Tekanan Big Caps Menenggelamkan IHSG, Sektor Material Dasar Paling Terpukul

Author: Redaksi Android62

IHSG harus menutup perdagangan Jumat di level 5.896 setelah terkoreksi 102,91 poin atau 1,72 persen. Koreksi itu terutama dipicu pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot besar dalam perhitungan indeks.

Tekanan pada emiten big caps membuat indeks sulit bertahan, meski masih ada beberapa saham yang menguat tajam. Kondisi pasar juga diperberat oleh pelemahan mayoritas bursa saham Asia, sehingga sentimen regional ikut menekan pergerakan di Bursa Efek Indonesia.

Sektor hampir serempak masuk zona merah

Pelemahan IHSG tercermin luas di hampir seluruh sektor saham. Sektor material dasar menjadi yang paling terpukul dengan koreksi sekitar 5 persen, disusul sektor industri yang turun 4,24 persen.

Tekanan juga terasa pada sektor infrastruktur yang melemah lebih dari 4 persen, sektor konsumer primer turun 2,96 persen, sektor energi terkoreksi 2,62 persen, dan sektor teknologi melemah 2,51 persen. Di tengah penurunan yang meluas itu, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang masih bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,03 persen.

Aktivitas transaksi ikut melemah

Nilai transaksi hari itu tercatat Rp11,25 triliun, lebih rendah dari sesi sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan investor cenderung lebih berhati-hati saat saham-saham besar tertekan dan hampir seluruh sektor bergerak melemah.

Dalam situasi seperti ini, arah IHSG semakin banyak ditentukan oleh emiten-emiten berbobot besar. Ketika saham-saham tersebut terkoreksi, dorongan dari saham lain kerap tidak cukup kuat untuk mengimbangi tekanan di indeks utama.

Deretan saham yang tetap melesat

Meski pasar secara umum melemah, sejumlah saham justru mencatat lonjakan dan menyentuh batas auto reject atas atau ARA. BBRM naik 34,74 persen menjadi Rp128, sementara TRUS menguat 25 persen menjadi Rp350.

Penguatan juga terjadi pada ARTA yang naik 23,15 persen menjadi Rp2.660, BHAT yang menguat 20,23 persen menjadi Rp2.080, dan RICY yang bertambah 19,72 persen menjadi Rp85. Namun, kenaikan saham-saham tersebut belum mampu menahan laju pelemahan indeks utama.

Berbalik tajam dari penguatan sehari sebelumnya

Pelemahan pada Jumat menjadi kontras karena IHSG sebelumnya sempat menguat kuat pada perdagangan Kamis. Saat itu indeks naik 115,16 poin atau 1,96 persen ke level 5.999, meski investor asing masih mencatat net sell Rp299 miliar.

Aksi jual asing pada perdagangan Kamis terbesar terjadi pada BMRI sebesar Rp224,17 miliar, BBRI sebesar Rp93,23 miliar, dan KLBF sebesar Rp77,31 miliar. Pada sesi tersebut, penguatan indeks ditopang hampir seluruh sektor, dengan kenaikan menonjol pada material dasar, industri, konsumer nonprimer, dan konsumer primer yang masing-masing naik lebih dari 2 persen.

Sektor kesehatan dan infrastruktur bahkan sempat menguat di atas 3 persen, sementara RBMS, YUPI, KONI, FUTR, ZONE, dan RGAS menjadi penggerak kenaikan. Namun pada perdagangan berikutnya, sentimen Asia yang melemah dan tekanan pada saham big caps membuat penguatan itu tidak bertahan.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru