Target menghadirkan motor listrik nasional yang sepenuhnya dibuat di Indonesia masih sulit diwujudkan dalam waktu dekat. Kendala utamanya bukan pada bodi kendaraan atau jalur perakitan, melainkan tiga komponen teknologi tinggi yang belum tersedia dari industri domestik.
Sel baterai untuk roda dua, magnet permanen berbasis tanah jarang, dan semikonduktor daya menjadi bagian yang menentukan. Ketiganya berkaitan langsung dengan penyimpanan energi, penggerak kendaraan, serta pengendalian kerja motor listrik.
Tiga komponen yang belum tersedia
Indonesia belum memiliki produksi sel baterai kendaraan roda dua dalam skala komersial. Produsen karena itu masih perlu memperoleh komponen penyimpan energi tersebut dari pemasok luar negeri.
Hambatan berikutnya berada pada magnet permanen berbasis tanah jarang yang dipakai oleh motor penggerak listrik. Indonesia juga belum memproduksi magnet jenis ini untuk mendukung kebutuhan kendaraan listrik.
Perangkat controller pun belum seluruhnya dapat ditopang industri nasional karena belum ada fasilitas fabrikasi semikonduktor daya di dalam negeri. Padahal, komponen ini merupakan bagian penting dari sistem elektronika daya pada motor listrik.
| Komponen strategis | Fungsi pada motor listrik | Kondisi di Indonesia |
|---|---|---|
| Sel baterai | Menyimpan energi kendaraan roda dua | Belum diproduksi secara komersial |
| Magnet permanen tanah jarang | Mendukung motor penggerak listrik | Belum diproduksi di dalam negeri |
| Semikonduktor daya | Bagian dari controller motor listrik | Belum tersedia fasilitas fabrikasi domestik |
Integrasi lokal tetap menjadi pijakan
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai penguasaan desain dan integrasi kendaraan merupakan target yang lebih realistis. Industri nasional masih dapat memperkuat pembuatan rangka, proses perakitan, penyatuan sistem, dan pengembangan merek.
Pendekatan itu memungkinkan produsen menghadirkan kendaraan jadi yang siap dipakai masyarakat. Namun, kemampuan mengintegrasikan seluruh bagian kendaraan perlu dibedakan dari penguasaan teknologi penuh atas seluruh komponennya.
Menurut Yannes, sebuah motor listrik nasional dapat dirancang dan dirakit secara lokal, meski beberapa bagian inti berasal dari luar negeri. Posisi tersebut tidak menghapus capaian industri dalam negeri, tetapi menentukan ketepatan klaim mengenai tingkat kemandiriannya.
Kepada Kompas.com pada 18 Juli 2026, Yannes menekankan perlunya membaca kondisi industri secara terbuka. “Secara ilmiah kita perlu jujur secara struktural, sebenarnya asli 100 persen tidak tersedia bagi Indonesia dalam jangka pendek, siapa pun produsennya,” ujarnya.
Peran industri komponen
Keterlibatan industri komponen dalam negeri tetap terbuka pada banyak tahapan pengembangan kendaraan. Desain, rangka, perakitan, integrasi sistem, dan merek dapat menjadi ruang penting bagi penguatan kemampuan nasional.
Meski demikian, ketergantungan pada komponen inti impor masih akan membatasi klaim motor listrik murni buatan Indonesia. Pengembangan rantai industri hulu untuk baterai, magnet, dan elektronika daya menjadi faktor penting bagi peningkatan kemandirian pada masa mendatang.
Source: otomotif.kompas.com






