Yordania akhirnya memastikan tempat di Piala Dunia 2026 dan mengubah penantian panjang menjadi kenyataan. Kepastian itu menutup rangkaian sembilan kali upaya yang sebelumnya selalu berakhir di luar turnamen terbesar sepak bola dunia.
Kelolosan ini juga menandai perubahan besar bagi Nashama. Dari tim yang berkali-kali terhenti di jalur kualifikasi, Yordania kini naik kelas menjadi salah satu wakil Asia yang berhasil menembus panggung global.
Jalan yang tidak pernah benar-benar mudah
Perjalanan menuju tiket Piala Dunia tidak datang dari satu momen singkat. Yordania harus melewati proses panjang yang penuh tekanan, termasuk fase-fase kualifikasi yang menuntut konsistensi tinggi.
Salah satu momen paling dekat dengan mimpi itu terjadi saat mereka bersaing untuk Piala Dunia 2014 di Brasil. Pada periode itu, Yordania tampil kuat hingga putaran kelima setelah unggul atas Uzbekistan lewat agregat 2-2 dan memanfaatkan selisih gol.
Langkah mereka kemudian berhenti di play-off antar benua saat berhadapan dengan Uruguay. Yordania takluk 0-5 pada leg pertama dan hanya bermain imbang 0-0 pada leg kedua.
Setelah kegagalan itu, Yordania kembali berjuang di proses kualifikasi berikutnya. Namun, mereka belum juga mampu mengulang kedekatan yang sama dengan tiket Piala Dunia pada edisi 2018 dan 2022.
Perubahan arah di kursi pelatih
Kebangkitan Yordania tidak lepas dari pergantian arah di bangku pelatih. Tim ini sempat mencapai final Piala AFC bersama Hussein Amouta sebelum kemudian memasuki fase baru di bawah Jamal Sellami.
Sellami tiba pada 2024 dengan bekal pengalaman yang cukup kuat. Ia pernah membela Raja Casablanca di Liga Maroko, bermain untuk Besiktas di Liga Turki, dan tampil bersama Timnas Maroko di Piala Dunia 1998.
Rekam jejak kepelatihannya juga menjadi nilai tambah. Sejak 2019, ia sudah mempersembahkan gelar untuk sejumlah klub dan ikut mengantar Maroko menjuarai African Nations Championship 2018.
Kualifikasi yang tetap menuntut ketenangan
Meski performa membaik, perjalanan Yordania di kualifikasi Piala Dunia 2026 tetap jauh dari kata ringan. Mereka harus bersaing ketat dengan Tajikistan dan Arab Saudi pada putaran kedua untuk menjaga peluang tetap terbuka.
Salah satu kemenangan paling penting hadir saat Yordania menundukkan Pakistan 7-0. Hasil besar itu memberi dorongan berarti karena mereka unggul selisih gol atas Arab Saudi dan tetap berada dalam persaingan.
Pada putaran ketiga, stabilitas Yordania semakin terlihat. Tim ini mengoleksi 16 poin dan meraih kemenangan penting 3-0 atas Oman sebelum kelolosan mereka akhirnya dipastikan setelah Irak kalah dari Korea Selatan.
Dampak langsung dari racikan Sellami
Sejak menangani Yordania pada 2024, Sellami hanya mencatat dua kekalahan dalam 12 pertandingan. Dua kekalahan itu terjadi saat melawan Korea Selatan dan Irak, sedangkan laga lainnya memperlihatkan kestabilan yang sangat membantu.
Catatan tersebut menunjukkan perubahan nyata dalam organisasi permainan dan mental bertanding Yordania. Tim ini kini tidak hanya mampu tampil kompetitif di level regional, tetapi juga mulai diperhitungkan sebagai kekuatan Asia dari kawasan Timur Tengah.
Tantangan baru di panggung utama
Meski tiket Piala Dunia 2026 sudah diamankan, tantangan Yordania belum selesai. Mereka akan tampil di Grup J bersama juara bertahan Argentina, Aljazair, dan Austria.
Komposisi grup itu membuat fase awal turnamen terasa berat bagi debutan seperti Yordania. Namun, status baru tersebut juga membawa cerita berbeda bagi Nashama, yang akhirnya tiba di panggung dunia dengan bekal kerja keras, ketekunan, dan perjalanan panjang yang berujung pada hasil yang selama ini mereka kejar.
Source: bola.bisnis.com






