Pembangunan akses Bokoharjo di Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo terus dipercepat untuk memperkuat koneksi menuju kawasan Ratu Boko di Sleman. Ruas baru ini juga disiapkan agar arus kendaraan di sekitar Prambanan lebih lancar, terutama saat periode libur panjang ketika jalur Yogyakarta-Solo kerap padat.
Akses sepanjang 1,95 kilometer itu menghubungkan Gerbang Tol Purwomartani ke Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan. Jalur ini dibuat agar perjalanan ke kawasan wisata budaya Ratu Boko dan wilayah sekitarnya menjadi lebih langsung dari jaringan tol yang sudah ada.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan jalan tol memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar sarana perpindahan kendaraan. Ia mengatakan infrastruktur jalan tol ikut menopang fondasi ekonomi nasional, sehingga proyek seperti akses Bokoharjo dipandang penting dalam skala yang lebih besar.
“Pembangunan jalan tol selalu memiliki arti strategis, tidak hanya bagi infrastruktur fisik, tetapi juga bagi penguatan fondasi ekonomi nasional,” kata Dody dalam keterangan tertulis. Pernyataan itu menempatkan akses Bokoharjo bukan hanya sebagai pelengkap menuju destinasi wisata, tetapi juga sebagai bagian dari konektivitas kawasan budaya dan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Fokus mengurai titik padat di jalur Yogyakarta-Solo
Salah satu tujuan utama pembangunan ini adalah meredam kepadatan lalu lintas di jalur nasional Yogyakarta-Solo. Tekanan di ruas tersebut biasanya meningkat ketika arus wisata dan perjalanan antarkota berlangsung bersamaan, terutama pada masa libur panjang.
Dengan adanya akses baru, distribusi kendaraan dari dan menuju kawasan Prambanan diharapkan menjadi lebih tertata. Kondisi ini penting karena wilayah tersebut kerap menjadi titik temu antara mobilitas wisata, perjalanan harian, dan lalu lintas antarkota.
Pemerintah menargetkan akses Bokoharjo sudah bisa difungsionalkan untuk kendaraan pada masa libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Jalur ini juga disiapkan untuk mendukung kelancaran arus mudik Lebaran pada 2027.
Pekerjaan teknis masih berjalan
Meski percepatan terus dilakukan, beberapa pekerjaan lapangan masih harus diselesaikan. Pembuatan U-turn diperkirakan memerlukan waktu hingga tujuh bulan, sementara pengerjaan perlintasan rel kereta api masih membutuhkan waktu lebih panjang.
Kementerian Pekerjaan Umum juga perlu berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia karena perlintasan rel itu diproyeksikan dikerjakan selama 10 bulan. Koordinasi tersebut penting agar pekerjaan tetap aman dan tidak mengganggu operasional transportasi lain di sekitar lokasi.
Data per 15 April 2026 menunjukkan progres pembangunan tol segmen Prambanan-Purwomartani sudah mencapai 94,8 persen. Di sisi lain, pembebasan lahan telah mencapai 90 persen dan ditargetkan selesai seluruhnya pada Agustus 2026.
Tetap menjaga Ratu Boko dan kawasan sekitarnya
Percepatan proyek ini tetap berjalan dengan perhatian khusus pada Situs Keraton Ratu Boko yang memiliki nilai sejarah penting. Kementerian PU menegaskan bahwa kelestarian cagar budaya tidak boleh tergeser oleh kebutuhan konektivitas modern.
Karena akses baru berada dekat kawasan warisan budaya, pembangunan dilakukan dengan pendekatan hati-hati. Pemerintah berupaya menjaga agar manfaat infrastruktur bisa dirasakan tanpa mengorbankan nilai sejarah kawasan tersebut.
Sementara itu, Jalan Tol Solo-Yogyakarta-NYIA Kulonprogo sudah mengoperasikan ruas sepanjang 22,3 kilometer yang menghubungkan Gerbang Tol Colomadu sampai Klaten. Kehadiran akses Bokoharjo nantinya diharapkan memperluas manfaat tol ke wilayah yang lebih dekat dengan destinasi wisata dan budaya di Prambanan.







