Toyota Raize menjadi motor terbesar dalam pengiriman Daihatsu ke luar negeri, dengan porsi 40 persen dari total unit yang dikirim hingga April. Di saat pasar domestik belum benar-benar stabil, capaian ekspor ini kembali menegaskan peran pasar luar negeri sebagai penopang penting bagi pabrikan berlogo D tersebut.
Daihatsu mencatat total pengiriman 159.662 unit selama Januari sampai April 2026. Dari jumlah itu, Jepang muncul sebagai salah satu tujuan utama, dengan 42.205 unit mobil Daihatsu terkirim ke negara tersebut hingga April.
Komposisi ekspor masih sangat beragam
Di belakang Toyota Raize, Wigo ikut memberi kontribusi besar dengan porsi 25 persen. Lalu ada Lite/Town Ace yang menyumbang 18 persen dalam total pengiriman.
Susunan ini menunjukkan bahwa ekspor Daihatsu tidak hanya bertumpu pada model bermerek sendiri. Pabrikan ini juga menjalankan kerja sama produksi dengan Toyota, dan hubungan produksi itu sudah berlangsung lama.
Dalam praktiknya, Daihatsu kerap menjadi perakit utama untuk model Toyota. Namun, pada situasi tertentu, Toyota juga merakit mobil Daihatsu, sehingga alur produksinya berjalan saling terkait.
Gran Max dan kendaraan niaga tetap kuat
Selain model penumpang, kendaraan niaga masih menjadi bagian penting dalam ekspor Daihatsu. Gran Max terus dikirim ke luar negeri dan tetap bergerak lancar sampai sekarang.
Model ini pernah bermasalah di Jepang karena tidak memenuhi standar setempat. Setelah itu, unitnya ditarik untuk diperbaiki agar bisa dievaluasi kembali sesuai standar keselamatan di negara tersebut.
Sesudah proses tersebut, tidak ada laporan masalah lanjutan untuk mobil niaga itu. Ekspornya tetap stabil dan ikut memperkuat pengiriman Daihatsu ke luar negeri.
Di jalur yang sama, Mazda Bongo juga tercatat ikut hadir sebagai model kembaran yang dirakit lokal di Indonesia. Model itu sudah lama ada di pasar asalnya dan masuk dalam alur ekspor yang sama.
Jepang tetap menjadi pasar penting
Selain Jepang, Daihatsu juga mengirim unit ke kawasan lain seperti Asia, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Meski begitu, pasar Jepang tetap menempati posisi penting dalam total ekspor perusahaan.
Di pasar tersebut, model seperti Rush juga banyak dikirim. Namun, kontribusi pasti model low SUV itu terhadap total ekspor ke Jepang belum dijelaskan.
Disebutkan pula bahwa sekitar 20 persen dari beberapa model Daihatsu berhasil masuk ke pasar Jepang. Angka itu memperlihatkan bahwa negara tersebut masih menjadi tujuan yang berarti bagi ekspor pabrikan ini.
Lini entry level masih menjaga daya saing
Daihatsu selama ini dikenal sebagai merek mobil entry level, sehingga produknya punya pasar luas di berbagai negara. Di tengah persaingan, model seperti Sigra, Terios, Xenia, dan Rocky tetap diandalkan di segmennya masing-masing.
Meski Avanza kini dirakit Toyota, Daihatsu masih memiliki lini produknya sendiri yang diproduksi lokal. Kondisi itu membuat portofolio mereka tetap kuat untuk pasar dalam negeri sekaligus ekspor.
Di Indonesia, penjualan Daihatsu masih berada di posisi kedua pasar mobil hingga bulan lalu, tepat di bawah Toyota. Kedekatan kedua merek itu terlihat jelas, baik dari sisi penjualan maupun produksi, sementara ekspor tetap menjadi tumpuan besar bagi kinerja Daihatsu saat ini.
