Tiket dan F&B Menguat, Cinema XXI Kantongi Rp1,1 Triliun Di Awal 2026

Tiga bulan pertama 2026 menjadi periode yang sangat kuat bagi Cinema XXI karena tujuh film nasional berhasil menembus satu juta penonton. Capaian itu membuat film lokal tampil sebagai penggerak utama bisnis bioskop terbesar di Indonesia.

Dampaknya terlihat langsung pada kinerja PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk. Perusahaan membukukan pendapatan Rp1,1 triliun pada kuartal I 2026, naik 18,2 persen dibandingkan Rp929,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Momentum tersebut ikut diperkuat oleh libur Lebaran yang mendorong jumlah penonton film nasional. Di saat minat ke bioskop meningkat, karya anak bangsa kembali menunjukkan peran besar dalam menjaga laju bisnis jaringan Cinema XXI.

Film lokal tidak lagi bergantung pada satu judul besar

Perubahan paling menarik justru datang dari sebaran kesuksesan film nasional. Jika setahun sebelumnya hanya ada tiga film yang mampu menembus satu juta penonton di jaringan bioskop tanah air, kini jumlahnya melonjak menjadi tujuh judul dalam waktu tiga bulan.

Kondisi itu menunjukkan bahwa film lokal tidak lagi bertumpu pada satu film unggulan untuk menciptakan lonjakan penonton. Sejumlah film dari berbagai genre mampu sama-sama menarik minat publik dan memperluas basis penonton bioskop.

Direktur Utama Cinema XXI, Suryo Suherman, menilai tren positif industri perfilman lokal mendapat sambutan yang sangat baik. Ia menyebut kepercayaan masyarakat terhadap karya anak bangsa menjadi penggerak utama pertumbuhan bisnis perusahaan.

“Kepercayaan penonton terhadap karya sineas Indonesia adalah energi yang mendorong kami untuk terus menghadirkan pengalaman menonton terbaik,” ujar Suryo melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Kamis, 30 April 2026.

Tiket tetap terbesar, F&B ikut terdorong

Dari sisi operasional, tiket masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi Cinema XXI. Kontribusinya mencapai 60,6 persen atau Rp665,3 miliar, dengan pertumbuhan 14,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Lini makanan dan minuman juga mencatat hasil positif. Pendapatannya mencapai Rp357,6 miliar atau sekitar 32,6 persen dari total pendapatan, naik 15,9 persen.

Kenaikan pada F&B tidak lepas dari perilaku penonton yang datang berkelompok dan menghabiskan waktu lebih lama di area bioskop. Situasi itu membuka ruang belanja tambahan di luar tiket, terutama ketika pengalaman menonton menjadi bagian dari aktivitas sosial.

Di tengah maraknya platform digital, bioskop masih mempertahankan posisinya sebagai ruang hiburan bersama. Efek viral di media sosial juga ikut menjaga daya tarik layar lebar dan membuat kunjungan ke bioskop tetap relevan.

EBITDA ikut menguat seiring kenaikan penonton

Pertumbuhan pendapatan yang ditopang kuat oleh film lokal juga mengangkat EBITDA perusahaan. Pada kuartal I 2026, EBITDA Cinema XXI mencapai Rp226,9 miliar dan melonjak 81,2 persen.

Lonjakan itu memperlihatkan bahwa meningkatnya jumlah penonton tidak hanya mendorong transaksi tiket. Kinerja operasional perusahaan juga ikut terdorong karena kombinasi antara konten lokal yang kuat dan kebiasaan menonton yang kembali ramai.

Dengan kondisi seperti ini, bisnis bioskop mendapat dorongan dari dua arah sekaligus. Jumlah penonton bertambah, sementara belanja di dalam gerai juga ikut naik.

Pencapaian kuartal I 2026 memberi sinyal bahwa pasar bioskop nasional masih sangat dipengaruhi oleh performa film lokal. Jika tren ini terus bertahan, Cinema XXI berpeluang menjaga momentum dari tiket serta makanan dan minuman dalam periode berikutnya.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer