Saham-saham yang selama ini dipandang sebagai penopang ekosistem OpenAI kembali berada di bawah tekanan setelah pasar menilai ulang prospek bisnis kecerdasan buatan. Sentimen negatif muncul karena laporan terbaru menyebut OpenAI tidak mencapai target penjualan dan penambahan pengguna baru, sehingga ekspektasi terhadap laju ekspansi AI ikut terguncang.
Tekanan itu cepat merembet ke sejumlah emiten yang selama ini dikaitkan dengan kebutuhan komputasi OpenAI. Dalam perdagangan terbaru, SoftBank Group Corp. turun hampir 10 persen di bursa Tokyo, sedangkan Oracle Corp. dan CoreWeave Inc. melemah lebih dari 7 persen pada sesi pre-market di Amerika Serikat.
Rantai pasok AI ikut terseret
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar tidak lagi hanya menilai OpenAI sebagai pengembang model AI, tetapi juga sebagai penggerak bagi perusahaan infrastruktur di belakangnya. Saat pertumbuhan pengguna dan penjualan tidak sesuai ekspektasi, investor langsung menguji ulang prospek penyedia server, layanan komputasi, hingga pusat data.
GE Vernova Inc. dan Vertiv Holdings Co. juga ikut terkoreksi lebih dari 2,5 persen. Pelemahan ini memperlihatkan bahwa tekanan dari satu nama besar di AI dapat menyebar ke perusahaan lain yang menopang operasional teknologi tersebut.
Analis menilai kegagalan OpenAI memenuhi proyeksi bulanan pada 2026 menjadi sinyal yang kurang baik bagi rantai pasok kecerdasan buatan secara keseluruhan. Kondisi itu juga muncul ketika persaingan di sektor AI semakin ketat, terutama dari Anthropic PBC yang disebut mulai kuat di segmen pemrograman dan pasar korporasi.
Sorotan terbesar mengarah ke Oracle
Di antara deretan saham yang terkoreksi, Oracle menjadi nama yang paling diperhatikan pasar. Anurag Rana, analis Bloomberg Intelligence, menilai perusahaan itu berada dalam posisi paling sensitif terhadap perubahan permintaan dari OpenAI.
Ia menyebut kegagalan mencapai target penjualan dan penambahan pengguna dapat berdampak ke seluruh ekosistem infrastruktur AI. “Oracle sebagai pihak yang paling rentan terhadap risiko terhadap target keuangannya,” kata Rana.
Menurut Rana, penurunan kebutuhan komputasi OpenAI juga bisa menjalar ke pihak lain yang selama ini menopang infrastruktur tersebut. Microsoft, Amazon Web Services, dan CoreWeave disebut berpotensi ikut merasakan dampak jika permintaan komputasi OpenAI melemah.
Investor mulai lebih selektif menilai belanja modal AI
Kondisi pasar mencerminkan perubahan cara investor membaca tema kecerdasan buatan. Selama ini, banyak saham teknologi terdorong oleh optimisme terhadap belanja modal besar di sektor AI, tetapi kini pasar mulai menuntut bukti bahwa ekspansi itu benar-benar menghasilkan pertumbuhan penjualan dan pengguna.
Data pasar menunjukkan kelompok saham yang dianggap sebagai proksi OpenAI hanya naik sekitar 75 persen sejak akhir 2024. Angka itu masih jauh di bawah kelompok saham terkait Alphabet Inc. yang melonjak lebih dari 300 persen pada periode yang sama.
Perbedaan tersebut memberi sinyal bahwa investor mulai memberi bobot lebih besar pada hasil bisnis yang nyata, bukan sekadar narasi pertumbuhan. Ketika momentum melambat, saham-saham yang sebelumnya diuntungkan oleh antusiasme AI menjadi lebih mudah terkoreksi.
Persaingan bisnis OpenAI makin menekan ekspektasi
Anna Macdonald, direktur strategi investasi di Hargreaves Lansdown, menilai OpenAI saat ini menghadapi tekanan dari dua sisi. Di satu sisi, perusahaan itu memang tumbuh sangat cepat sejak peluncuran ChatGPT, tetapi di sisi lain para pesaing mulai unggul baik di pasar konsumen maupun bisnis.
“Progres OpenAI sangat fenomenal sejak rilis ChatGPT, tetapi para rival mulai unggul dari kedua sisi,” kata Macdonald. Pandangan ini sejalan dengan perubahan persepsi pasar sejak akhir tahun lalu, setelah Alphabet meluncurkan Gemini dan Anthropic menghadirkan Claude.
Kehadiran dua pesaing tersebut membuat investor lebih berhati-hati terhadap asumsi pertumbuhan besar yang selama ini menjadi dasar optimisme sektor AI. Pasar kini melihat target pengguna dan penjualan sebagai ukuran yang lebih penting untuk menilai apakah belanja infrastruktur AI sejalan dengan perkembangan bisnis yang diharapkan.
Dalam situasi seperti ini, penurunan saham mitra OpenAI menjadi cerminan bahwa pasar sedang memasuki fase yang lebih hati-hati. Selama permintaan komputasi OpenAI belum menunjukkan arah yang lebih kuat, pergerakan saham perusahaan yang berada di sekitar ekosistem AI masih berpeluang tetap fluktuatif mengikuti perubahan ekspektasi investor.







