Maros Point Tak Lahir Seketika, Jejak Teknologi Toalean Terbentang 40 Ribu Tahun

Author: Redaksi Android62

Maros Point, salah satu penanda penting budaya Toalean, ternyata merupakan hasil perjalanan inovasi yang sangat panjang. Analisis artefak dari Leang Panninge di Kabupaten Maros menunjukkan fondasi teknologi alat batu di Sulawesi Selatan telah berkembang sekitar 40.000 tahun.

Temuan ini mengubah anggapan bahwa ciri khas Toalean muncul secara mendadak sebagai tradisi yang terpisah. Perkakas yang kian kecil dan seragam justru memperlihatkan kesinambungan pengetahuan masyarakat prasejarah dalam mengolah batu.

Perubahan yang Terekam di Satu Situs

Leang Panninge menyimpan lapisan hunian dari rentang sekitar 40.000 hingga 3.500 tahun lalu. Peneliti dari Universitas Hasanuddin, BRIN, Griffith University, dan lembaga arkeologi menelaah artefak batu dari sejumlah lapisan tersebut.

Rentang waktu itu memungkinkan peneliti melihat perubahan strategi produksi perkakas dalam periode yang panjang. Bukti-buktinya juga menghubungkan kegiatan sehari-hari dengan perkembangan budaya di kawasan Maros-Pangkep.

Periode Teknologi yang Ditemukan Arti Penting
Periode awal Serpih batu sederhana dengan sedikit modifikasi Menunjukkan dasar teknologi lokal
Pleistosen Akhir Teknik bipolar untuk mengolah oker Mengaitkan perkakas dengan seni cadas
Sekitar 8.000 tahun lalu dan sesudahnya Maros Point dan teknologi backing Menandai produksi alat yang lebih terorganisasi

Pada tahap paling awal, masyarakat setempat menggunakan serpih batu sederhana secara langsung. Bentuknya belum banyak dimodifikasi, tetapi praktik tersebut menjadi dasar bagi pengembangan teknologi pada masa berikutnya.

Peneliti Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Suryatman, menilai sejarah ini menunjukkan adanya pengalaman lokal yang kuat. “Budaya Toalean tidak muncul dari ruang kosong. Berbagai inovasi yang menjadi ciri khas Toalean berkembang di atas fondasi teknologi lokal yang telah digunakan masyarakat Sulawesi Selatan selama puluhan ribu tahun,” katanya.

Oker Menghubungkan Alat Batu dan Gambar Cadas

Salah satu bukti penting berasal dari penggunaan teknik bipolar pada lapisan Pleistosen Akhir. Teknik tersebut diduga dipakai untuk memproses oker, bahan yang berkaitan dengan pembuatan lukisan cadas.

Peneliti BRIN Adhi Agus Oktaviana menyebut jejak strategi bipolar itu sangat krusial secara arkeologis. Menurutnya, bukti tersebut menghubungkan teknologi alat batu dengan tradisi ekspresi artistik di kawasan Maros-Pangkep.

Pengolahan batu dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan praktis masyarakat prasejarah. Aktivitas itu juga menjadi bagian dari lingkungan budaya yang menghasilkan gambar cadas di Sulawesi Selatan.

Produksi Perkakas yang Kian Terarah

Sekitar 8.000 tahun lalu, Maros Point mulai muncul sebagai salah satu ciri budaya Toalean. Dalam fase setelahnya, alat batu diproduksi dengan ukuran lebih kecil dan bentuk yang lebih seragam.

Teknologi backing turut menandai perubahan tersebut. Kehadirannya menunjukkan inovasi yang berlangsung bertahap, bukan perubahan mendadak yang lepas dari tradisi sebelumnya.

Guru Besar Arkeologi Unhas Prof. Akin Duli menyebut Leang Panninge sebagai salah satu situs prasejarah terpenting di Indonesia. Situs itu juga melengkapi pemahaman tentang sejarah populasi manusia di Sulawesi setelah penemuan Bessé’.

Rekaman dari Leang Panninge memperlihatkan bahwa pengetahuan mengolah batu diwariskan dan dikembangkan dalam jangka panjang. Jejak itu memperkuat hubungan antara Budaya Toalean, pengolahan oker, serta karya gambar cadas di Maros-Pangkep.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru