalam negeri. Arah kebijakan ini juga menjadi respons atas risiko ketergantungan impor yang terlihat saat krisis kesehatan global.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru