TikTok Uji Pelacak Deepfake, Wajah Kreator Bisa Dicari Saat Dipakai Tanpa Izin

Author: Redaksi Android62

TikTok sedang menguji sistem berbasis AI untuk membantu kreator menemukan video sintetis yang diduga memakai kemiripan wajah mereka tanpa persetujuan. Fitur ini memberi pemilik wajah jalur untuk meninjau temuan dan melaporkan konten yang dianggap melanggar.

Pengujian masih terbatas bagi sekelompok kreator di Amerika Serikat dan belum dibuka untuk seluruh pengguna. Aksesnya bersifat sukarela, sehingga kreator harus mendaftarkan diri sebelum sistem dapat digunakan.

Langkah tersebut muncul ketika video buatan AI semakin realistis dan sulit dibedakan dari rekaman asli melalui pengamatan biasa. Manipulasi wajah dapat dipakai untuk menyebarkan informasi menyesatkan, penipuan, atau konten palsu yang merugikan identitas digital seseorang.

Verifikasi menjadi pintu masuk

Kreator yang ingin mengaktifkan Deteksi Wajah AI TikTok wajib menjalani verifikasi identitas. Mereka diminta mengirimkan swafoto serta memverifikasi dokumen resmi melalui Jumio, layanan verifikasi pihak ketiga.

Proses itu dirancang untuk memastikan bahwa orang yang mendaftarkan wajahnya benar-benar pemilik identitas tersebut. Dengan dasar verifikasi ini, sistem dapat mencari dugaan penggunaan wajah dalam konten AI yang tidak sah.

TikTok menyatakan dokumen identitas yang diunggah tidak disimpan selama proses verifikasi. Data wajah yang dikumpulkan disebut hanya digunakan untuk pencocokan kemiripan dan identifikasi potensi penyalahgunaan dalam konten buatan AI.

Platform Fungsi teknologi Akses dan proses
TikTok Mencari dugaan penggunaan wajah kreator dalam konten AI tanpa izin Uji terbatas di Amerika Serikat, perlu pendaftaran dan verifikasi identitas
YouTube Mendeteksi wajah sintetis atau manipulasi AI dalam video Untuk kreator yang memenuhi syarat, minimal berusia 18 tahun dan perlu verifikasi identitas

Bukan hanya TikTok

Perlindungan atas kemiripan wajah juga dikembangkan oleh YouTube melalui Likeness Detection YouTube. Teknologi ini telah diperluas kepada kreator yang memenuhi persyaratan dan berusia minimal 18 tahun.

Pemilik identitas dapat menggunakan sistem YouTube untuk menemukan video yang menampilkan wajah sintetis atau hasil manipulasi AI. Jika dinilai melanggar pedoman privasi, kreator dapat mengajukan permintaan penghapusan.

Pendekatan YouTube kerap disandingkan dengan Content ID, tetapi sasaran keduanya berbeda. Content ID mengenali materi berhak cipta, sedangkan sistem pendeteksian kemiripan wajah berfokus pada simulasi identitas berbasis AI.

Menurut laporan Medcom yang mengutip The Verge, pengujian TikTok berlangsung saat platform besar memperkuat perlindungan dari pemalsuan identitas digital. Persaingan antarlayanan kini tidak hanya menyangkut alat kreatif AI, melainkan juga pengamanan terhadap penyalahgunaannya.

Temuan belum berarti penghapusan otomatis

Sistem TikTok membantu kreator menemukan dugaan konten bermasalah, bukan langsung menghapus video yang terdeteksi. Kreator tetap perlu meninjau hasilnya lalu mengirimkan laporan agar TikTok memprosesnya sesuai kebijakan platform.

Belum ada jadwal perluasan pengujian maupun daftar negara lain yang akan menerima fitur tersebut. Hasil uji terbatas ini akan menjadi dasar evaluasi sebelum TikTok mempertimbangkan akses yang lebih luas.

Keberadaan alat semacam ini semakin relevan seiring Deepfake dan video AI menjadi lebih meyakinkan. Bagi kreator, pendeteksian kemiripan wajah dapat menjadi peringatan awal ketika identitas digital mereka berpotensi disalahgunakan.

Berita Terbaru