Tekanan jual membuat IHSG langsung terpeleset ke 7.050,06 pada awal perdagangan Kamis, 30 April 2026. Sekitar pukul 09.20 WIB, indeks utama Bursa Efek Indonesia sudah berada di zona merah dan turun 51,17 poin atau 0,72 persen.
Pergerakan pagi itu menunjukkan pasar masih sangat berhati-hati. Walau sempat dibuka di 7.103,26, sedikit di atas penutupan sebelumnya di 7.101,23, kekuatan awal tersebut tidak bertahan lama karena tekanan jual segera mengambil alih arah perdagangan.
Pergerakan sempat lebar di awal sesi
Sepanjang fase awal perdagangan, IHSG bergerak cukup fluktuatif dan belum menemukan arah yang benar-benar stabil. Indeks sempat turun sampai 7.022,37, lalu bergerak naik ke 7.109,00 sebelum kembali tertekan.
Rentang pergerakan itu menggambarkan pasar yang masih mencari keseimbangan. Dorongan beli memang muncul sesekali, tetapi belum cukup kuat untuk menahan dominasi jual yang terus menekan indeks.
Mayoritas saham ikut terkoreksi
Tekanan pada IHSG tidak hanya datang dari beberapa saham besar, karena pelemahan terlihat menyebar lebih luas. Volume transaksi pagi itu tercatat mencapai 7,306 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 3,025 triliun dan frekuensi 433.700 kali.
Dari data pergerakan emiten, 404 saham melemah, sementara 212 saham menguat dan 343 saham stagnan. Komposisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif lebih dominan di pasar, sehingga indeks utama ikut terbawa turun.
Indeks acuan lain bergerak seragam di zona merah
Kondisi serupa juga terlihat pada sejumlah indeks acuan yang sama-sama melemah. LQ45 turun 5,72 poin atau 0,84 persen ke level 678,37, mencerminkan tekanan yang juga dirasakan saham-saham unggulan.
Di kelompok saham syariah, Jakarta Islamic Index terkoreksi 3,79 poin atau 0,80 persen ke 467,15, sedangkan Indonesia Sharia Stock Index melemah 2,03 poin ke 253,27. Kompas100 juga turun 0,82 persen ke 949,77, disusul IDX30 yang terkoreksi 0,86 persen ke 376,31 dan JII70 yang melemah 0,75 persen ke 181,69.
Pasar mencermati hasil FOMC
Di tengah tekanan pembukaan, pelaku pasar tetap menunggu sinyal yang lebih jelas dari pasar global. Setelah sebelumnya IHSG ditutup naik 0,41 persen ke 7.101,226, pergerakan tersebut dinilai sebagai technical rebound yang belum cukup mengubah kehati-hatian investor.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut investor masih menahan langkah sambil menunggu perkembangan global. Ia menilai IHSG masih berpeluang bergerak dalam rentang terbatas, dengan support di 7.064 dan resistance di 7.144.
Herditya juga menyoroti fokus pasar yang tertuju pada hasil pertemuan Federal Open Market Committee atau FOMC meeting. Agenda itu membuat pelaku pasar cenderung menunggu, karena arah kebijakan moneter berikutnya dapat memengaruhi sentimen di bursa.
Rupiah yang tertekan ikut menambah kehati-hatian
Selain agenda FOMC, tekanan pada rupiah juga menjadi perhatian pelaku pasar. Nilai tukar yang masih tertekan membuat sentimen di awal perdagangan semakin defensif dan membatasi ruang penguatan indeks.
Harga emas dunia yang ikut terkoreksi turut menambah sikap hati-hati investor. Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung menahan posisi sambil mencermati apakah tekanan eksternal akan mereda atau justru berlanjut sepanjang sesi perdagangan.
Dengan mayoritas saham melemah, indeks acuan bergerak kompak di zona merah, dan pasar masih menunggu hasil FOMC, arah IHSG pada sesi awal 30 April 2026 tetap bergantung pada perkembangan sentimen global serta pergerakan rupiah di sepanjang perdagangan.







