Kesenjangan antara kopi dan teh di Indonesia kini terlihat semakin jelas. Kopi berhasil membangun nilai jual yang terus naik, sementara teh masih bergulat dengan ekspor curah, produksi yang melemah, dan hilirisasi yang berjalan lambat.
Di tengah kondisi itu, persoalan utama ternyata bukan sekadar soal seberapa banyak komoditas dihasilkan. Yang lebih menentukan adalah sejauh mana bahan mentah bisa diubah menjadi produk bernilai tambah tinggi, dan di titik inilah kopi melaju jauh lebih cepat daripada teh.
Kopi bergerak bersama ekosistemnya
Nilai ekspor kopi Indonesia kini telah menembus sekitar 1,6 miliar dollar AS. Pencapaian ini ikut ditopang oleh pasar global yang masih terbuka dan konsumsi domestik yang terus meningkat.
Pada periode 2024/2025, konsumsi kopi domestik Indonesia diproyeksikan mencapai 4,8 juta kantong. Angka itu naik dari 4,45 juta kantong pada 2020/2021, menandakan bahwa ruang pasar di dalam negeri masih luas dan terus berkembang.
Dari sisi produksi, Indonesia menghasilkan sekitar 654.000 ton kopi pada 2024. Jumlah itu setara sekitar 6 persen dari produksi global dan menempatkan Indonesia sebagai produsen keempat dunia.
Namun, kekuatan kopi tidak berhenti pada volume produksi. Kopi berhasil membentuk ekosistem yang lengkap, mulai dari petani, industri pengolahan, kedai, hingga pasar digital, sehingga komoditas ini ikut masuk ke gaya hidup masyarakat.
Pergerakan itu membuat kopi tidak lagi sekadar bahan baku. Kopi juga tumbuh sebagai produk dengan identitas pasar yang kuat, terutama karena jaringan konsumennya terus meluas di berbagai kanal.
Teh tertinggal dalam produksi dan perdagangan
Berbeda dengan kopi, teh justru memperlihatkan penurunan yang lebih dalam. Produksi teh Indonesia pada 2023 berada di kisaran 122–124 ribu ton, turun dari sekitar 165 ribu ton pada awal 2000-an.
Kemunduran itu juga tercermin di pasar internasional. Dalam dua dekade terakhir, posisi Indonesia sebagai eksportir teh global merosot dari tiga besar menjadi sekitar peringkat ketujuh.
Pelemahan tersebut tidak terjadi karena permintaan dunia menyusut. Permintaan global teh justru tumbuh sekitar 3 persen per tahun, sehingga tekanan utama lebih banyak datang dari dalam negeri, terutama pada sisi daya saing.
Masalahnya muncul pada kualitas, harga, dan kontinuitas pasokan. Ketika negara lain mampu menjaga ritme produksi dan mutu, teh Indonesia justru kehilangan momentum untuk memperkuat posisinya.
Di dalam negeri, situasinya juga tidak membaik. Impor teh pada 2024 mencapai sekitar 13 ribu ton dan naik tajam dibanding tahun sebelumnya, sementara produksi dan ekspor sama-sama bergerak melemah.
Hilirisasi teh masih berhenti di tengah jalan
Salah satu alasan utama teh tertinggal ada pada rendahnya pengolahan lanjutan. Lebih dari 90 persen ekspor teh Indonesia masih berupa produk curah, sedangkan kontribusi produk hilir diperkirakan hanya sekitar 6 persen.
Kondisi ini membatasi ruang nilai tambah yang bisa dinikmati pelaku usaha di dalam negeri. Padahal, selisih nilainya jauh sekali ketika bahan mentah diproses lebih jauh.
Harga pucuk teh di tingkat petani hanya sekitar Rp 2.500 per kilogram. Setelah diolah menjadi teh kering, nilainya bisa setara Rp 12.500 per kilogram, lalu melonjak hingga sekitar Rp 250.000 per kilogram jika masuk ke tahap produk bermerek atau specialty tea.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah teh bukan terletak pada ketersediaan bahan baku semata. Tantangan sebenarnya ada pada kegagalan membangun rantai nilai yang mampu menghubungkan petani, industri, dan pasar akhir secara lebih kuat.
Kebijakan ada, tetapi ekosistem belum cukup kuat
Secara normatif, dorongan untuk hilirisasi memang sudah tersedia lewat berbagai arah kebijakan dan dukungan anggaran. Meski begitu, hasilnya belum terasa merata karena hilirisasi sangat bergantung pada kekuatan ekosistem industri.
Kopi menjadi contoh bagaimana ekosistem bisa bergerak serempak. Dukungan UMKM, promosi specialty, dan pasar domestik yang berkembang membuat kopi lebih siap naik kelas dibandingkan banyak komoditas lain.
Teh belum memiliki dorongan yang sama kuat. Struktur industri yang terkonsentrasi, lambannya peremajaan tanaman, dan minimnya inovasi ikut membuat transformasi teh berjalan tersendat.
Sementara itu, tren konsumen sebenarnya sudah berubah. Permintaan bergerak ke arah teh premium, organik, dan functional beverage, tetapi industri nasional belum cukup cepat menangkap peluang tersebut.
Jika situasi ini terus berlanjut, jarak antara kopi dan teh akan semakin lebar. Kopi akan tetap menjadi komoditas yang berhasil naik kelas, sedangkan teh berisiko bertahan sebagai bahan mentah dengan nilai ekonomi yang belum benar-benar berkembang.
