Target Operasional Penuh Freeport Bergeser Ke Awal 2028, Pemulihan Longsor Masih 50 Persen

Pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave milik PT Freeport Indonesia belum berjalan secepat yang diharapkan. Tingkat operasional di area itu masih berada di kisaran 40 hingga 50 persen setelah longsor yang terjadi di lokasi tersebut pada tahun lalu.

Kondisi itu membuat target operasi penuh bergeser lagi, dari semula kuartal I-2027 menjadi awal 2028. Direktur Utama PTFI Tony Wenas menjelaskan, pergeseran jadwal muncul karena pekerjaan perbaikan infrastruktur tambang masih terus berlangsung.

Fokus perbaikan di blok yang paling rusak

Dari tiga blok utama di area terdampak, PTFI sudah membuka penambangan terbatas di Production Block 2 dan 3. Sementara itu, Production Block 1 masih ditutup karena mengalami kerusakan paling berat akibat insiden longsor.

Tony menyebut pemulihan Production Block 1 sebagai prioritas utama perusahaan. Blok ini dijadwalkan mulai diperbaiki pada Mei 2026, dengan target pemulihan menyeluruh pada kuartal I-2027.

Namun, walau perbaikan di blok tersebut sudah punya jadwal, target operasional penuh tambang tetap mundur. PTFI menilai seluruh proses pemulihan infrastruktur membutuhkan waktu lebih panjang dari perkiraan awal.

Produksi ikut tertekan

Gangguan di Grasberg Block Cave juga menekan proyeksi produksi Freeport. Perusahaan memperkirakan produksi bijih tembaga baru bisa mencapai 200.000 ton per hari saat memasuki 2027.

Untuk 2026, target produksi bijih dipatok 156.000 ton per hari. Pada periode yang sama, target penjualan tembaga ditetapkan 1,1 miliar pon atau sekitar 480.000 ton, lebih rendah 8,33 persen dibanding realisasi penjualan tembaga pada 2025 yang mencapai 1,2 miliar pon.

Target penjualan emas juga ikut turun menjadi 0,83 juta ons atau setara 26 ton. Angka itu merosot 20,95 persen dari capaian tahun lalu yang berada di 1,05 juta ons.

Tekanan operasional tersebut juga tercermin pada laporan keuangan Freeport-McMoRan Inc. Penjualan tembaga kuartal I-2026 tercatat 82 juta pon, turun 71,7 persen secara tahunan, sedangkan produksi emas menyusut menjadi 92.000 ons atau turun 67,6 persen.

Kewajiban ke negara dan daerah tetap berjalan

Di tengah pemulihan tambang, PTFI tetap menjalankan kewajiban finansial kepada pemerintah pusat dan daerah. Tony mengatakan perusahaan baru saja menyetorkan bagian keuntungan bersih tahun buku 2025 senilai Rp4,8 triliun.

Secara akumulatif, total setoran PTFI kepada negara sepanjang periode tersebut sudah mencapai sekitar Rp75 triliun. Angka itu mencakup pembayaran dividen kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID sebesar Rp16,9 triliun.

Kontribusi untuk pemerintah daerah juga tercatat besar, yakni Rp13,48 triliun. Nilai itu terdiri dari Rp10,6 triliun pada 2025 dan tambahan Rp2,88 triliun dari pembagian laba bersih perusahaan.

Tony menegaskan perusahaan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam memenuhi kewajiban kepada negara dan daerah. Ia berharap kontribusi tersebut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat di daerah masing-masing.

Berita Terkait