Idemitsu Maru, supertanker milik divisi tanker konglomerat energi Jepang Idemitsu Kosan Co., menjadi sorotan setelah berhasil melintasi Selat Hormuz ketika membawa muatan penuh. Kapal Very Large Crude Carrier berbendera Panama itu disebut membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah, sehingga pergerakannya langsung dipantau di salah satu jalur paling sensitif di dunia.
Data pelacakan yang dikutip Bloombergtechnoz menunjukkan kapal itu sempat tertahan lebih dari sepekan di lokasi labuh jangkar di barat laut Abu Dhabi sebelum akhirnya bergerak keluar. Informasi navigasi juga memperlihatkan Idemitsu Maru sempat mengarah ke utara menuju Pulau Qeshm dan Larak di wilayah Iran sebelum melewati sisi timur Selat Hormuz.
Langkah kapal ini menarik perhatian karena dipandang sebagai salah satu upaya awal kapal pengangkut minyak asal Jepang untuk keluar dari Teluk Persia sejak perang Iran memanas. Di tengah ketegangan yang meningkat, setiap pergerakan tanker besar di kawasan itu menjadi perhatian karena dapat memberi gambaran tentang seberapa jauh pelaku industri masih berani mengambil risiko.
Kapal tersebut sebenarnya sudah masuk Teluk Persia beberapa hari sebelum konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran meletus pada akhir Februari. Idemitsu Maru sendiri dibangun pada 2007, dan posisinya di kawasan itu membuatnya ikut terseret dalam situasi keamanan yang berubah cepat.
Selat Hormuz tetap menjadi titik paling penting sekaligus paling rawan bagi distribusi energi global. Saat konflik berlangsung, jalur ini kerap dipantau ketat karena menjadi koridor utama pengiriman minyak dari Timur Tengah ke pasar internasional.
Pergerakan Idemitsu Maru juga terjadi di saat Amerika Serikat menerapkan blokade tandingan terhadap Iran sejak dua minggu lalu. Dalam periode itu, arus lalu lintas di selat tersebut dilaporkan turun drastis hingga nyaris nol karena banyak kapal memilih menunggu di luar jalur berisiko.
Kondisi itu memberi tekanan besar pada rantai pasok energi. Bagi pasar, gangguan di Selat Hormuz langsung memunculkan kekhawatiran soal hambatan pasokan yang lebih luas, mengingat besarnya peran wilayah itu dalam pengiriman minyak mentah.
Status navigasi kapal saat ini masih menunjukkan sinyal “untuk dipesan”, yang menandakan muatan minyaknya belum tentu memiliki pembeli atau tujuan akhir yang pasti. Situasi seperti ini biasa muncul saat pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan rute pelayaran belum sepenuhnya aman.
Juru bicara Idemitsu memilih berhati-hati saat menanggapi pergerakan kapal di wilayah konflik. Ia mengatakan, “Demi alasan keamanan, Idemitsu tidak akan berkomentar mengenai status kapal-kapal individu.”
Di sisi lain, langkah Idemitsu Maru memperlihatkan bagaimana pengangkut Jepang mulai menghadapi tekanan yang lebih nyata di perairan kawasan itu. Jepang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, sehingga gangguan di jalur utama seperti Hormuz cepat berdampak pada rantai suplai nasional.
Selama masa blokade, perusahaan penyulingan di Jepang dilaporkan mencari jalur alternatif untuk menjaga pasokan. Sebagian memilih transfer antar-kapal di luar Teluk Persia, sementara yang lain mengimpor minyak dari Amerika Serikat dengan kapal yang lebih kecil.
Dalam konflik sebelumnya, pelayaran terkait Jepang umumnya masih terbatas pada komoditas non-minyak. Pada awal April, sebuah kapal pengangkut LPG milik perusahaan Jepang juga berhasil keluar dari kawasan itu dengan bantuan fasilitasi dari pihak India.
Karena itu, keberhasilan Idemitsu Maru menembus Hormuz menjadi penanda penting di tengah ketegangan yang belum reda. Pergerakan kapal ini tetap menjadi perhatian karena Selat Hormuz masih memegang posisi paling menentukan bagi pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia.
