Tombol Fisik BlackBerry Kembali Dicari, Banyak Pengguna Ingin Ponsel yang Lebih Fokus

Pasar smartphone yang dulu tampak sudah meninggalkan keyboard fisik ternyata masih menyisakan ruang. Di tengah perangkat layar sentuh yang makin seragam, tombol nyata justru kembali dipilih sebagian pengguna sebagai cara memakai ponsel dengan lebih terarah dan lebih sedikit memicu distraksi.

Minat itu juga berkaitan dengan upaya menekan screentime. Bagi sebagian orang, keyboard fisik membantu mereka mengurangi kebiasaan doomscrolling, lebih cepat menuju pesan utama, dan membuat waktu di ponsel terasa lebih berguna.

Dari nostalgia ke kebiasaan baru

Kembalinya perhatian pada keyboard fisik tidak hanya datang dari mereka yang ingin bernostalgia. Jeff Gadway, salah satu pendiri sekaligus Chief Marketing Officer Clicks Technology, mengatakan banyak pembeli perangkat berkeyboard tidak melihatnya sebagai barang kenangan semata.

Dari basis pelanggan mereka, sekitar 45% bahkan belum pernah memakai ponsel dengan keyboard fisik. Bagi kelompok ini, perangkat tersebut justru menjadi cara berbeda untuk menggunakan ponsel tanpa terlalu mudah terdorong membuka aplikasi lain.

Pola itu juga sejalan dengan pandangan profesor komunikasi Nanyang Technological University di Singapura, Jung Younbo. Ia menilai ponsel bergerak seperti tren mode yang datang dan pergi secara siklus, sehingga minat pada keyboard fisik bisa muncul kembali meski layar sentuh sudah lama menjadi standar.

Pengalaman yang lebih singkat di layar

Sejumlah pengguna merasakan perubahan nyata setelah beralih ke ponsel berkeyboard fisik. Kreator konten berusia 23 tahun, Chonnie Alfonso, mengaku waktu menatap layar berkurang dan kebiasaan doomscrolling menjadi lebih mudah dikendalikan.

Alfonso juga menilai perangkat seperti itu membantunya lebih sedikit menghabiskan waktu di media sosial. Baginya, interaksi dengan ponsel terasa lebih singkat dan lebih terarah, sehingga jadwal harian lebih mudah diatur.

Fungsi inti yang sengaja ditonjolkan

Clicks Technology merancang perangkatnya agar pengguna tetap fokus pada pesan dan fungsi utama. Aplikasi pesan ditempatkan di layar beranda supaya orang yang membuka ponsel tidak langsung terseret ke banyak aplikasi lain.

Perangkat ini juga membawa kembali beberapa fitur yang dulu akrab di ponsel lama. Clicks menawarkan keyboard dalam berbagai bahasa, penutup belakang yang bisa diganti, slot kartu memori tambahan, dan jack headphone 3,5 mm.

Bagi sebagian pengguna audio, pilihan itu tetap relevan. Wei Lun menilai headphone berkabel lebih stabil saat baterai hampir habis dan lebih nyaman dipakai, selain kecil kemungkinan hilang dibanding earbud nirkabel.

Dari sisi biaya, perbedaannya juga terasa lebar. Model termurah AirPods Apple dibanderol US$129, sedangkan headphone berkabel Apple dijual US$19.

Ada juga soal aksesibilitas

Keyboard fisik bukan hanya soal gaya pakai yang berbeda. Jeff Gadway menyebut perangkat seperti ini juga bisa membantu pengguna dengan gangguan penglihatan atau kendala kontrol motorik karena mengetik lewat tombol fisik dapat terasa lebih mudah dibanding layar sentuh.

Kebutuhan itu ikut membuka ruang bagi segmen yang selama ini dianggap kecil. Makin banyak pemain mulai masuk, meski pasar utamanya tetap jauh lebih besar di perangkat layar sentuh.

Ceruk kecil yang kembali bergerak

Tahun ini, Zinwa Technologies dan iKKO ikut meluncurkan smartphone berkeyboard mereka sendiri. Keduanya bergabung dengan Clicks dan Unihertz di pasar yang dulu sempat dianggap nyaris mati.

Respons pembeli menunjukkan masih ada permintaan yang cukup kuat. Kampanye Kickstarter Unihertz untuk generasi kedua ponsel Titan menarik lebih dari 8.200 pendukung dan mengumpulkan lebih dari US$4,8 juta per 8 Mei, menjelang penutupan kampanye pada 13 Mei.

Clicks juga mengklaim telah melampaui target pemesanan awal enam bulan dalam 30 hari. Capaian itu menandakan perangkat berkeyboard fisik masih punya tempat di tengah smartphone modern yang seragam.

Namun, ceruk ini tetap menghadapi tekanan biaya. Lonjakan permintaan infrastruktur kecerdasan buatan membebani pasokan memori dan membuat komponen makin mahal, sampai Unihertz baru-baru ini menaikkan harga Titan 2 karena biaya memori yang lebih tinggi.

Clicks memilih tetap mempertahankan harga dan menanggung tekanan biaya tersebut. Perusahaan itu masih mengandalkan minat pengguna yang ingin ponsel lebih fokus dan tidak terlalu memancing untuk terus membuka layar.

Source: www.cnbcindonesia.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer