Jerome Powell tetap berada di Dewan Gubernur Federal Reserve setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir. Keputusan itu membuat pengaruhnya di bank sentral Amerika Serikat belum benar-benar hilang, meski kursi ketua akan beralih ke Kevin Warsh.
Dengan langkah tersebut, Powell juga masih punya tempat di komite penetapan suku bunga hingga 2028. Di saat tekanan politik terhadap The Fed belum sepenuhnya reda, pilihan ini memberi Powell posisi penting pada salah satu tahap paling sensitif bagi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Tetap memegang peran saat kursi ketua berganti
Keputusan Powell tidak sekadar soal jabatan lanjutan. Ia memilih bertahan di struktur inti The Fed agar tetap terlibat dalam pengambilan keputusan besar, termasuk soal arah suku bunga.
Langkah itu juga menegaskan bahwa pergeseran kursi ketua tidak otomatis mengakhiri peran Powell di bank sentral. Selama masih berada di Dewan Gubernur, ia tetap memiliki pengaruh dalam proses kebijakan yang dijalankan lembaga tersebut.
Menghadapi tekanan politik dan urusan hukum
Powell mengambil sikap itu ketika menutup rapat kebijakan terakhirnya pada Rabu, 29 April 2026. Ia menyatakan ingin mengawal penyelesaian penyelidikan Departemen Kehakiman Amerika Serikat sampai tuntas, sekaligus memastikan proses hukum terkait kesaksiannya di Kongres berjalan transparan.
Bagi Powell, persoalan itu tidak seharusnya dibiarkan menggantung. Ia menempatkan tanggung jawab institusional di atas transisi jabatan, di tengah sorotan publik dan ketegangan dengan pemerintah yang belum mereda sepenuhnya.
Powell juga menegaskan bahwa keputusan bank sentral harus tetap berpihak pada masyarakat yang bergantung pada stabilitas ekonomi. Ia mengatakan memiliki pekerjaan yang telah disumpahkan untuk dijalankan dan memandang tugas itu sebagai tanggung jawab yang harus dituntaskan dengan sadar.
Warisan delapan tahun yang penuh tekanan
Selama delapan tahun memimpin, Powell melewati periode yang menguji arah The Fed berkali-kali. Salah satu momen paling ekstrem muncul saat pandemi global, ketika bank sentral memangkas suku bunga darurat hingga mendekati nol pada Maret 2020.
Setelah fase itu, The Fed berbalik menempuh pengetatan agresif mulai awal 2022. Langkah tersebut diambil untuk menahan inflasi yang sempat melonjak ke level tertinggi dalam 40 tahun, setelah Powell sebelumnya menilai tekanan harga itu hanya bersifat sementara.
Dalam sebuah wawancara program “60 Minutes” pada 2024, Powell menekankan pentingnya integritas dalam memimpin lembaga sebesar The Fed. Ia menyebut integritas sebagai hal yang tak ternilai dan menyatakan bahwa pada akhirnya itulah yang dimiliki seorang pemimpin.
Kebijakan suku bunga masih ditahan
Pada rapat kebijakan terakhirnya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Keputusan itu mencerminkan sikap hati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Powell menyoroti meningkatnya risiko inflasi setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong kenaikan harga energi domestik. Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat menjadi lebih sempit.
Data inflasi Maret 2026 yang mencapai 3,3 persen juga memperkuat alasan kehati-hatian The Fed. Angka itu ikut menutup peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat dan membuat bank sentral tetap memilih sikap menunggu.
Penyelidikan belum dianggap benar-benar selesai
Meski Jaksa AS Jeanine Pirro memberi sinyal bahwa penyelidikan terhadap Powell akan ditutup, ia belum menganggap urusan itu benar-benar berakhir. Powell masih melihat kemungkinan kasus tersebut bisa dibuka kembali di kemudian hari.
Karena itu, tetap duduk di Dewan Gubernur menjadi penting bukan hanya dari sisi kelembagaan, tetapi juga dari sisi hukum dan politik. Di tengah transisi pimpinan dan situasi yang masih sensitif, Powell tetap berada di pusat keputusan Federal Reserve hingga 2028.







