Tirzepatide Masuk Indonesia, Terapi Baru Ini Menyasar Diabetes dan Obesitas Sekaligus

Kehadiran tirzepatide di Indonesia membuka pilihan baru untuk menangani diabetes melitus tipe 2 dan obesitas, dua penyakit metabolik yang sama-sama terus meningkat. Terapi ini menarik perhatian karena dirancang menyasar dua masalah kesehatan sekaligus, bukan hanya kadar gula darah.

Dalam praktik klinis, pendekatan seperti ini dinilai penting karena diabetes dan obesitas saling berkaitan erat. Beban keduanya juga memperbesar risiko komplikasi serius, termasuk penyakit kardiovaskular dan penyakit ginjal kronis.

Mekanisme ganda yang membedakan tirzepatide

Tirzepatide bekerja sebagai peptida sintetis yang meniru dua hormon alami tubuh, yakni GLP-1 dan GIP. Kedua hormon ini diproduksi di usus dan berikatan dengan reseptor tertentu di tubuh, termasuk pankreas dan otak.

Sebagai dual receptor agonist, tirzepatide membantu meningkatkan sekresi insulin, menekan hormon glukagon, meningkatkan sensitivitas insulin, dan memperlambat pengosongan lambung. Mekanisme ganda ini membuatnya dipandang lebih komprehensif untuk pengelolaan diabetes dan obesitas.

Data beban penyakit di Indonesia tetap tinggi

International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025 memperkirakan ada 20,4 juta orang dewasa usia 20–79 tahun yang hidup dengan diabetes di Indonesia. Angka itu diproyeksikan naik menjadi 28,6 juta pada 2050.

Di sisi lain, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa Indonesia sudah mencapai 23,4 persen. Data ini menunjukkan obesitas masih menjadi persoalan besar karena berdampak pada metabolisme dan berbagai risiko penyakit lain.

Hadir lewat kolaborasi regulasi dan akses

PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), perusahaan Zuellig Pharma, mengumumkan kehadiran tirzepatide di Indonesia. Presiden Direktur APL, Christophe Piganiol, menyebut langkah ini penting untuk memperluas akses pasien terhadap terapi yang tepat dan inovatif.

APL menyampaikan bahwa kehadiran obat ini terwujud melalui kolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia atau BPOM. Perusahaan juga mengapresiasi proses persetujuan izin edar yang disebut berlangsung dalam 98 hari kerja, serta persetujuan indikasi manajemen berat badan kronis hanya dalam 42 hari kerja melalui jalur reliance.

AspekDataKeterangan
Estimasi diabetes di Indonesia20,4 juta orangUsia 20–79 tahun pada 2025
Proyeksi diabetes di Indonesia28,6 juta orangDiperkirakan pada 2050
Prevalensi obesitas dewasa23,4 persenBerdasarkan SKI 2023
Persetujuan izin edar98 hari kerjaMelalui evaluasi BPOM
Persetujuan indikasi manajemen berat badan kronis42 hari kerjaMelalui jalur reliance

BPOM menegaskan evaluasi tetap ketat

BPOM menerapkan jalur percepatan sejak 1 Agustus 2025 untuk perusahaan yang memiliki berkas dokumen lengkap dan telah disetujui di negara referensi. Mekanisme ini dirancang agar persetujuan dapat diproses dalam waktu sekitar 90 hari kerja.

Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa setiap obat yang mendapat izin edar tetap melalui evaluasi ilmiah ketat. Ia menekankan komitmen BPOM untuk membangun ekosistem regulasi yang adaptif tanpa mengabaikan standar keamanan pasien.

Respons komunitas medis

Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD-KEMD, Ketua Umum PERKENI, menyebut berbagai studi klinis menunjukkan tirzepatide dapat memberikan kontrol glikemik yang signifikan sekaligus penurunan berat badan yang berarti pada pasien diabetes melitus tipe 2. Menurutnya, terapi ini memperluas pilihan pengobatan dan membantu dokter mempersonalisasi terapi sesuai karakteristik klinis pasien.

Dari sisi klinis, obat ini dinilai relevan untuk penyakit metabolik yang kompleks karena tidak hanya menyasar kadar gula darah. Tirzepatide juga berkaitan dengan nafsu makan, keseimbangan energi, dan sensitivitas insulin yang sering menjadi tantangan dalam penanganan obesitas dan diabetes.

Implikasi bagi penanganan penyakit metabolik

Di Indonesia, diabetes dan obesitas masih menjadi beban kesehatan masyarakat yang terus meningkat. Karena keduanya saling berhubungan, penanganan yang efektif membutuhkan terapi yang juga menyentuh faktor metabolik yang mendasarinya.

Kolaborasi antara regulator, organisasi profesi medis, industri, dan tenaga kesehatan menjadi penting untuk memperkuat respons terhadap penyakit metabolik. Di saat yang sama, pemahaman masyarakat mengenai pentingnya akses terhadap terapi yang tepat ikut menentukan upaya peningkatan kualitas hidup pasien dan penguatan sistem kesehatan nasional.

Source: www.medcom.id
Berita Terkait