Tarif Selat Hormuz Dibatalkan, Trump Mengalihkan Tekanan ke Investasi Teluk

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan ancaman pengenaan biaya 20% untuk seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai gantinya, ia mendorong kesepakatan perdagangan dan investasi besar dari negara-negara Teluk ke Amerika Serikat.

Pergeseran sikap itu muncul ketika jalur perairan paling strategis di Timur Tengah tersebut berada dalam tekanan berat. Di saat yang sama, lalu lintas tanker melambat ke level terendah dalam dua bulan, sementara harga minyak dunia sempat melonjak akibat gangguan di kawasan itu.

Eskalasi di jalur pelayaran vital

Komando Pusat AS atau Centcom mengonfirmasi gelombang serangan tambahan terhadap Iran pada Selasa malam, 14/7. Operasi itu disebut ditujukan untuk melumpuhkan kemampuan Iran yang dipakai menyerang pelayaran komersial.

Media pemerintah Iran melaporkan ledakan di beberapa kota, termasuk Bushehr yang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Teheran kemudian mengklaim telah menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Yordania, setelah sebelumnya menyerang dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab.

IndikatorDetail
Volume minyak duniaSekitar 25% pasokan global
Volume gas alam cairSekitar 20% pasokan global
Status lalu lintasMelambat ke level terendah dalam dua bulan
Kebijakan ASBlokade total pelabuhan Iran, per April dan dilanjutkan Juli

Tarif diganti investasi

Melalui unggahan di Truth Social, Trump mengatakan bahwa biaya penggantian Amerika Serikat sebesar 20% akan diganti dengan komitmen investasi dari negara-negara Teluk. Ia menyebut investasi itu akan berjumlah “MASIF” dan sangat menguntungkan bagi masa depan mereka.

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irak yang baru, Ali al-Zaidi, di Washington, Trump juga mengakui bahwa dirinya tidak menyukai konsep biaya atau fee. Namun, ia menegaskan bahwa tidak adil jika AS menanggung beban perlindungan selat itu sendirian untuk kepentingan seluruh dunia.

Perubahan sikap tersebut, menurut Trump, terjadi setelah ia menerima banyak panggilan telepon dari para pemimpin negara Teluk. Meski begitu, ia tidak memerinci isi kesepakatan perdagangan dan investasi yang dimaksud.

Reaksi Iran dan peringatan Israel

Iran menyatakan akan tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan keputusan blokade Trump secara efektif telah “membubarkan” kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.

Ketegangan regional juga dipicu peringatan keras dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menegaskan bahwa pembalasan Israel akan jauh lebih kuat jika Iran lebih dulu menyerang.

“Jangan berharap situasi akan tetap tenang jika Anda menyerang kami,” kata Netanyahu dalam pesan video. Di tengah kondisi itu, Selat Hormuz disebut masih terbuka bagi seluruh lalu lintas kapal kecuali Iran, sementara Trump mengklaim aliran minyak mulai berjalan kembali meski ketegangan di lapangan tetap tinggi.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait