Terafab Jadi Senjata Baru Elon Musk, Rp 962 Triliun Digarap Demi Lepas dari Chip Global

Author: Redaksi Android62

Terafab diposisikan sebagai upaya paling ambisius Elon Musk untuk mengurangi ketergantungan bisnisnya pada pasokan chip global. Proyek ini disebut akan menelan investasi awal US$ 55 miliar atau setara Rp 962 triliun untuk membangun kemampuan chip mandiri dalam skala besar.

Langkah itu muncul saat krisis chip memori mulai menekan harga perangkat konsumen. Sejumlah raksasa teknologi dan produsen semikonduktor global juga sudah memperingatkan bahwa gangguan pasokan masih bisa berlanjut hingga 2027.

Rencana besar di Texas

Terafab akan dibangun di Texas, Amerika Serikat, sebagai fasilitas manufaktur semikonduktor mutakhir. Dalam rencana awal, proyek ini mencakup dua pabrik chip canggih di Grimes County.

Kedua fasilitas itu disiapkan untuk kebutuhan yang berbeda sesuai dengan ekspansi bisnis Musk yang makin luas. Satu pabrik diprioritaskan untuk memasok chip kendaraan listrik Tesla dan robot humanoid Optimus.

Fasilitas lainnya akan mendukung data center kecerdasan buatan atau AI di luar angkasa. Area ini menjadi salah satu bagian dari ambisi besar Musk dalam pengembangan teknologi masa depan.

Bukan sekadar tempat produksi

Dalam presentasi di Austin, Musk menegaskan bahwa proyek ini bukan inisiatif kecil. Ia menyampaikan pernyataan, “Kita harus membangun Terafab atau kita tidak akan memiliki chip sama sekali.”

Musk menilai ketergantungan industrinya terhadap pasokan global sudah berada pada titik yang tidak aman. Ia juga berpendapat kapasitas produksi chip dunia saat ini hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan bisnisnya.

Menurut Musk, permintaan di masa depan akan melampaui total kapasitas produksi global yang tersedia sekarang. Karena itu, Terafab dirancang bukan hanya sebagai pabrik perakitan, melainkan sebagai fasilitas yang menangani seluruh rantai produksi dari hulu ke hilir.

Dari desain sampai kapasitas raksasa

Salah satu poin penting dari Terafab adalah kemampuan desain arsitektur chip yang dilakukan secara mandiri. Dengan model seperti ini, Musk ingin proyek tersebut berdiri sebagai sistem produksi yang lebih utuh, bukan sekadar tempat merakit komponen.

Musk mengklaim Terafab bisa menghasilkan kapasitas komputasi hingga 1 terawatt per tahun. Angka itu disebut melampaui total produksi Amerika Serikat saat ini yang berada di kisaran setengah terawatt.

Namun, skala ambisi tersebut langsung memunculkan pertanyaan besar. Pasar dan analis menyoroti jarak yang sangat lebar antara dana awal US$ 55 miliar dan biaya riil yang mungkin dibutuhkan untuk mencapai target produksi itu.

Keraguan soal biaya dan realisasi

Bernstein memperkirakan biaya membangun fasilitas berkapasitas satu terawatt dapat membengkak antara US$ 5 triliun hingga US$ 13 triliun. Estimasi itu membuat proyek Terafab terlihat jauh lebih berat daripada angka investasi awal yang diumumkan.

Hingga kini, detail jadwal operasional Terafab juga belum jelas. Keraguan terhadap proyek ini ikut dipengaruhi rekam jejak Musk yang kerap melontarkan rencana visioner, tetapi tidak semuanya berujung mulus.

Meski begitu, perhatian terhadap Terafab tetap besar karena proyek ini menyentuh kebutuhan yang sedang sangat sensitif di industri teknologi. Kelangkaan chip memori sudah mulai terasa dampaknya pada lonjakan harga smartphone dan laptop.

Jika rencana ini benar-benar berjalan, Terafab tidak hanya akan memperkuat rantai pasok untuk Tesla, SpaceX, dan xAI. Proyek ini juga berpotensi mengubah arah persaingan chip di level yang lebih luas, dari kendaraan listrik hingga infrastruktur AI masa depan.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru